Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali Under The Moon

Cinta Avara Band Terbentur Kasta

16 September 2019, 18: 25: 14 WIB | editor : Nyoman Suarna

Cinta Avara Band Terbentur Kasta

TERBENTUR : Avara Band angkat problem cinta yang terbentur kasta lewat single ‘Kewatesin Kasta’. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Avara kembali merilis single terbaru di tahun 2019. Lewat single  ‘Kewatesin Kasta’, band yang baru berumur setahun ini, kini mengungkit soal cinta beda kasta.



Avara Band yang digawangi Indrawira (vocal, guitar), Gery (guitar), Made Sugiantara (bass), dan Gusde (drum) ini, melengkapi karya teranyarnya dengan musik video atau video klip.


Band bentukan tahun 2018 silam ini, sudah merilis  empat lagu yang semuanya  dibarengi dengan video clip yang bisa ditemukan di platform digital youtube.
Meski saat ini masih fokus  memperbanyak materi lagu dan juga jam manggung, band ini berani hadir dan bersaing dengan mengusung genre modern rock.


Dijelaskan Indrawira, single ‘Kewatesin Kasta’  mengangkat tentang kisah cinta yang kandas karena perbedaan kasta, dimana  polemik tersebut masih ada dalam kehidupan, terutama di Bali. Kisah cinta itu, lanjutnya, kemudian dirampungkan menjadi sebuah lagu dengan balutan musik slow rock dengan lirik berbahasa Bali yang simple dan mudah dimengerti.


Dikatakan Indrawira, audio recording (perekaman audio) dikerjakan  selama 10 hari di studio miliknya, Post Record Bali. Konsep yang diambil menceritakan sepasang kekasih yang mengingat kembali kisah cinta mereka (flashback) yang pupus dikarenakan perbedaan kasta. “Setting tempat untuk story video diambil di beberapa tempat di Kota Denpasar. Sedangkan untuk video band dikerjakan di area Danau Tamblingan, Bedugul.  Uniknya, semua gambar direkam menggunakan kamera dari handphone,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu.

 
Sementara itu, untuk pemeran laki dalam video klip adalah  Yudi Darmawan yang juga merupakan personel band Bali, Leeyonk Sinatra. Sedangkan tokoh perempuan diperankan  mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Tri Paramitha.
Ditambahkan Gery, berkat effort dari rekan-rekan rumah produksi Jibolba Baker dan DNJ Production, pada akhir  Juli lalu proses pengambilan gambar akhirnya bisa dirampungkan.


“Tentu sesuai dengan konsepnya sendiri, musik video ini menampilkan flashback story (cerita kilas balik) antara dua orang yang pernah menjalani kisah cinta sebelumnya. Ending dari cerita ini adalah mereka tidak akan kembali bersama dan menjalani kehidupannya masing-masing,” aku Gery. Dengan beberapa slow motion yang bisa ditonton dalam musik video kali ini, lanjutnya, semoga bisa memberikan warna berbeda bagi musik Bali dan dapat diterima para pendengar, juga menginspirasi para penikmat musik.


Sejatinya, Avara  awalnya  direncanakan dibentuk  tahun 2013 silam oleh Indrawira dan Gery sebagai inisiator. Histori-nya, Indrawira yang juga tergabung dalam band Symphony of Silence (SOS) dan Gery dengan Hanamura, berinisiatif untuk mengembangkan potensi musik mereka dari lokal indie ke ranah musik Bali.

Dimana pada dasarnya mereka juga merupakan penikmat musik berbahasa Bali.


Namun sayangnya ide tersebut harus tertunda lantaran belum menemukan personel yang tepat pada posisi bass dan drum. Seiring berjalannya waktu, pada awal 2018 rencana ini berhasil diwujudkan dengan bergabungnya Made dan Gusde. Made Sugiantara (bass) sebenarnya merupakan guitar player yang sering mengisi event reguler, namun dia siap berkomitmen untuk bermain bass bersama Avara. Sedangkan Gusde merupakan drummer yang juga berkecimpung di musik indie lokal sebelumnya dengan band Instant Karma, ex player Good Morning Sunrise dan sebagai additional player Ice Cream Attack.

(bx/vir/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia