Selasa, 17 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Kisah Batu Bersuara di Pura Gede Luhur Batu Ngaus

07 September 2019, 09: 17: 28 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Batu Bersuara di Pura Gede Luhur Batu Ngaus

GAIB : Batu karang yang ada di pantai diyakini jadi tempat khusus sosok gaib, karena kerap didengar suara suara aneh datang dari batu karang tersebut. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MENGWI - Pura  Gede Luhur Batu Ngaus yang berlokasi di sebuah tanjung di Pantai Mengening, Desa Cemagi, Mengwi, Kabupaten Badung, ini, sekilas mirip dengan Pura Tanah Lot.  Pura Kahyangan Jagat ini muasalnya   berdiri dari sebuah batu. 

Keberadaan Pura  Gede Luhur Batu Ngaus konon berawal dari pawisik (petunjuk gaib) yang diterima seorang warga yang dahulu tinggal di sekitar pura. Pawisik yang diterima adalah memberitahukan bahwa ada  Ida Bathara yang malinggih (berstana) di area pantai. 

Kisah Batu Bersuara di Pura  Gede Luhur Batu Ngaus

DEWI : Pura Gede Luhur Batu Ngaus dipercaya sebagai stana Dewi Kemakmuran. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Pemangku Pura Gede Luhur Batu Ngaus, Jro Mangku I Putu Gede Arsa Pradnyana kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin mengatakan, 
karena wilayah Pura Gede Luhur Batu Ngaus masuk wilayah Kerajaan Kaba Kaba pada masa lampau, maka menghadaplah warga penerima pawisik itu ke istana Kerajaan Kaba-Kaba. 

Di istana itu, si penerima pawisik memberitahukan kepada penguasa Kerajaan Kaba-Kaba kala itu, untuk tangkil (datang) ke tempat Pura Kahyangan Jagat ini berdiri sekarang. Sang penguasa pun berangkat menuju ke lokasi. Sebelum sampai tujuan, beliau  pergi ke Griya Sidemen Pemaron untuk memohon doa restu. Usai mendapatkan restu maka dilanjutkanlah perjalanannya. 


Sesampai di tujuan, beliau akhirnya tahu bahwa batu yang terdapat di tengah laut itu merupakan stana Dewi Kemakmuran yang berkaitan dengan Ida Bathari Danu. Beliau pun juga menjaga wilayah pesisir pantai. “Dari situlah akhirnya batu di tengah laut itu mendapat perhatian,” terang pemangku yang sudah empat tahun membantu ayahnya menjadi pemangku pura.


Seiring waktu, saat Kerajaan Mengwi berhasil mengalahkan Kaba-Kaba, maka wilayah batu tempat stana Dewi Kemakmuran ini menjadi wilayah kekuasaan Mengwi. Saat itu Mengwi juga mulai membangun Pura Taman Ayun, dan juga direncanakan dibangun pangayat untuk Dewi Kemakmuran. Namun, ternyata didapat pesan bahwa Dewi Kemakmuran sudah berstana di tepi pantai.


Raja Mengwi lantas meminta ajudan untuk mencari posisi stana Ida Bathari Danu di pantai. Hasil pencarian didapat bahwa di Desa Semenur (area Pura Gede Luhur Batu Ngaus sekarang) ada stananya. Batu di laut itu didengar suara ngaus dari suara ombak yang menghantam karang. "Ketika utusan Raja Mengwi ke lokasi, maka didengar suara ngaus yang akhirnya dinamai menjadi Batu Mengaus,” ujar pemangku yang sudah dikarunia dua anak ini. Ajudan para abdi Raja Mengwi ini kemudian melaporkan pada raja posisi stana Dewi Kemakmuran. Sekitar tahun 1643, maka mulailah dibangun Pura Gede Luhur Batu Ngaus. Perjalanan menuju pura kala itu tidaklah semudah saat ini, sehingga warga sangat susah untuk bersembahyang. Akhirnya dibangunlah pesimpangan Ida Bathara Batu Ngaus di Desa Cemagi. Selain pasimpangan Ida, lanjutnya,  juga dibuat Pura Penataran untuk Pura Gede Luhur Batu Ngaus yang juga berlokasi di Desa Cemagi. 


Adapun pura yang melambangkan kemakmuran ini memiliki beberapa palinggih, yakni Padma Utama, Palinggih Ida Bathari Danu, Sumur Pakelem, dan Ida Ratu Ngurah Sakti. Sebagai Pura Kahyangan Jagat, pura ini juga memiliki Titi Mamah sebagai tempat memuja Nyi Roro Kidul dan ada juga pasimpangan Dalem Ped.


Keunikan pura yang memiliki piodalan setiap Purnama Jiyestha ini adalah adanya gua yang terhubung dari sisi kanan dan kiri batu karang di bawah pura. Lubang ini tidak bisa terlihat ketika ombak besar, namun saat sore hari akan terlihat. 


Jro Mangku I Putu Gede Arsa Pradnyana mengatakan, ketika berdiri di atas pura, akan  merasakan seperti ada deburan ombak di bawah kaki berpijak. 


Karena memiliki tiga pura, pura yang memiliki banyak batu karang besar di sekitarnya ini, pada saat piodalan hanya satu hari saja dilakukan di pura luhur (pura yang ada di pantai), sedang nyejer tiga harinya dilakukan di Penataran. “Setelah selesai piodalan di Pura Luhurnya, maka dilanjutkan ke pasimpangan dan penataran,” terangnya. 
Sebagai pura yang diyakini memberikan kemakmuran, Pura Gede Luhur Batu Ngaus ini dilaksanakan pakelem dari pemerintah Kabupaten Badung dan juga dari Puri Kaba-Kaba. "Pakelem dilaksanakan saat Purnama Sasih Sada, yang  dilakukan  Puri Kaba-Kaba setiap  10 tahun. Sarana pakelem dari Puri Kaba Kaba cukup unik, yakni kerbau bertanduk emas," urainya.


Ditambahkan Jro Mangku I Putu Gede Arsa Pradnyana, bahwa karang di sekitar pura ada mistisnya. Konon, karang besar di sebelah timur pura adalah Batu Peken, karena kerap ketika warga  makemit didengar ramai orang bertransaksi jualan yang suaranya datang dari lokasi karang sekitar pura. Bahkan, Batu Peken kerap mengeluarkan asap. Selain itu,lanjutnya, ada duwe (sosok binatang gaib yang dikeramatkan)  berupa ular dengan ekor sirip ikan. " si kawasan batu juga menjadi tempat malukat. Jika ingin malukat, dan kebetulan saya tidak ada, bisa  menanyakan langsung kepada Ibu Suryati yang berdagang di dekat pintu masuk," sarannya 


Banyak wisatawan berkunjung karena kawasannya juga menarik, pantainya bersih.
"Penataan yang bagus membuat Pura Gede Luhur Batu Ngaus menjadi destinasi  wisatawan, di samping juga ingin  menikmati sunset yang indah," pungkasnya. (agus sueca)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia