Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Harga Anjlok, Petani Sibetan Sulap Salak jadi Kurma

15 September 2019, 18: 48: 26 WIB | editor : Nyoman Suarna

Harga Anjlok, Petani Sibetan Sulap Salak jadi Kurma

OLAHAN SALAK: Nyoman Mastra alias Kongking menunjukkan dua produk unggulannya (kopi dan kurma salak) saat mengikuti pameran di Festival Pertanian di Taman Ujung, Karangasem, Minggu (15/9). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS - Harga salak sempat terjun bebas saat  musim panen raya. Kondisi itu membuat para petani pusing memikirkan kerugian, seperti dialami petani di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem yang bergantung dari penjualan salak Bali.

Daerah Sibetan memang terkenal sebagai penghasil salak. Wilayah ini bahkan menjadi objek wisata agro terbesar di Karangasem. Kendati begitu, hailnyta tidak serta-merta dapat dirasakan sesuai harapan, terutama untuk mendapat untung berlipat dari berjualan salak.

Untuk diketahui, harga salak pernah anjlok di angka Rp 1.000 per kilogram. Angka ini sangat tidak masuk akal bagi petani yang menggantungkan hidupnya dari salak. Petani mencari cara agar kerugian dapat ditutup. Mereka akhirnya mengembangkan produk olahan. Salah satunya menjadikan buah “kurma”.

Kurma yang dimaksud bukan buah asli Timur tengah, tetapi olahan salak yang dimasak hingga teksturnya menjadi mirip seperti kurma. Alhasil, olahan tersebut mampu menarik pundi-pundi hingga belasan ribu per satu produk.

Nyoman Mastra adalah pionir dalam mengembangkan produk tersebut. Dia mulai mengolah salak sejak 2011 setelah sempat mengalami rugi panen. Berbekal pengalaman pribadi, dia makin terpacu berinovasi. Sebelum kurma, pria yang akrab disapa Kongking ini, menelurkan produk kopi salak lebih dulu.

Selain kurma dan kopi, Kongking juga mengembangkan salak menjadi cuka, madu, bumbu rujak, kripik, hingga teh. Produknya kini sudah melanglang buana di hampir seluruh wilayah Bali, Jawa, hingga ke Tiongkok. Harga masing-masing produknya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu.

Kata Kongking, kurma salak menjadi raja pasar di antara produk buatannya yang lain. Sebab kurma salak belum banyak beredar. Di samping itu, rasanya yang enak dan manis menjadi pemikat tersendiri buat konsumen. Keunikan dan cara pengolahan yang tak biasa, menjadi nilai tambah bagi pembeli yang penasaran dengan kurma yang dimaksud. "Baru saya dan kelompok usaha di desa kami yang mengembangkan," kata Mastra, Minggu (15/9).

Tidak banyak yang dia ungkap mengenai proses pengolahan salak menjadi 'kurma'. Yang jelas, satu kilogram salak bisa menghasilkan satu kemasan. Butuh waktu 4 jam untuk memproses salak dan batunya. Bahan-bahan tambahan juga tidak banyak yang dibutuhkan. Dia masih memakai gula murni untuk pemanis sekaligus pengawet alami. Bicara awet, kurma salak mampu bertahan hingga tiga bulan.

Satu kemasan kurma dihargai Rp 15 ribu. Sedangkan kopi salak dihargai Rp 50 ribu per 100 gram. Untuk teh salak Rp 20 ribu per 100 gram. "Ya ini kan kita bicara akal-akalan. Bagaimana perputaran ekonomi bisa berjalan baik. Pada saat sulit, masih ada penyokong di segmen yang lain. Jika tidak demikian, petani sangat mustahil dapat menekan kerugian saat panen raya," sebut pria yang juga ketua Agro Abian Salak, Sibetan, Bebandem, ini.

Dia menyebut, hasil panen raya tidak akan diolah keseluruhan. Dengan demikian, 50 persen hasil panen bakal tetap dijual murni ke pasar-pasar. Sedangkan 30 persen hasil panen akan dimanfaatkan untuk produk olahan, dan sisanya memenuhi permintaan wisatawan yang berkunjung ke Agro Wisata Sibetan. "Dengan cara ini kami berharap pendapatan petani meningkat," pungkas Mastra.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia