Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Medali Bukan Melali, Salam Olahraga untuk Porprov Bali

Oleh: Made Adnyana Ole

14 September 2019, 15: 02: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Medali Bukan Melali, Salam Olahraga untuk Porprov Bali

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

JIKA boleh memuji agak berlebihan, slogan kontingen Kabupaten Buleleng saat berlaga dalam Porprov Bali 2019 di Tabanan, sungguh-sungguh menggelitik, terkesan main-main, namun revolusioner: “Raih Medali, Bukan Melali”

Meski punya banyak teman di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Buleleng, saya tak tahu siapa pencipta slogan itu. Tapi saya yakin, jika orang itu seorang olahragawan, pastilah otaknya juga dialiri darah sastra sekaligus darah pemberontak. Dari segi kata-kata, slogan itu punya rima estetis, dari segi makna ia mengandung satir yang kritis. Saya sempat menonton parade pembukaan Porprov Bali, 9 September, di Tabanan. Dan di situ saya menyaksikan pimpinan kontingen Buleleng berteriak lantang, seperti orasi seorang pendemo di jalanan saat meneriakkan slogan “Raih Medali Bukan Melali” itu.

Soal kata-kata unik dalam dunia olahraga di Buleleng, saya jadi ingat almarhum Agus Sadikin Bakti. Ia seorang aktivis olahraga yang akrab dipanggil Asbak. Ia sangat suka bikin slogan unik namun penuh inspirasi. Ia bahkan sangat identik dengan sebuah klub dengan nama yang bikin tersenyum, mudah diingat, dan kadang bisa menyindir dunia olahraga itu sendiri. Klub itu bernama MKS, singkatan dari “Menang Kalah Sehat”. Itu semacam persatuan olahraga (POR) yang dibentuk sekitar tahun 1975 dan tetap terkenal hingga kini. MKS, Menang Kalang Sehat, seakan-akan menyindir orang yang kerap marah jika kalah dan sombong jika menang, dan menganggap olahraga hanya terdiri dari kalah dan menang, padahal di dalamnya ada kata sehat. 

MKS mungkin beda tujuannya dengan slogan “Raih Medali Bukan Melali”. Namun semangatnya tetap sama: tak biasa namuan punya daya sindir yang efektif terhadap dunia olahraga. Bagi kebanyakan orang, mungkin slogan itu dianggap biasa, dibuat rutin dan sekadarnya, dan terdengar biasa-biasa saja, lalu dilupakan begitu Porprov usai. Tapi, bagi saya, itu memang luar biasa. Sebab, dulu, bahkan hingga kini, cerita soal olahraga digerogoti tikus yang tak sportif sudah biasa terjadi. Isu suap, pengaturan skor dalam sepakbola, dan yang jarang terungkap adalah tidak fairnya pemilihan atlet, pembina, termasuk ofisial, yang diberangkatkan dalam sebuah pertandingan besar.

Seringkali bisik-bisik terdengar, seorang atlet tiba-tiba terpental dari seleksi, padahal ia punya syarat  lengkap untuk bisa meraih medali. Dengar-dengar kemudian, justru banyak atlet berangkat ke medan laga dengan kemampuan biasa-biasa saja. Lalu terdengar bisik-bisik lebih keras, atlet yang berkemampuan biasa-biasa saja itu punya hubungan misan-mindon, anak-keponakan, dengan si pembina, pengurus olahraga, atau pejabat di sebuah daerah.

Yang lebih menggelikan, kadang terdengar komposisi jomplang antara jumlah atlet dan ofisial yang diberangkatkan dalam sebuah turnamen di luar daerah. Atletnya 100, ofisialnya bisa 300. Selain terdiri dari pembina dan pengurus olahraga, ofisial kadang terdiri dari banyak pejabat daerah dengan tupoksi yang tak ada hubungan dengan dunia olahraga. Bahkan, istri dan anak-anak pejabat bisa ikut juga.

Bisik-bisik tak enak itulah mungkin memunculkan slogan yang terdengar tak biasa. “Raih Medali Bukan Melali”. Karena di sejumlah tempat, termasuk juga di Buleleng, atlet yang dikirim jarang melalui seleksi resmi dan terukur, biasanya diserahkan ke masing-masing pengurus di masing-masing cabang olahraga. Seleksi yang tak terukur diduga menyebabkan terdepaknya atlet berprestasi karena faktor-faktor subyektif.

Selain itu, jumlah kontingen yang gemuk namun hampa tujuan, terkesan gradag grudug melali tanpa target medali yang pasti. Kondisi yang tak teratur diduga juga memunculkan mafia atlet yang bergreliya dengan janji bisa meloloskan atlet yang akakadarnya hanya untuk mendapat uang saku dan kostum, plus selembar sertifikat ikut turnamen. Soal medali, urusan belakang.

Teman dari KONI Buleleng sempat bercerita, sistem yang tak terukur juga menyebabkan borosnya anggaran. Maka, dengan anggaran yang jumlahnya tak berkembang, medali harus tetap ditingkatkan. Untuk itu, jumlah kontingen, terutama panitia dan ofisial, dirampingkan dengan sistem perekrutan yang tepat dan jelas.  Artinya, dengan anggaran yang sama, sedangkan jumlah pembaginya lebih sedikit, maka masing-masing ofisial dan pengurus akan mendapat anggaran lebih banyak. Di sisi lain, karena jumlahnya sedikit, mereka juga harus bekerja lebih keras. Saat itulah seorang ofisial dan pengurus benar-benar harus mengurus atletnya yang sedang bertanding. Bukan melali. 

Untuk atlet, KONI melakukan perekrutan dengan terukur. Misalnya bekerjasama Fakultas Olahraga dan Kesehatan Undiksha untuk melakukan test fisik hingga benar-benar dipercaya bisa bertanding dengan baik, termasuk bisa mengukur raihan medali  dengan penuh perhitungan. Alokasi anggaran kepada atlet pun diatur dengan sistem yang baru, langsung ke kantong sang atlet, sehingga sang atlet benar-benar fokus meraih medali, bukan sekadar meraih sertifikat, apalagi ingin melali. Dengan begitu, slogan “Raih Medali Bukan Melali” adalah slogan yang pas. Ia bisa ditiru dengan bahasa lain, bahkan dijadikan semacam model dalam sebuah program pengelolaan atlet serta ofisial dalam keikutsertaan di sebuah turnamen. 

Saya tutup tulisan ini dengan cerita lama. Saat gempa bumi melanda Yogyakarta beberapa tahun lalu, saya ingat satu berita pilu. Saat itu, di kota gudeg, sebuah klub sepakbola dari sebuah kabupaten di Bali sedang bertanding dalam sebuah turnamen sepakbola besar. Di sela-sela euforia turnamen, terjadilah gempa bumi. Seorang pejabat penting yang sedang turut mengantar tim sepakbola itu, jadi korban gempa. Koran di Bali ramai-ramai memberitakannya, bukan memberitakan sepakbolanya, melainkan memberitakan peristiwa duka itu.

Nah, akibat diberitakan besar-besar, banyak orang jadi kaget kemudian. Ternyata tim sepakbola yang jumlahnya mungkin hanya 20 orang itu diantar oleh banyak pejabat, termasuk anggota Dewan. Mungkin jumlahnya melebihi tim sepakbola itu sendiri. Sehingga, ketika berita duka itu terberitakan, warga menyampaikan berita duka dengan amat sedih, sembari bersungut-sungut dan bertanya-tanya: “Untuk apa tim sekecil itu diantar oleh banyak pejabat? Memangnya, kalau banyak pejabat, tim bisa langsung menang?”.

 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia