Selasa, 17 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kasihan, Gadis Difabel di Payangan Hanya Diasuh sang Nenek

08 September 2019, 19: 06: 09 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kasihan, Gadis Difabel di Payangan Hanya Diasuh sang Nenek

DIASUH : Ni Wayan Kolok, sejak kecil hanya diasuh oleh neneknya Ni Wayan Tagel, 80, di rumahnya Banjar Ponggang, Desa Puhu Kecamatan Payangan, Gianyar, Minggu (8/9). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Seorang pemudi penderita disabilitas bisu dan cacat fisik sejak kecil, Ni Wayan Kolok, 24, sejak lahir hanya diasuh neneknya Ni Wayan Tagel, 80. Mereka tinggal di sebuah pondok di Banjar Ponggang, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Gianyar. Ni Wayan Kolok merupakan anak yang lahir di luar nikah, sehingga ia ditinggal menikah oleh ibunya. 

Ni Wayan Tagel, Minggu (8/9) menjelaskan, dalam kondisi serba terbatas, ia merawat cucunya itu selama bertahun-tahun. Tidak hanya merawat, ia juga menempuh berbagai cara pengobatan dengan harapan cucunya sembuh dari sakit yang diderita. "Dia (Ni Wayan Kolok) dulu lahir di luar nikah. Dari kecil saya yang mengasuh, memberinya kasih sayang, makan sehari-hari, memandikan, bahkan membersihkan kencing maupun kotoran sampai darah haidnya," papar dia seraya mengaku, cacat fisik yang diderita cucunya itu nyaris tak bisa disembuhkan.

Ketika Ni Wayan Kolok masih kanak-kanak, ia masih bisa menggendong bahkan mengajak sembahyang ke pura. Namun kini, karena sudah dewasa, tentu ia tidak bisa mengajak seperti dulu. Tak pelak, Ni Wayan Tagel memilih hanya menemaninya di rumah. Bahkan beberapa tahun terakhir, ia mengaku tidak pernah meninggalkan cucunya pergi. "Tidak pernah saya tinggal. Kalau ditinggal kan kasihan. Dia tidak bisa bicara dan juga tidak bisa berjalan," ungkapnya.

Parahnya lagi, selama bertahun-tahun pondok yang ditempati tidak tersentuh aliran listrik. Namun syukurnya ada donatur yang menyumbang lampu panel tenaga surya kepadanya. "Lampu panelnya siang hari itu harus dijemur.  Jika tidak ada matahari atau hujan, lampu tidak bisa hidup," tandasnya. 

Soal air, ia mengaku mendapatkan sumbangan warga setempat, lengkap dengan meteran dan satu kran. Namun pondok itu tidak memiliki kamar mandi, dan setiap BAB, Ni Wayan Tagel harus ke kali  di sebelah barat rumahnya itu. Begitu juga dengan cucunya, Ni Wayan Kolok dikatakan cukup dimandikan dengan air di ember. 

Ditanya soal ibu Ni Wayan Kolok, ia mengatakan, ibu gadis itu telah menikah, tetapi setiap tiga hari sekali, ia datang menjenguk anaknya. "Terkadang kalau rambutnya panjang, dipotong oleh ibunya. Ia datang tiga hari sekali," imbuhnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia