Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Alasan Soroh Pulosari Mandikan Jenazah di Depan Sanggah Kamulan

16 September 2019, 18: 25: 32 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Alasan Soroh Pulosari Mandikan Jenazah di Depan Sanggah Kamulan

JENAZAH: Soroh Pulosari di Banjar Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Denpasar, memandikan jenazah di depan Sanggah Kamulan, mengacu pada buku Catur Bumi. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Proses memandikan jenazah umat Hindu umumnya dilakukan di pekarangan rumah. Namun, berbeda denga soroh Pulosari yang justru melakukannya di merajan di depan Sanggah Kamulan yang notabene area suci. Bagaimana bisa terjadi tradisi unik ini?

Jro Mangku Ketut Parka, 69, menjelaskan bahwa tradisi memandikan jenazah oleh soroh Pulosari di halaman merajan sudah dilakukan secara turun temurun. Menurutnya, tradisi ini dilakukan karena tertuang dalam buku Catur Bumi dimana ada kalimat yang menjelaskan : Yening wenten I Pulosari ritatkala kelayaon sekar wenang ngarepan ring ajeng Sanggah Kamulan ritatkala nyiraman layon. Kalimat tersebut memiliki arti bahwa jika ada dari soroh Pulosari meninggal, maka untuk memandikan jenazahnya dilakukan di depan Sanggah Kemulan.
Jro Mangku Ketut Parka  menceritakan bahwa tradisi ini pernah dibahas Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Namun, setelah membaca dan memahami kalimat di buku Catur Bumi akhirnya diputuskan tidak diubah sama sekali.

Ini Alasan Soroh Pulosari Mandikan Jenazah di Depan Sanggah Kamulan

PISANG KAIKIK: Rerajahan pada daun pisang kaikik (kiri) dan foto Pisang Kaikik menjadi salah satu sarana memandikan layon bagi soroh Pulosari. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

“Leluhur kami pun pernah membahas tentang tradisi memandikan jenazah di Sanggah Kamulan itu. Namun, diputuskan tetap dilaksanakan sampai sekarang,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.


Dalam menjalankan tradisi ini, sarana upakaranya pun tetap sama dengan memandikan jenazah pada umumnya. Ditambah dengan daun pisang Kaikik. Satu buah pelepah daun  pisang Kaikik yang bagus (tidak sobek) digunakan sebagai alas layon, selain kasa dan tikar. Selain itu, daun pisang ini dipotong seukuran 30 centimeter untuk ditaruh di atas dada si layon.

“Sama halnya dengan kain kasa, daun Pisang Kaikik yang jadi alas, juga kita isi rerajahan,” terang pria yang tinggal di Jalan Antasura, Tonja, Denpasar ini.


Sebelum memandikan layon di Sanggah Kamulan, juga dimandikan dulu di bale adat rumah almarhum. Memandikan layon di bale adat rumah itu dimaknai sebagai proses membersihkan layon secara jasmani. Sedangkan  memandikan layon di Sanggah Kamulan, dimaknai sebagai pembersihan secara rohani. “Sesuai dengan konsep Utpatti, Sthiti, dan Pralina, yakni, lahir, hidup, dan mati. Setelah lahir, ada proses seperti tutug kambuhan ke merajan, selanjutnya ketika hidup ada proses otonan dan ritual lainnya  yang juga di Sanggah Kamulan.

"Nah yang terakhir saat meninggal juga di di Sanggah Kamulan upacaranya. Ketika lahir, hidup di upacarai di Sanggah Kamulan. Maka meninggalpun juga ada upacaranya di Sanggah Kamulan,” imbuhnya.

Ditambahkannya, posisi untuk layon saat dimandikan di Sanggah Kamulan ada dua jenis,  yakni kepalanya berada di arah utara dengan kaki di selatan atau jika kepala di posisi arah timur, maka kaki di arah barat. Kemudian, daun Pisang Kaikik yang dirajah juga nantinya ikut diikatkan jadi satu dengan layon saat dimasukkan ke dalam peti.


Layon yang bisa dimandikan di Sanggah Kamulan juga punya syarat. Jadi, tidak semua orang kalau meninggal bisa mengikuti tradisi tersebut. Jro Mangku Parka menjelaskan bahwa anak-anak yang belum pernah ketus (lepas) giginya, jika meninggal akan mengikuti tradisi memandikan jenzah secara umum.

“Kita mandikan di bawah capcepan (halaman rumah) rumah. Itupun hanya digotong saja oleh beberapa orang, tidak dibuatkan tempat seperti memandikan jenazah lainnya,” ujar pria yang menjadi Pemangku Pura Dalem Ularan ini. Tak disanggahnya, banyak umat yang bertanya dan heran soal tradisi yang dijalankan soroh Pulosari. Sehingga ia dan keluarganya selalu menjelaskan pada orang-orang yang belum tahu. Dikatakannya, karena warga soroh Pulosari menyebar di berbagai tempat, sempat juga menghentikan tradisi ini.

“Ada di salah satu desa yang awalnya enam Kepala Keluarga (KK) tidak menjalankan tradisi, karena dilarang memandikan jenazah di Sanggah Kamulan, namun tiba-tiba satu persatu meninggal. Sampai yang tersisa hanya satu KK saja. Lantaran peristiwa tersebut, akhirnya tradisi itu kembali dijalankan,” tambahnya.


Disinggung soal cuntaka (kotor secara rohani), soroh Pulosari mengenal masa cuntaka  maksimal hanya tujuh hari,,bahkan kadang bisa dipersingkat, bisa jadi satu hari atau  tiga hari saja. “Wah itu pernah mau ada acara pernikahan, kemudian salah satu keluarga ada yang meninggal. Akhirnya dengan upacara Makekelud ini dilaksanakan, dan cuntaka dipersingkat  ” terangnya.


Sebagai keturunan Dalem Tarukan, lanjutnya, soroh Pulosari tidak makan telur puyuh, daging burung puyuh, jagung nasi, buah Pisang Kaikik, burung perkutut.  Karena semua itu memberikan perlindungan pada Dalem Tarukan pada masa dahulu. “Kami pun tidak menanam injin (beras hitam),” tandas pria yang sudah 25 tahun jadi pemangku ini. (agus sueca)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia