Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Siswa Mejaguran yang Videonya Viral Dikeluarkan dari Sekolahnya

12 September 2019, 18: 01: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Siswa Mejaguran yang Videonya Viral Dikeluarkan dari Sekolahnya

BERI KETERANGAN: Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Dawan Made Mardika memberikan keterangan kepada wartawan. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

SEMARAPURA, BALI EXPRESS - Salah seorang siswa kelas XII SMA Negeri 1 Dawan, berinisial I Putu NAP, dikeluarkan dari sekolahnya tertanggal 10 September 2019. Ia dikeluarkan karena dianggap nakal. Hal itu dibenarkan Kepala SMA Negeri 1 Dawan I Made Mardika ditemui di sekolah setempat, Kamis (12/9).

“Iya memang benar anak tersebut (I Putu NAP) sudah kami kembalikan ke orang tuanya,” ujar Mardika.

Sebelum mengambil keputusan itu, pihak sekolah sudah melalui berbagai pertimbangan. Selama mengenyam pendidikan di sekolah setempat sejak sekitar setahun lebih, anak itu sering melanggar peraturan sekolah. Misalnya tidak menggunakan atribut sekolah, sering terlambat datang, termasuk sering tidak mengikuti pelajaran.

“Dia ini siswa pindahan. Masuk di sini (SMA Negeri 1 Dawan) sejak kelas XI. Sudah sering dibina oleh guru,” terang Mardika didampingi Ida Ayu Relawati selaku guru bimbingan konseling (BK).

“Kalaupun ada di kelas, anak ini sering bikin ribut, mengganggu temannya,” imbuh Ida Ayu.

Puncaknya terjadi sepekan lalu. Sekolah tersebut digegerkan dengan video majaguran (berantem) dua siswanya, yaitu I Putu NAP dengan I Gede SAW di depan Pura Dalem Desa Sampalan, Kecamatan Dawan. Aksi baku hantam direkam siswa lainnya, lalu tersebar di media sosial. “Memang sudah jam pulang sekolah kejadiannya. Tapi itu tetap siswa kami, apalagi masih menggunakan pakaian sekolah. Makanya keduanya kami panggil,” kata Mardika.

Keduanya dikenakan sanksi membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan serupa, bersikap dan bertingkah laku yang baik dan sopan, rajin mengikuti pelajaran, dan bersedia rajin dan tekun mengikuti pelajaran. Termasuk wajib lapor ke ruang BK sebelum mengikuti pelajaran. Jika itu dilanggar, maka dikembalikan ke orang tua.

Namun I Putu NAP dinyatakan melanggar surat pernyataan. Dilihat rekam jejaknya, dia juga sudah sering tidak patuh. Jika siswa tersebut dipertahankan, maka bisa berimbas terhadap ratusan siswa di sana. “Kami sebenarnya tidak tega. Tapi berbagai jurus mendidik anak sudah kami lakukan, ternyata tidak bisa membuatnya berubah,” tegas Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Klungkung itu.

Meski demikian, Mardika masih memberikan kemudahan bagi Putu. Jika masih mau pindah ke sekolah lain, maka tetap difasilitasi surat pindah.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia