Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Keluarga Literat, Indonesia Hebat

Oleh: I Kadek Darsika Aryanta*

06 September 2019, 20: 17: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Keluarga Literat, Indonesia Hebat

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

PERUBAHAN paradigma dalam masyarakat menyebabkan disrupsi pola berkehidupan di dalam keluarga. Perkembangan gawai yang cepat dan informasi yang semakin mudah diakses, menyebabkan pola interaksi sosial di keluarga menjadi lebih sempit. Pola ini dapat menyebabkan runtuhnya literasi yang kolektif di dalam keluarga. Jika hal ini terus dibiarkan, maka dikhawatirkan pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara akan menajdi semakin rapuh.

Arus informasi yang terjadi tidak dapat dibendung sepenuhnya oleh pemerintah. Informasi yang besar diperlukan filter yang efektif, sehingga masyarakat ataupun keluarga bisa membendung informasi yang tidak baik. Keluarga merupakan benteng terakhir filter arus informasi yang ampuh, untuk menekan informasi yang salah, dan juga pusat sumber edukasi bagi anggota keluarganya

Pendidikan keluarga yang sehat dapat diwujudkan dengan cara memberikan literasi yang kuat kepada keluarga, sehingga di setiap insan keluarga mempunyai pandangan yang baik dan tidak mudah untuk terkena hoax. Keluarga yang literat, diharapkan akan menjadi suatu bola salju yang terus membesar, yang akan menjadikan masyarakat yang literat. Masyarakat yang teredukasi dengan baik dengan adanya arus informasi yang benar, diharapkan mampu meningkatkan pemahaman yang baik kepada masyarakat, sehingga masyarakat Indonesia bisa menjadi lebih hebat.

Strategi peningkatan keluarga yang literat dapat dilakukan dengan cara memberikan edukasi yang baik kepada seluruh orang tua. Sekolah bisa dijadikan sebagai centre of excellent dari pendidikan, dengan cara memberikan edukasi yang tepat kepada keluarga siswa. Sebagai pusat pelayanan literasi di dalam keluarga, sekolah dapat melakukan kegiatan menghadirkan orang tua dalam pertemuan dengan wali kelas pada hari pertama masuk sekolah, mengikuti pertemuan dengan wali kelas minimal dua kali dalam satu semester. Selain itu, orang tua juga bisa dihadirkan dalam kegiatan kelas berbagi, sehingga bisa menjadikan inspirasi bagi anak-anak dalam kelas.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menumbuhkan literasi keluarga yang hebat, adalah dengan cara memberikan pengalaman yang lebih, dan juga meluangkan waktu yang lebih di dalam keluarga. Seperti budaya membaca di saat jam keluarga atau orang tua dapat menjadi pembimbing anak-anaknya dalam belajar. Selain kegiatan di dalam rumah, kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak keluarga berekreasi ke toko buku secara regular. Afirmasi ini penting untuk memperkenalkan budaya baca anggota keluarga sejak dini.

Keluarga yang literat dimulai dari orang tua yang melek media. Orang tua diharapkan mampu untuk memahami, memilah dan memilih informasi yang baik dari media. Informasi ini akan data digunakan oleh orang tua untuk melindungi anaknya dari berbagai macam arus informasi yang didapat dari media. Selain itu, orang tua yang melek media tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk, yang merusak dirinya. Agar orang tua bisa melek terhadap media, maka dapat dilakukan dengan memberikan edukasi yang baik kepada orang tua melalui pemerintah, sehingga keluarga menjadi lebih literat.

Peranan keluarga yang literat di era digital ini harus lebih dimaksimalkan lagi. Era digital adalah masa ketika informasi mudah dan cepat diperoleh serta disebarluaskan menggunakan teknologi digital. Fungsi kontrol orang tua dalam mendidik anak di era digital sangatlah penting. Jangan sampai nanti orang tua juga ikut-ikutan terpancing untuk menyebarkan berita-berita yang tidak jelas sumbernya. Orang tua yang literat di era digital akan memberikan perlindungan yang efektif bagi keluarga itu sendiri.

Keluarga literat di era digital dapat dilakukan dengan mengatur jam dan program TV yang ditonton, serta penggunaan gawai dan internet. Membuat kesepakatan dengan anak jumlah jam dan program TV yang bisa ditonton, juga bisa dilakukan sebagai alternatif untuk membuat anak menjadi tidak ketergantungan terhadap gawai. Selain itu, menempatkan TV dan komputer/laptop di ruang keluarga, bisa dilakukan untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan bagi seluruh anggota keluarga. Orang tua juga dapat menjadi teman di media sosial yang anak kita miliki, seperti facebook dan twitter. Fungsi kontrol ini untuk mengetahui bagaimana anak kita berinteraksi dengan teman di dunia maya. Orang tua dapat mengingatkan anak, agar tidak sembarangan memasang informasi pribadi, seperti foto diri, foto keluarga, alamat rumah, dan nomor telepon di internet. Langkah yang terpenting, adalah terus mendorong anak untuk memanfaatkan internet sebagai media belajar.

Literasi keluarga yang lain juga dapat dilakukan dengan pola pendampingan anak dalam belajar di keluarga. Menemani anak belajar akan memberikan psikomoral siswa untuk terus berkembang. Menemani anak belajar akan memberikan ruang komunikasi yang lebih longgar kepada anak, serta terjadi pertukaran arus informasi pengetahuan yang sangat positif antara orang tua dan anak. Dimensi kekakuan dalam belajar, akan dapat diminimalkan dalam kegiatan ini. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi pembentukan pribadi dan karakter setiap individu. Orang tua memegang peran penting dan strategis dalam mengantarkan pendidikan bagi putra-putrinya. Keberhasilan orang tua dalam mendidik akan sangat tergantung pada kecakapan dan pola asuh yang dimilikinya. Dengan keluarga yang literat, bisa membuat Indonesia menjadi lebih hebat!!! semoga. (*)

 

*) Penulis adalah Guru Fisika, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMAN Bali Mandara

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia