Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Sanak Batur di Tumbak Bayuh, Pura yang Banyak Menyimpan Misteri

19 September 2019, 10: 33: 32 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Sanak Batur di Tumbak Bayuh, Pura yang Banyak Menyimpan Misteri

BATU: Palinggih pengganti Pohon Kresek yang ditebang, dipercaya menjadi tempat rumah wong samar. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Sanak Batur di Banjar Tiying Tutul, Desa Tumbak Bayuh, mendapat perlakuan khusus dari warga di Mengwi, Badung. Banyak peristiwa aneh terjadi di masa lalu yang tak terungkap hingga kini.

Setiap pura memiliki keunikan tersendiri. Begitu juga dengan Pura Sanak Batur. Banyak kisah sejarah dan peristiwa aneh (niskala) terjadi. Pura Sanak Batur, bukan nama pertama yang disandang, melainkan nama yang baru resmi dipakai sekitar 20 tahun terakhir. 

Menurut pemangku Pura Sanak Batur, Jro Mangku Made Sukarya, 57, sebelumnya 
pura sering dibilang dengan nama Pura Duwur Batu karena posisinya di atas batu. Bahkan,  kadang juga disebut Pura Batur karena dianggap berkaitan dengan Pura Batur di Pererenan. “Jadi, nama Pura Sanak Batur bukan nama awal.  Disepakati menjadi nama Pura Sanak Batur karena statusnya dianggap lebih junior dari Pura Batur di Pererenan,” terangnya saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di kediamannya yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pura.

Pura dengan konsep Dwi Mandala ini, di area jeroannya memiliki Palinggih Gedong sebagai stana Ratu Ayu, Meru Tumpang Tiga sebagai stana Batara Geng Putus. Kemudian ada sebuah Padmasana, Balai Papelik dan balai tempat penyimpanan Barong Ket. Sementara di jaba pura ada Balai Gong, Palinggih Ratu Nyoman, Ratu Made, Palinggih Ratu Mas Meketel di bulakan (mata air). Palinggih Ratu Mas Maketel ini dianggap sebagai cikal bakal Pura Sanak Batur.

“Selain itu, ada palinggih yang didirikan sebagai pengganti pohon kroya dan pohon kresek di sebelah pura,” ujar Mangku Made Sukarya sambil menunjuk posisi bekas kedua pohon itu berdiri.

Alasan kedua pohon itu ditebang karena ukurannya makin besar, dikhawatirkan akan membahayakan posisi pura. Namun setelah kedua pohon itu tidak ada, lanjutnya,  banyak orang mendengar suara anak menangis di sekitar pura. Tidak ada wujudnya, hanya ada suara yang didengar warga. 

Menurut Jro Mangku Made Sukarya, bukan hanya saat menebang kedua pohon dekat pura, setelah menebang rumpun bambu dekat pura pun juga ada suara orang menangis. “Diyakini bahwa area sungai di sebelah pura adalah griya (rumah) makhluk tak kasat mata,” ujar pria yang dikarunia dua anak ini. Berkat kejadian aneh itu, lanjutnya,  akhirnya dibangun  palinggih khusus untuk menghormati mereka yang sebelumnya berada di pepohonan.

Jro Mangku Made Sukarya saat masih  muda pernah mengajak para remaja latihan silat di area jaba pura, dan ada hal yang di luar nalar terjadi. Biasanya usai latihan, dia dan yang lainnya meditasi. Selesai meditasi dia melihat banyak anak-anak menonton mereka di jaba. “Bingung saya, padahal tidak ada anak-anak yang menonton sebelumnya. Saya pun pikir itu halusinasi, tapi dipandang terlihat nyata. Entahlah saya tidak berani berspekulasi juga ya,” ujar pria yang dulu tugas di Kupang ini.


Hal yang mendukung kuat bahwa pura ini berdampingan dengan griya para makhluk tak kasat mata adalah saat hajatan dulu, ada warga yang memotong babi. Karena tidak ngejot (mempersembahkan) ke pura dan batu-batu di sekitar pura,  bahan memasak dan daging babi itu tiba-tiba raib dan habis.

“Iya habis, tidak tahu kemana. Padahal belum banyak yang dimasak, lalu tiba-tiba warga mencium bau sate dipanggang dari arah  kawasan pura. Dari sana warga tahu, bahwa pura ini menjadi tempat tinggal mereka (wong samar),” ucap Jro  Mangku Made Sukarya sambil menunjuk batu dan palinggih tempat menghaturkan jotan. “Kemudian sejak peristiwa itu, jika warga mau hajatan pasti membawa bagian daging babi dan dihaturkan ke sini,” tambahnya.


Disinggung mengenai sejarah dari pura yang berlokasi di sebelah Tukad (Sungai) Yeh Miah ini, Jro Mangku Made Sukarya mengatakan sudah sejak zaman dahulu pura ini berdiri. Konon lokasi pura dianggap sebagai perbatasan di Tenggara era Kerajaan Mengwi dan Badung. Zaman itu, pasukan Kerajaan Mengwi menjaga perbatasan di sekitar pura, sehingga area itu dianggap salah satu benteng pertahanan bagi Mengwi. 
Saat itu pura ini masih berupa palinggih yang berdiri di atas batu, dan saat itu ada juga bulakan atau kelebutan (mata air). Air dari bulakan warnanya tidak begitu jernih, padahal sumbernya dari bawah kelebutan tidak kotor. Kelebutan itu pun kemudian dianggap sebagai kelebutan Tirta Sudamala hingga sekarang. “Sampai sekarang banyak yang nunas tamba (obat), setelah mendapat petunjuk dari orang yang punya kemampuan supranatural,” ujar pria pensiunan pegawai PLN ini.


Pura yang pioadalan yang jatuh pada Buda Cemeng Wuku Menail ini, dahulu menjadi tempat persembunyian bagi para pejuang yang dikejar  tentara Jepang. Konon para pejuang memilih sembunyi di area Pura Sanak Batur, karena tentara Jepang yang  melintas  tidak akan melihat para pejuang duduk dan sembunyi di sana.

“Aneh sekali, di luar akal sehat rasanya, mereka tidak bisa terlihat oleh tentara Jepang,” ucapnya.


Hal niskala lainnya  juga bisa dilihat hanya oleh orang yang punya mata bathin, bahwa konon di gua yang terletak di batu besar di bawah pura ada banyak obat-obatan. Orang yang pernah melihat ke dalam gua kagum sekali, karena segala obat untuk berbagai penyakit ada di dalamnya. “Waktu saya kecil masih ada gua itu, bahkan suara kita bergema saat berteriak di mulut gua. Namun sayang ya, sekarang sudah tertutup area sidementasi sungai,” tuturnya.

Ada juga duwe (penjaga niskala) dari pura yang diempon warga Banjar Tiying Tutul dan beberapa dari Banjar Klepekan Desa Tumbak Bayu ini,  berupa be julid, ular ekor merah, macan gading, grombong selem, dan caling menala. “Bentuk dari grombong selem dan caling menala saya kurang tahu. Tetapi setiap mempersembahkan segehan kedua nama itu juga disebut dan dianggap rencangan Ida di sini,” pungkasnya. (agus sueca)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia