Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Mengungkap Dalang Kerusuhan untuk Papua yang Damai dalam Pangkuan NKRI

Oleh: Karya Yuda pratama*

07 September 2019, 20: 07: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mengungkap Dalang Kerusuhan untuk Papua yang Damai dalam Pangkuan NKRI

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

CERITA ini diawali dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ketika terdapat sebuah bendera merah putih yang dibuang diparit dekat asrama Papua membuat beberapa orang atau ormas mengeluarkan kata-kata-kata rasis . Hal ini berbuntut panjang tanggal 28 Oktober 2019 Ribuan warga di Kota Jayapura, Papua, menggelar unjuk rasa, menyikapi dugaan tindakan rasial. Akibatnya banyak kantor-kantor dan berbagai infrastruktur yang rusak.

Kerusuhan Papua tidak hanya terjadi kali ini namun sudah terjadi beberapa kali ini. Seperti yang diketahui bahwa setiap kerusahan pasti selalu ada provokator atau dalang dibalik semua itu tidak terkecual pada kerusuhan di Papua. Kalau kita berpikir bahwa kerusuhan di Papua hanya karena masalah rasisme hal ini sangatlah keliru. Faktanya banyak pihak baik lokal maupun asing yang memprovokasi menginginkan Papua lepas dari NKRI.

                Dilansir oleh Detik.com, Kapolri Jenderal Tito karnavian membeberkan aktor lokal ULVMPP (United Liberation Movement For West Papua) dan KNPB (Komite National Papua Barat) serta Benny Wenda sebagai dalang rusuh di Papua hingga Papua Barat. Dia menegaskan akan menegakkan hukum terhadap para aktor pembuat rusuh ini.

                “Saya sudah turunkan tim dari Mabes Polri, Propam kerja sama dengan Komnas HAM agar dapat keterngan betul-betul tentang peristiwa yang terjadi. Saya minta masyarakat jangan terpengaruh isu-isu versi yang dikemas oleh berbagai pihak dalam rangka membuat Papua lebih kisruh, memanaskan yang lain, provoksi yang lain,”kata Tito saat konferensi pers RS Bhayangkara Papua, Abepura, Papua, kamis (5/9/2019)

                Ternyata memang sebuah fakta bahwa isu rasis di Surabaya dimanfaatkan oleh oknum tertentu yang menginnginkan Papua lepas dari NKRI. Tidak hanya beberapa kelompok tapi juga pebisnis juga bermain dalam kerusuhan di Papua seperti yang diketahui bahwa salah satu perusahaan besar Amerika yakni Freeport sudah lama menancapkan kukunya di tanah Papua. Tidak hanya itu sekarang pun pebisnis sudah semakin banyak di Papua. Kalau seandainya Papua lepas maka para pengusaha ini tak perlu lagi membayar pajak ke Indonesia. Jadi mengungkap dalang kerusahan merupakan hal yang harus dilakukan agar peristiwa tersebut tidak tetulang kembali karena Papua butuh situasi yang kondusif guna dapat menuntaskan berbagai program pembangunan yang marak dilaksanakan oleh pemerintah untuk kemajuan Papua.

Untuk itu menyelesaikan masalah Papua tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi tanggung jawab kita bersama. Adapun yang harus dilakukan adalah.

1.            Menghilangkan rasisme terhadap Papua dan seluruh suku yang ada di Indonesia dan konsisten melaksanakan ajaran Pancasila.

2.            Pemerintah sebaiknya melakukan tindakan pendekatan secara kemanusiaan dan budaya serta kesejahteraan.melalui berbagai pembangunan yang tepat dan bermanfaat bukan hanya sekedar pendekatan keamanan yang akan bisa terjebak dan menmbulkan permasalahan HAM karena pihak Asing akan memainkan isu tersebut.

3.            Masalah kesejahteraan pemerintah sebaiknya memberikan afirmasi bantuan secara langsung kepada rakyat Papua dengan tepat bukan dengan cara-cara yang dapat dikorupsi oleh oknum oknum setempat.

4.            Melanjutkan pembangunan infrastruktur secara masif agar Papua merasa diperhatikan.

5.            Menaikkan status sosial masyarakat Papua dengan memberikan kesempatan putra dan putri Papua yang memiliki kapabilitas untuk mengambil peran strategis di berbagai lini

Papua sangatah kaya tentu banyak pihak asing yang menginginkan Papua terpisah dari NKRI maka pemerintah dan rakyat harus bekerjasama agar Papua tetap berada di pangkuan ibu pertiwi.

*) Relawan FPMSI

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia