Selasa, 17 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Diversi Gagal, Tiga Remaja Jalani Sidang

10 September 2019, 22: 25: 32 WIB | editor : Nyoman Suarna

Diversi Gagal, Tiga Remaja Jalani Sidang

SIDANG : Setelah diversi gagal, ketiga remaja putri kasus dugaan tindak kekerasan ini akan menjalani sidang. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

SEMARAPURA, BALI EXPRESS- Diversi kasus dugaan tindak kekerasan dengan korban siswi SMP di Klungkung Ni Ketut AAP,15, dan tersangka tiga remaja putri Ni Kadek AKD,18; Luh Gede PCA,16, dan Ni Komang PA,16, digelar di Pengadilan (PN) Semarapura, Selasa (10/9). Dalam diversi yang digelar tertutup itu, korban yang didampingi orang tuanya menolak damai. Ketiga remaja putri tersebut harus menjalani proses persidangan.

Sidang perdana dengan agenda pembacaan surat dakwaan dijadwalkan digelar di PN Semarapura, Kamis (12/9). “Karena korban menolak damai, kasusnya lanjut ke persidangan,” jelas Pendamping Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Klungkung Ni Ketut Latri.

Latri menyebutkan, diversi yang digelar tak sampai 30 menit tersebut, pihak keluarga korban tak merinci alasan menolak jalur diversi. “Itu privasi keluarganya,” sambung Latri.

Bapak tersangka Ni Kadek AKD, I Nyoman S mengungkapkan, sikap keluarga korban yang menolak menyelesaikan kasus pada tingkat diversi, membuat anak dan dua tersangka lainnya shock. Matanya berkaca-kaca setelah tahu proses hukumnya akan berlanjut ke persidangan. “Jelas down. Secara psikis terganggu,” ujar Nyoman. Sebagai orang tua, pihaknya sebatas bisa menasehati anaknya agar tegar menjalani proses hukum. “Mau bagaimana lagi, kami harus ikuti proses hukum,” terang Nyoman.

Semenjak kasus tersebut menyeruak, Nyoman mengaku sudah berulang kali minta maaf. Ia pun siap, jika pihak keluarga korban menginginkan permohonan maaf secara terbuka. Baik itu di lapangan umum, media mainstream, maupun media sosial (medsos).  “Kami sudah tawarkan permohonan maaf terbuka. Tapi tetap tidak bisa,” ujar Nyoman.

Selain menghadirkan korban dan tersangka yang didampingi masing-masing orang tua, diversi juga melibatkan pihak-pihak terkait, yaitu P2TPA, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas IIA Karangasem, jaksa dari Kejari Klungkung serta pihak PN Semarapura.

Diberitakan sebelumnya, dugaan kekerasan terjadi berawal dari ketersinggungan antara korban dengan salah satu tersangka. Saat itu tidak langsung terjadi perkelahian. Dugaan kekerasan baru terjadi Januari 2019. Saat itu secara tidak sengaja korban bertemu dengan ketiga tersangka dan beberapa rekannya di Bukit Buluh, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung. Perkelahian tak terhindarkan.

Korban dibuat tak berdaya karena pelaku bersama beberapa rekannya. Korban ditendang. Celana panjangnya berusaha dipelorotin. Dugaan kekerasan itu direkam yang kemudian videonya viral. Orang tua korban yang tak terima dengan kejadian itu, melapor ke Polres Klungkung. Tiga remaja putri ditetapkan sebagai tersangka,

yakni Ni Kadek AKD,18; Luh Gede PCA,16, dan Ni Komang PA,16.  Mereka disangkakan Pasal 80 jo Pasal 76C Undang-Undang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana diubah ke dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia