Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Tradisi Masabatan Endut di Karangasem

Para Gadis Dilempar Lumpur, Campur Buah Busuk dan Kotoran Kerbau

17 September 2019, 11: 10: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Para Gadis Dilempar Lumpur, Campur Buah Busuk dan Kotoran Kerbau

IKLHAS: Para daha atau remaja perempuan di Tenganan berpasrah diri saat lumpur dihempaskan ke tubuh mereka. Tradisi ini disebut Masabatan Endut, sebagai cermin proses pendewasaan diri. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

Lewat tradisi Masabatan Endut atau melempar lumpur, para generasi penerus di Desa Tenganan Pegringsingan bersiap memasuki masa menginjak dewasa. Masa-masa yang penuh lika-liku. Dalam prosesnya, terdapat alur pembentukan karakter yang mengharapkan generasi Tenganan, khususnya para daha (remaja perempuan) tetap teguh, berkarakter, dan suci sekala dan niskala.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Karangasem

SEJAK pukul 12.00, para krama di Desa Tenganan duduk di depan rumah masing-masing. Mereka mengenakan kain penutup setengah badan. Termasuk kaum wanita yang tampak mengenakan kain motif kotak-kotak warna putih agak krem. 

Di saat yang bersamaan, para daha atau remaja perempuan di sana, dengan raut wajah tenang, juga duduk di sebuah balai di salah satu rumah. Warga setempat menyebutnya gantih atau semacam asrama.

Sesuai penanggalan desa setempat, pada Tri Wara Beteng, berdasar sistem penanggalan kalender Desa Adat Tenganan Pegringsingan, akan digelar prosesi Masabatan Endut atau melempar lumpur. Tradisi ini merupakan prosesi mengantarkan para daha dari fase pembinaan, penguatan fisik, dan penanaman ilmu sebelum menyongsong hidup ke level lebih tinggi. Bagi warga Tenganan, tradisi ini lebih pada penguatan diri bagi generasi muda di Tenganan.

Yang menarik, lumpur yang dipakai bukan lumpur biasa. Melainkan campuran antara buah-buah busuk, tanah, dan kotoran kerbau. Warga setempat juga mengklaim, penggunaan kotoran kerbau juga bagian dari kearifan lokal. Yang mana di Tenganan terdapat banyak kerbau yang dipelihara warga. Selain juga menyeimbangkan nilai spiritual dalam tradisi tersebut.

Pelemparan lumpur ke tubuh para gadis remaja itu memiliki makna yang dalam. Memperkuat karakter sang wanita sebelum menginjak fase labih tinggi. Para wanita ini nantinya akan berkeluarga, sehingga diharapkan kuat lahir bathin. Pelemparan lumpur adalah simbol agar para daha tidak mengeluh, selalu menerima kenyataan buruk sekalipun. Dan yang terpenting tetap teguh dan legowo.

Menurut Kelihan adat Kedua Tenganan Pegringsingan Wayan Sudarsana, Masabatan Endut diibaratkan seperti proses metamorfosis kepompong menjadi kupu-kupu. Para remaja bersiap dilepas ke tahap selanjutnya, sesuai tingkatan yang berlaku di adat Tenganan.

Sebelum mengikuti prosesi ini, para daha akan mengikuti semacam karantina. Mirip seperti masa pengenalan lingkungan di tingkat satuan pendidikan. Para gadis remaja di tiap gantih atau asrama dibina selama setahun oleh pemangku adat. Mereka juga tidak diizinkan keluar dari gantih selama masa karantina.

Kata Sudarsana, tidak ada batasan umur bagi para daha untuk ikut atau memulai prosesi. Yang terpenting secara fisik siap ditempa. "Ada tiga gantih. Yakni gantih Wayah, Nengah, Nyoman. Dalam sehari ada tiga kali prosesi. Pertama di Gantih Wayah, selanjutnya Nengah, terakhir di Gantih Nyoman. Dan ini dilakukan tiga hari sekali," jelas Sudarsana.

Sebelum memulai lempar lumpur, prosesi diawali dengan persembahyangan untuk meminta izin kepada leluhur memulai prosesi. Ini dilakukan oleh para Teruna Bani atau tokoh yang posisinya lebih tinggi sua tingkat dan telah melalui proses Teruna Nyoman. Mereka juga mepafalkan beberapa mantra yang prosesinya disebut me-Samodana.

Sementara itu, beberapa orang menanti untuk melempar lumpur. Mereka yang berhak hanyalah Teruna Pengawin, atau setingkat lebih tinggi dan baru lulus mengikuti prosesi materuna Nyoman.

Pada saatnya tiba, para teruna Pengawin langsung mengehempaskan lumpur dengan telapak tangan menghadap atas. Tubuh para daha seketika penuh polesan. Sementara para daha hanya berdiam diri tanpa melakukan hal apapun. Untungnya tubuh telah dibalut kain hingga ke kepala. Kecuali wajah. Para gadis ini juga tidak diperbolehkan melawan. "Bukan gagal kalau melanggar. Tapi kita merasa apa yang kita lalui selama ini tidak ada nilainya. Semua proses seperti tidak bernilai jika kita melanggar," sebut Sudarsana.

Menurut Sudarsana, keiklhasan para daha terpancar ketika lumpur telah memenuhi tubuh. Di sini lah letak nilai positif yang dapat dipetik. "Para generasi muda di Tenganan Pegringsingan ini akan siap menggantikan peran tetua atau leluhur. Jadi mereka harus ditempa ilmu, dilatih kuat sehingga mampu menerima cobaan sebesar apapun. Mereka diharapkan tetap teguh," pungkas Sudarsana. 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia