Selasa, 17 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tiga Bulan Cari Air Turun Bukit, Siswa di Tenganan BAB di Tegalan

10 September 2019, 18: 26: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tiga Bulan Cari Air Turun Bukit, Siswa di Tenganan BAB di Tegalan

CUMA ANGIN: Air macet selama tiga bulan hingga mengganggu kegiatan di di SDN 2 Tenganan. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Sejak tiga bulan, air tak pernah mengalir ke Dusun Bukit Kangin, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Itu karena penyaluran air desa yang menjadi andalan warga selama ini, sedikit terhambat akibat imbas kemarau.

Warga sekitar harus turun bukit mencari air setiap hari. Itu untuk mandi hingga memasak. Maklum Bukit Kangin adalah dusun yang letaknya di atas perbukitan. Warga juga pernah menampung air hujan. Tapi kemarau lagi-lagi membuat warga kebingungan.

Minimnya air sampai mengganggu operasional SD Negeri 2 Tenganan. Guru-guru harus giliran membawa air dari rumah masing-masing. Mereka membawa dua jerigen sedang setiap hari. Itu dipakai untuk mengisi bak toilet sekolah.

Di kala air sudah habis, guru-guru bakal bingung. Untuk mencari air, pihak sekolah harus turun ke sumber air di Batu Asah, wilayah Kecamatan Bebandem. Jaraknya mencapai 3 kilometer sebelah utara dari sekolah. Untungnya ada jalan setapak yang bisa dilalui sepeda motor.

Salah seorang guru SDN 2 Tenganan, Ni Nengah Rasmin mengatakan, air hanya dipakai untuk mengisi bak toilet. Mereka harus berbagi dan wajib mengirit air. Ironisnya, tatkala ada siswa yang sakit perut, siswa tersebut memilih buang air di tegalan atau kebun-kebun warga. Itu bakal terjadi kalau air di bak toilet habis.

"Kami giliran setiap hari bersama guru-guru di sini. Satu guru bawa jerigen air. Untuk minum dan makan lain lagi, bawa dari rumah," kata Rasmin, ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), di sekolahnya, Selasa (10/9).

Ada 79 siswa di SD Negeri 2 Tenganan. Mereka berasal dari dua dusun pendukung, Banjar Bugbug dan Bukit Kangin. Anak-anak ini mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah. Minimal untuk sementara ini ada suplai air ke sekolah.

Kata Rasmin, sebenarnya terdapat satu cubang air di sebelah gedung SD. Namun karena lama tak dipakai, cubang tersebut kotor. Cubang berhenti dimanfaatkan warga semenjak ada penyaluran air desa menggunakan pipa-pipa ke rumah dan sekolah. Pihaknya kini sedang mencari cara agar cubang tersebut bisa dipakai.

Anggota komite SDN 2 Tenganan, Wayan Merta mengakui memang belum pernah bersurat ke PDAM Tirta Tohlangkir Karangasem. Dia menuding pemerintah kurang peka melihat persoalan di desa-desa. Di sisi lain, dia menyadari, PDAM sebagai perusahaan daerah juga mempertimbangkan urusan provit. "Ya kan mereka juga hitung-hitungan," ketus Merta.

Sebelumnya, warga sudah mengusulkan adanya penarikan air PDAM ke dusun setempat melalui Bugbug, Kecamatan Karangasem. Namun pihak PDAM menolak karena dirasa akan sulit menarik dari wilayah selatan. Maka ada kesepakatan pipa-pipa induk dipasang melalui Bebandem karena dianggap lebih mudah. "Setelah pipa terpasang, sudah ke rumah-rumah, sampai sekarang tidak ada realisasi apa-apa," keluhnya.

Merta berharap, ada bantuan air disalurkan ke wilayah dusun tersebut. Sebab selama tiga bulan ini, warga mengaku lelah bolak-balik turun bukit. "Kalau pemerintah mau, pasti bisa. Saya orang susah hanya bisa apa kalau tidak berharap saja," pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia