Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Kiat Setiawan Olah Biji Matahari Jadi Minyak dan Susu Obat Depresi

08 September 2019, 20: 40: 34 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kiat Setiawan Olah Biji Matahari Jadi Minyak dan Susu Obat Depresi

MINYAK : Setiawan menunjukkan minyak biji bunga matahari. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Tak banyak yang tahu, jika bunga matahari memiliki segudang manfaat untuk kesehatan. Selain dinikmati bijinya lewat penganan kwaci, biji bunga matahari dapat diolah menjadi minyak berkhasiat untuk merawat kecantikan dan kesehatan. Bahkan, ampasnya pun dapat dinikmati menjadi susu nabati untuk menjaga metabolisme tubuh serta mencegah depresi.

Di lahan seluas 1 hektar yang berlokasi di Lingkungan Penarukan, Kecamatan Buleleng tampak indah. Hamparan bunga matahari begitu menyejukkan mata. Rupanya, kebun bunga matahari ini memang didesain sebagai obyek spot selfie sejak setahun lalu oleh Ketua Simantri 551, Dr. I Gede Setiawan Adiputra. Sp, M.Si

Ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di kebunnya Minggu (8/9), Setiawan mengatakan bahwa penemuan  minyak bunga matahari sejatinya dilakukan secara tidak sengaja. Kala itu ia menemukan bunga matahari yang layu akibat terlalu sering dipegang pengunjung untuk berswafoto.

Tak ingin bunga matahari terbuang, selanjutnya diekstrak untuk difermentasi, dan dimasukkan ke dalam botol. Karena wangi, hasil fermentasi bunga matahari itu ia gunakan untuk mandi.

“Saat saya pergi ke kandang sapi, ternyata kok gak digigit nyamuk. Kepikiran saya buat sabun, dan akhirnya saya jual lewat di Facebook. Banyak yang suka. Ternyata ada juga yang nanya apakah saya jual minyak bunga matahari? Dari sana saya mencoba membuatnya,” ujar Setiawan.

Pria yang juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini pun langsung dibuat penasaran untuk mengolah biji bunga matahari menjadi minyak. Beragam literatur dikumpulkan untuk pengembangan minyak bunga matahari.

Secara teori, Setiawan merahasiakan cara pembuatan minyak bunga matahari. Namun ia mengaku berhasil membuat ekstrak dari biji bunga matahari, meski warna minyak terlihat hitam pekat. Karena tak puas, Setiawan kembali bereksperimen melakukan penyaringan.

Beragam trik dicoba. Mulai menggunakan baju kaos, baju singlet, hingga kain kasa. Namun tidak berhasil. Akhirnya terbersit keinginan Setiawan untuk menggunakan kembali alat yang pernah ia beli sebelumnya untuk menyaring.

“Dulu pernah beli alat, saya coba pakai itu, ternyata luar biasa jernihnya. Saya masih rahasiakan nama alatnya. Biar tidak ada yang niru. Karena kalau sudah ditiru, takutnya murah, karena campur-campur. Saya ingin jadi leader. Bila perlu, jika ada yang mencari minyak bunga matahari, biar mereka cari saya,” tuturnya.

Dari hasil penyaringan, diperolehlah minyak bunga matahari berwarna kuning bening. Warna kuning ini murni tanpa ada tambahan pewarna. Sedangkan endapan yang berwarna hitam pekat dimanfaatkan untuk minyak rambut.

Dikatakan Setiawan, minyak biji bunga matahari ini memiliki beragam khasiat untuk kesehatan. Mulai dari obat jerawat, mengencangkan kulit, menghaluskan kulit, mencegah flek. Wajar saja, mengingat kandungan vitamin E, antioksidan dari minyak ini sangat tinggi.

Bahkan minyak ini juga dapat diminum untuk mengobati tekanan darah tinggi, hingga kolestreol. “Penggunaannya tinggal dioleskan ke kulit wajah. Itu bagus mengurangi komedo, jerawat. Tidak bikin wajah berminyak, karena memang minyak ini meresap ke dalam kulit,” jelasnya.

Setiawan menyebut, setiap satu kilogram biji bunga matahari dapat menghasilkan sekitar 250 ml minyak. Dari 250 ml itu, hanya diperoleh minyak murni sebesar 200 ml, dan endapan minyak pekat sebanyak 50 ml.

“Biasanya kami jual per 60 ml minyak ini Rp 75 ribu. Kalau minyak rambutnya saya jual Rp 30 ribu. Pemasarannya masih terbatas via medsos. Tapi memang banyak peminatnya” tuturnya.

Ternyata, ampas dari olahan biji bunga matahari juga masih bisa dimanfaatkan sebagai susu nabati. Menurutnya, penemuan susu bunga matahari ini dilakukan secara tidak sengaja. Kala itu Setiawan memang menyiram ampas tersebut untuk dijadikan kompos. Namun saat disiram, ampas tersebut mengeluarkan warna putih.

“Langsung saya ingat susu nabati. Akhirnya saya coba ampas itu untuk diseduh, kemudian disaring dan airnya diminum. Khasiatnya juga luar biasa. Bisa menghilangkan depresi, dan membuat tidur menjadi nyenyak juga melancarkan metabolisme,” bebernya.

Karena memiliki manfaat, ampas biji bunga matahari juga dijual. Per bungkusnya mencapai Rp 10 ribu. Hingga kini peminatnya, sebut Setiawan, sangat banyak. “Selama ini kami belum mengantongi ijin dari BPOM dan PIRT. Kalau ijinnya sudah keluar, setidaknya kami bisa jual di apotek-apotek,” ujarnya.

Dalam satu are lahan bunga matahari, setiap tiga bulannya mampu menghasilkan sedikitnya 12 kilogram biji bunga matahari. Dikatakan Setiawan, dalam tiga bulan dirinya bisa mengantongi omset bersih sekitar Rp 7 juta. Sedangkan biaya operasionalnya hanya Rp 500 ribu per tiga bulannya.

Biaya produksi Rp 500 ribu, sebut Setiawan, hanya untuk membayar listrik. Sebab air yang digunakan menyiram berasal dari air sumur bor. “Kami tidak pakai pestisida. Masih alami. Semprotnya pakai air kencing sapi, pupuknya juga pakai kompos,” bebernya.

Di balik kesuksesan mengembangkan minyak biji bunga matahari, ada impian besar yang diharapkan. Setiawan ingin agar petani di Buleleng bisa membudidayakan bunga matahari. Komoditas itu bisa ditanam di areal persawahan sebagai tanaman selingan.

Bahkan, dirinya siap membeli biji bunga matahari Rp 30 ribu per kilogramnya dari petani untuk menambah kapasitas produksi minyaknya, sehingga tidak terputus. “Kalau ada petani yang mau budidaya, saya siap memberikan bibitnya. Nanti saya juga siap membelinya, per kilo Rp 30 ribu. Sangat tinggi,” tutupnya.

Sementara itu, testimoni datang dari Sri Martini, 49 warga Dusun Banyualit, Desa Kalibukbuk. Ibu rumah tangga ini sudah satu bulan menggunakan minyak bunga matahari. Hasilnya, flek yang ada di kulitnya pun berangsur memudar.

“Ini baru sebulan saya pakai, baru habis sebotol. Hasilnya memuaskan, flek di kulit sudah memudar. Jerawat juga menghilang. Karena ini herbal, ya pasti pelan-pelan prosesnya,” singkatnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia