Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Jadi Saksi, Korban yang Disiram Air Panas oleh Majikannya Ngaku Trauma

17 September 2019, 17: 59: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jadi Saksi, Korban yang Disiram Air Panas oleh Majikannya Ngaku Trauma

SIDANG: Suasana persidangan kasus penyiraman air panas oleh majikan kepada pembantu, di Pengadilan Negeri Gianyar, Selasa (17/9). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Sidang kasus penyiraman air panas oleh majikan dengan dua orang pembantunya mengagendakan pemeriksaan saksi-saksi, Selasa (17/9). Empat saksi yang diperiksa terdiri atas dua orang saksi sekaligus korban yaitu Eka Febrianti bersama adiknya Santi Widiastuti, satu saksi sekaligus terdakwa Kadek Erick Diantara Putra dan seorang saksi Ayu Murti. Terungkap saksi sekaligus korban Eka mengaku trauma dan ketakutan mengingat apa yang dialaminya tersebut.

Sidang berlangsung diketuai oleh Ida Ayu Sri Adriyanti Astuti Widja, bersama hakim anggota Wawan Edy Prasetyo dan Erwin Harnold Palyama dimulai pada pukul 11.30. Sedangkan terdakwa Desak Wiratningsih dihadirkan dalam sidang itu lengkap dengan menggunakan baju orangenya. Saksi korban, Eka memaparkan kejadian penganiayaan diamalaminya secara berturut-turut semenjak bekerja di tempat terdakwa.

“Penyiramannya dilakukan di rumah Ibu Desak di perumahan Udayana, Jalan Bypass Dharmagiri pada 7 Mei 2019. Saya disiram dengan air panas yang mengenai punggung, tangan, lengan, dan paha. Dilakukannya berkali-kali karena dibilang sering buat salah dan tidak bisa menemukan gunting yang diminta oleh majikan waktu itu,” tuturnya di dalam persidangan.

Selain disiram menggunakan air panas, Eka pun memaparkan dirinya kerap dipukul, ditampar oleh terdakwa saat pekerjaannya selaku pembantu tidak sesuai keinginan terdakwa. Sehingga sampai saat ini ia mengaku mengalami tekanan bhatin, trauma, dan takut bila mengingat hal tersebut.  Bahkan sempat tiga hari dua malam ia diikat tangan dan kakinya beserta mulutnya ditutup menggunakan plaster. Hal serupa juga dikatakan sempat dialami oleh adik tirinya yaitu Santi.

Dalam kesempatan tersebut mereka bekerja bersama terdakwa menggunakan sistem kontrak, dan per bulan digaji Rp 1 juta. Namun semenjak mereka bekerja di sana, Eka mengaku tidak pernah menerima sepeserpun upah jerih payah yang sudah dilakukannya di sana. Namun terdapat keterangan bahwa gaji mereka sudah ditransfer langsung ke orang tua mereka yang ada di Jawa. “Kalau yang langsung ditransfer kepada orang tua itu tidak ada, bohong itu,” papar Eka sambil mengeluarkan air mata.

Saksi korban Eka mengaku bahwa yang menyiksa dirinya itu terdakwa Desak Wiratningsih bersama terdakwa Erick. Terungkap Erick merupakan mantan satpam yang ditugaskan menjaga rumah Desak. Hanya saja Erick sepengetahuannya sudah dipecat, namun masih datang ke sana bahkan ia mengaku sering melihat Erick tidur di kamar bersama terdakwa Desak.

“Mereka memukul dan menghukum secara bergantian, tanpa sepengetahuan suami sirihnya Ibu Desak. Karena suami Buk Desak jarang datang, palingan datang seminggu sekali. Kalau suami Bu Desak datang, Erick mengumpat digudang kadang juga pergi sebelumnya,” imbuh Eka.

Sedangkan saksi Santi yang merupakan suadara korban memaparkan hal yang sama di persidangan. Santi pun sempat menyiram kakaknya atas suruhan dari terdakwa, lantaran dibilang tidak tegas menyiram air panas kepada kakaknya sehingga ia pun dijadikan contoh. Sehingga dalam persidangan  kulit bekas kena air panas diperlihatkan kepada hakim.

“Kami diperlakukan beda, seperti ada yang diistimewakan. Kalau salah sedikit dihukum, kalau sudah dianggap bekerja bagus diajak makan dan jalan-jalan,” imbuh Santi.

Terungkapnya kasus tersebut lantaran Eka nekat kabur saat terdakwa masih tidur dengan meloncat dari Merajan (tempat suci) rumah tersebut. Hingga akhirnya ia sampai di rumah rekannya di daerah Nusa Dua bermaksud untuk mengobati lukanya dan awalnya enggan bercerita. Mengingat ia masih memikirkan nasib sang adiknya yang masih di rumah terdakwa pada waktu itu.

Setelah kabur pada pukul 09.00 tanggal 7 Mei 2019, selanjutnya ia dibawa ke rumah sakit kemudian kasus itu dilaporkan sorenya di Mapolda Bali. Malamnya itu pun kedua terdakwa diamankan oleh jajaran Polda Bali. Selain para saksi yang dihadirkan dalam persidangan, beberapa barang bukti juga dibawa berupa hanger baju hingga panci perebus air.

Terdakwa, Desak Wiratningsih diberikan kesempatan bertanya dalam persidangan tersebut. Ia memilih untuk menyangkal pernyataan yang diucap oleh korban saksi itu. “Tidak pernah saya melakukan penyiraman, tidak pernah juga tidur dengan Erick,” ungkapnya.

Sedangkan hakim anggota, Wawan Edy Prasetyo menegaskan dalam persidangan, terkait kasus yang ada saat ini agar lebih selektif untuk memberikan informasi. Karena kekerasan tersebut merupakan dari tingkah perilaku seseorang, bukan dari suku,ras, dan agamanya. “Jangan pernah mengaitkan kejahatan itu dengan meilhat dari suku,ras, dan agamanya. Karena kejahatan tidak menempel di sana melainkan dari perilaku kehidupan peribadi masing-masing,” tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia