Selasa, 17 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

MGPSSR Pusat Gelar Atma Pratista Massal di Pantai Padanggalak

08 September 2019, 21: 24: 47 WIB | editor : Nyoman Suarna

MGPSSR Pusat Gelar Atma Pratista Massal di Pantai Padanggalak

ATMA PRATISTA - Upacara Atma Pratista massal yang dilaksanakan pengurus MGPSSR Pusat di Pantai Padanggalak, Sanur, Minggu (8/9). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Paiketan Pasemetonan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Pengurus Pusat menyelenggarakan Upacara Atma Pratista/Ngelungah Massal, di Pantai Padangalak, Sanur, Minggu (8/9).

Upacara tersebut diikuti 140 peserta dengan biaya Rp 750 ribu setiap peserta. Upacara ini dipuput tiga sulinggih, yaitu Ida Pandita Mpu Siwa Putra Santi Yoga dari Griya Agung Pasek Sari Tegal, Denpasar, Ida Pandita Mpu Jaya Sandika Yoga dari Griya Sunia Amerta Tengah Padang, Padangsumbu Kaja, Padangsambian Klod Denpasar, serta Ida Pandita Mpu Jaya Ananda Yoga, Griya Dwara Kriya, Tegal Denpasar.

Menurut Sekretaris MGPSSR Pengurus Pusat Wayan Winatha, pelaksanaan upacara Atma Pratista ini dilaksanakan hampir tiga kali dalam setahun. Sampai dengan September tahun ini, pelaksanaannya sudah lebih dari empat kali sampai September. Alasannya, paiketan semeton MGPSSR Pusat adalah pelayan umat dalam pelaksanaan upacara, pendidikan dan pelatihan keagamaan di Bali dan bahkan seluruh Indonesia.

Winatha yang juga pemilik Percetakan Aksara di Kabupaten Gianyar ini mengatakan, upacara ini dilaksanakan karena banyaknya permintaan warga masyarakat yang datang langsung ke Sekretariat MGPSSR Pusat di Jalan Ceko Maria, Peguyangan Denpasar.

Kegiatan upacara selama ini sudah cukup banyak dilaksanakan, bukan saja Atma Pratista, Paguyuban MGPSSR juga menyelenggarakan pebayuhan massal, sapuh leger, metatah massal, Atma Wedana Massal.

"Sebagai pelayan umat sedharma, upacara yang kami lakukan terbuka untuk umum, bukan hanya untuk semeton Pasek," ujarnya.

Winatha menambahkan, penyelenggaraan ini tidak berorientasi pada profit. Sebab, tujuan utamanya membantu semeton Hindu dalam kewajiban upakara dari sisi ekonomi, serta membantu masyarakat umum. Sebab, yadnya yang dilaksanakan umat Hindu di Bali tidak pernah berhenti.

Dengan mengusung kebersamaan dalam melaksanakan upacara, persoalan biaya tentu akan bisa lebih murah, tetapi tidak mengurangi makna upakara itu sendiri. "Semua yang kami lakukan berpedoman pada sastra agama. Kalaupun ada sisa dana, akan kami kontribusikan untuk penyelesaian pembangunan Pura Puncak Blisbis, Lempuyang, Karangasem," imbuhnya. 

Sementara, Ida Pandita Mpu Sandika Yoga mengatakan, pelaksanaan upacara ini sering diabaikan umat, terutama mereka yang mengalami keguguran. "Sering orang mengabaikan ketika terjadi keguguran. Padahal sudah terbentuk embrio yang berarti sudah terbentuk suatu kehidupan. Dan kalau digugurkan, itu artinya brunaha," jelasnya.

Mantan manager personalia sebuah hotel di kawasan Jimbaran ini menjelaskan, menikah atau belum menikah, janin tetap terikat noda, karena sang roh sudah terbungkus badan material walaupun belum sempurna.

Ketika digugurkan, lanjutnya, janin itu membutuhkan penyupatan kembali. Karena roh bereinkarnasi dan sudah terikat. Biasanya, siapa yang menghadirkan janin, itulah yang dituntut untuk menyelesaikan. Bahkan belakangan yang terjadi, siapa yang ikut bertanggung jawab atas keguguran si jabang bayi itu dengan sengaja, pasti juga akan dikejar terus oleh sang roh tersebut.

Tidak mengherankan, mereka yang melakukan pengguguran tersebut sering tertimpa masalah dalam keluarga.  Karena itu, upacara penyucian roh tersebut sangat diperlukan. Entah itu itu warak kruron atau ngelangkir.

Pihaknya berharap dengan pelaksanaan upacara ini, orang tua si jabang bayi tidak lagi dikejar-kejar. Mereka yang dibuatkan upacara bisa mendapatkan tempat yang baik sekaligus mendoakan keluarganya.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia