Selasa, 17 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Usai Keguguran Kembalikan Sang Dumadi Menyatu dengan Alamnya

09 September 2019, 20: 08: 33 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Usai Keguguran Kembalikan Sang Dumadi Menyatu dengan Alamnya

TUNTAS: Upacara Warak Kruron yang dilaksanakan di Pantai Padang Galak, Minggu (8/9), diikuti ratusan peserta. Ritual yang dipuput Ida Pandhita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Denpasar ini, berlangsung khusyuk hingga prosesi tuntas. (AGUS SUECA)

Share this      

Usai keguguran, wanita mestinya melaksanakan upacara khusus sebagai bentuk menyucikan buana agung secara niskala. Secara sekala si orang tua bayi juga kembali bersih dan terhindar dari berbagai masalah. Seperti apa prosesi ritualnya? 

DENPASAR, Bali Express – Mentari pagi menyingsing, menyinari Pantai Padang Galak, Sanur, Minggu (8/9) kemarin. Ramai orang terlihat  berpakaian adat, berkumpul dan membawa banten. Pamedek itu bukan pergi untuk bersembahyang ke pura, namun rupanya mengikuti sebuah upacara khusus Warak Kruron yang dipuput  Ida Pandhita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Denpasar.

Dari rumah mereka membawa banten pajati. Sesampai di tempat upacara berlangsung di Pantai Padang Galak, peserta kemudian dibantu panitia  menghaturkan pajati yang dibawa. Setelah itu, peserta diberikan banten lain yang kemudian dibawa ke tempat duduknya.

Para peserta Warak Kruron ini duduk menghadap ke timur  dibawah tenda yang telah disediakan. Membentuk tiga barisan, puluhan peserta upacara duduk diwakilkan oleh salah satu anggota keluarga.

Total peserta yang mengikuti acara sebanyak 135. Rata-rata mereka  datang bersama sanak keluarganya.

Salah satu peserta Warak Kruron asal Nusa Dua yang tidak ingin disebutkan namanya, mengaku mengantar sang menantu.  “Bagus sekali acara seperti ini diadakan, karena bisa mengurangi beban umat. Kalau sendiri melaksanakannya pasti biayanya besar,” ujar wanita berkacamata tersebut.

Upacara yang dipuput Ida Pandhita Mpu Yogiswara ini berlangsung dari pagi.  Para peserta dengan terib mengikuti  rangkaian prosesi di tengah terik panas matahari yang cukup menyengat di Pantai Padang Galak.

Usai natab sesayutan, diperciki tirta dan prosesi lainnya, peserta diarahkan mengelilingi tempat upakara. Masing-masing peserta memegang banten yang berisikan aneka benda seperti sandal, baju, buku tulis, dan lainnya. Benda tersebut dianggap sebagai bekal untuk si bayi atau janin yang diikutkan dalam upacara Warak Kruron. Hingga akhirnya ada proses ngayud di pantai dilakukan oleh peserta, ditemani anggota keluarganya. Banten dan bekal untuk bayi ataupun janin dalam sekejap  tersapu gelombang air laut yang datang ke pinggir pantai.

Setelah itu, para peserta duduk kembali mengikuti rangkaian upacara hingga selesai persembahyangan. Sebelum pulang, para peserta diberikan  tirta untuk dibawa pulang.

Menurut Ida Pandhita Mpu Yogiswara, tujuan dari dilaksanakannya upacara Warak Kruron untuk menghilangkan nasib buruk dan sakit-sakitan akibat wanita keguguran. “Upacara ini juga sebagai bentuk menyucikan buana agung secara niskala akibat keguguran.  Secara sekala si orang tua bayi juga kembali bersih dan terhindar dari berbagai penyakit, termasuk kanker rahim,” ujar Ida Pandhita Mpu Yogiswara kepada Bali Express (Jawa Pos Group) usai muput upacara.

Ditambahkannya, upacara yang termasuk kategori Pitra Yadnya dan juga Manusa Yadnya ini, diselenggarakan kontinyu oleh Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Denpasar. "Kita laksanakan secara massal karena umat menginginkannya, di samping turut meringankan biaya unat untuk upacara," terangnya.

Redite Umanis Wuku Merakih dipilih, lanjutnya,  karena  harinya sangat bagus untuk pelaksanaan upacara Warak Kruron.

Ida Pandhita Mpu Yogiswara mengatakan, upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu pelaksanaannya dilakukan di segara (pantai), karena segara adalah ibu (manusia) sehingga sang dumadi akan dikembalikan lagi kepada ibu (segara perlambang ibu juga). “Jadi, intinya dari ibu akan kembali kepada ibu,” ungkapnya.

Adapun proses dalam upacara Warak Kruron ini, dimulai dengan Butha Yadnya, yakni melakukan pacaruan. Kemudian  dilanjutkan dengan Pitra Yadnya, berupa pangulapan sang dumadi yang telah meninggal yang dilanjutkan dengan proses pangabenan, lalu mengembalikan sang dumadi ke segara dengan ngayud (melarung ke laut).

Proses dilanjutkan Manusa Yadnya yang dilakukan oleh orang tua dengan banten prayascita, natab sesayut, seperti sayut ngayudin lara lara melaradan pangenteg bayu, pageh urip dirgayusa, bendu dan guru piduka. “Terakhir dilakukan sembahyang bersama dan pembagian tirta caru dan pengelukatan karang,” tandasnya.

(bx/rin/hai/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia