Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Belajar dari Negeri Mantili

Oleh: IK Budiasa ST MM*

17 September 2019, 16: 53: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Belajar dari Negeri Mantili

IK Budiasa ST MM (ISTIMEWA)

Share this      

KERAJAAN Mantili adalah negeri kelahiran Sita. Negeri makmur itu dipimpin oleh Prabu Janaka yang bijaksana. Ketika Sita sudah beranjak dewasa, Prabu Janaka membuat sayembara : barangsiapa mampu mematahkan busur Siwa milik kerajaan, maka dialah yang berhak mempersunting Sita yang kecantikannya sudah termasyur ke seluruh jagat raya.

Maka para raja dan putra mahkota dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong datang. Di alun-alun kerajaan, sebuah busur besar diletakkan di sebuah altar. Satu per satu raja dan putra mahkota maju, tetapi jangankan mematahkan, mengangkat busur pun tak ada yang mampu. Para raja dan putra mahkota itu pun kemudian saling bergumam : "tak mungkin ada manusia yang bisa mematahkan busur itu. Maka biarlah Sita menjadi perawan tua".

Tapi saat itulah seorang pemuda sederhana maju ke depan altar. Pemuda itu berdoa dengan khusuk sesaat, lalu mengangkat busur. Menariknya kuat-kuat hingga busur patah menjadi dua. Pemuda itu adalah Ramadewa, putra mahkota dari kerajaan Ayodhya.

Banyak orang yang selalu mengeluh "ah tidak mungkin bisa dicapai". Atau sibuk menyalahkan orang lain, menyalahkan pemimpin, padahal ia belum melakukan apa2.

Sesuatu yang kita sebut “tidak mungkin”, sesungguhnya lebih tepat untuk disebut “tidak pantas”. Kualitas kita belum pantas untuk itu, sehingga terlihat tidak mungkin. Bagi mereka yang sudah memiliki kualitas sepadan, semua menjadi mungkin. Maka untuk meraih sesuatu, pertama kali yang harus dilakukan adalah memantaskan diri. Dengan usaha, kerja keras, tiada lelah, tanpa henti. Miliki kualitas Rama, anda akan pantas untuk seorang Sita. Bila anda sekelas Kardusana, anda hanya pantas untuk selingkuhan Sarpakanaka, raksasa penuh nafsu adik Rahwana.

Setiap hari yang kita lalui, adalah anugerah dari Hyang Murbeng Jagat untuk kita jadikan kesempatan memantaskan diri, agar memungkinkan kita meraih hal2 yang lebih besar, lebih baik, lebih mulia, lebih berkualitas, lebih membahagiakan, dan mengangkat kita ke tangga kesadaran yang lebih tinggi.

*

Seberapa pantas kamu untuk dia?

Seberapa layak kamu untuk sebuah kesuksesan?

*) Penulis adalah Sekjen Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia (ICHI)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia