Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
PURA UNIK! Pura Penyambutan Pengacangan

Tak Ada Odalan dan Palinggih; Tempat Panggil Roh dan Ledakan Misterius

17 September 2019, 11: 37: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Ada Odalan dan Palinggih; Tempat Panggil Roh dan Ledakan Misterius

TAULAN : Batu yang tertata rapi di dalam Pura Penyambutan Pengacangan, Banjar Dinas Batulumbang, Desa Penuktukan Tejakula, Buleleng, dinamai Taulan oleh warga setempat. Kelian Banjar Adat Penuktukan, Jero Penyarikan Nyoman Adnyana (foto kiri). (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

BULELENG, BALI EXPRESS - Pura Penyambutan Pengacangan di Desa Penuktukan, Buleleng, salah satu tempat suci  istimewa. Tidak ada piodalan yang dilaksanakan seperti di pura lainnya. Bahkan, bangunannya pun terbilang aneh.

Pura Penyambutan Pengacangan  yang lokasinya di Banjar Batu Lumbang ini, ternyata punya fungsi yang sangat spesifik, yakni sebagai tempat untuk memanggil roh.

Pura yang letaknya  sekitar satu  kilometer dari jalan utama Singaraja-Amlapura ini, sebagai tempat memanggil roh (Ngulapin) krama desa, setelah melaksanakan upacara Matuun.  Upacara ini dilakukan untuk orang yang sudah meninggal selama minimal satu tahun setelah dikubur,
untuk kemudian dilanjutkan ke upacara Mamarek (upacara yang dilakukan setelah 12 hari  upacara Matuun).

Tak Ada Odalan dan Palinggih; Tempat Panggil Roh dan Ledakan Misterius

ROH : Pura Penyambutan Pengacangan jadi tempat memanggil roh, sebelum dilakukan upacara Pitra Yadnya. (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Kelian Banjar Adat Penuktukan Jero Penyarikan Nyoman Adnyana menceritakan, di
Pura Penyambutan hanya ada tumpukan batu tipis yang tertata rapi dan krama desa sering menyebutnya Taulan (peninggalan sejarah) yang menandakan pura ini  merupakan salah satu warisan leluhur yang masih ada sampai saat ini. "Keunikan Pura Penyambutan Pengacangan tidak ada seperti tempat suci lain yang ada palinggih banyak. Namun,  hanya ada tumpukan batu yang sering disebut Taulan oleh krama desa karena zaman itu belum ada  bangunan seperti palinggih sekrang. Jadi ini masih merupakan peninggalan sejarah," ujar Nyoman Adnyana kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di rumahnya akhir pekan kemarin.


Mantan kepala sekolah dasar ini juga menambahkan, pura tersebut juga sudah ada semenjak Desa Penuktukan ada, bahkan tidak pernah dilaksanakan piodalan sama sekali karena pura ini hanya khusus sebagai tempat nyambutin roh yang sudah menjalani proses upacara Matuun

"Pura Penyambutan ini sudah ada sejak Desa Penuktukan ada. Piodalan juga tidak ada, namun tetap disucikan oleh krama desa karena di sini memang khusus untuk upacara Nyambutin roh atau atma yang sudah menjalani proses Matuun," terangnya.


Dikatakannya, dalam prosesi Nyambutin di pura ini, saat  upacara memasukkan roh kedalam media yang biasa disebut Jemek, akan ada ayam yang diterbangkan sebagai penebus roh yang bersangkutan pada saat upacara. "Setelah upacara Ngulapin  selesai,  ayam yang dilepas dan diterbangkan sesuatu jenis kelamin roh  sebagai penebus roh," tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, ada tanda misterius bila ada warga yang meninggal.


"Jika akan ada krama desa yang meninggal dunia,  maka akan terdengar  seperti suara ledakan bambu yang cukup keras ditambah lolongan suara anjing didengar oleh krama desa yang berada di sekitar pura," tutupnya.

Lantas, bagaimana muasal nama Desa Penuktukan?


Tak diceritakan entah sudah beberapa lama masyarakat Desa Les hidup aman tentram. Namun, tiba-tiba ada pembabatan dan pembakaran hutan di sebelah timur wilayah Desa Les.  Setelah diselidiki ternyata terdapat sekelompok orang membabat hutan di sana, padahal  wilayah Desa Les.


Setelah dicek, ternyata  mereka adalah rombongan dari Desa Bumbungan, Klungkung yang mohon agar diperkenankan membuat pemukiman, dan mereka menyatakan adalah trah ksatria 'Anak Agung' yang karena terjadi perselisihan keluarga terpaksa meninggalkan desa.
Dalam perundingan terjadi  kesepakatan, warga dari Bumbungan diterima  dan diizinkan membuat pemukiman,dengan syarat mau madesa pakraman di Desa Pakraman Les, dan mau nyineb wangsa, tidak lagi nyinggihang raga, untuk selanjutnya menggunakan 'asah basa mabeli-cai'. Syarat tersebut  ternyata disepakati dengan tidak ada paksaan apapun juga,hanya berdasarkan keikhlasan semata.


Makin lama makin banyak  orang datang dan bermukim di tempat itu, terutama dari keluarga Pande yang awalnya datang untuk berjualan alat-alat pertanian. Sejak itu sudah mulai terdapat pasar di tempat ini.Tempat ini kemudian disebut Desa Penutupan, yang lambat laun akhirnya berubah menjadi Desa Penuktukan hingga kini. (nyoman darma wibawa)


(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia