Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Peringatan 151 Tahun Perang Banjar

Ki Lebah Pangkung; Besi Kapal Bergetar, hingga Kini Mampu Halau Banjir

20 September 2019, 08: 40: 56 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ki Lebah Pangkung; Besi Kapal Bergetar, hingga Kini Mampu Halau Banjir

PUSAKA: Keris Ki Lebah Pangkung yang disemayamkan di Griya Banjar. (ISTIMEWA)

Share this      

Ada bebepara pusaka penting peninggalan dari era zaman Perang Banjar 1868. Salah satu yang paling hebat adalah pusaka keris bernama Ki Lebah Pangkung. Seperti apa kisahnya?

PUTU MARDIKA, Banjar

DALAM perjuangannya melawan Belanda, Ida Made Rai memiliki senjata pusaka bernama Ki Lebah Pangkung. Ia berjuang didampingi sepuluh sahabat lain yakni Ida Made Tamu, Ida Nyoman Ngurah, Ida Made Sapan, Ida Made Kaler, I Dade, I Kamasan, Ni Belegug, Kumpi Nari, I Made Guliang, Ida Made Gunung.

Ki Lebah Pangkung; Besi Kapal Bergetar, hingga Kini Mampu Halau Banjir

KUNO: Pemedal Kuno di areal Griya Gede Banjar yang menjadi saksi bisu perjuangan Ida Made Rai melawan Belanda. (istimewa)

Menurut Ida Bagus Wika Krishna, senjata pusaka Ida Made Rai sangat bertuah. Selain terbukti memberikan kekuatan dalam melawan penjajah, rupanya hingga kini Keris Ki Lebah Pangkung masih menunjukkan kebertuahannya.

Tak hanya Ida Made Rai, sejumlah sahabat seperjuangannya pun Memegang sejata pamungkas. Seperti Ida Made Tamu yang memegang Keris Ki Baru Kuping dan Tombak Ki Jambe Anom. Sedangkan Ida Made Kaler Keris Palu Cempeng.

Selanjutnya pejuang dari Sidapata Ni Belegug memegang Tombak Ki Lebur Capung. Ada beberapa pusaka Tombak Ki Sleseh, Karang Gilang dan sampai sekarang masih diangap bertuah. Semua senjata tersebut diwarisi oleh keturunannya dan posisinya berpencar.“Khusus Keris Ki Lebah Pangkung ada di Geriya Banjar,” ujar Gus Wika.

Dijelaskan Gus Wika, kebertuahan Keris Ki Lebah Pangkung tidak hanya untuk pertempuran melawan penajajah semata. Tetapi ketika ada masalah keributan di Desa Banjar, warga pun berkumpul di Merajan Geriya Gede Banjar dan meminta asuan (basuhan) dari Keris Ki Lebah Pangkung.

“Selain perang, pernah juga Keris Ki Lebah Pangkung digunakan untuk menghalau Banjir. Ketika ada banjir, keris dibawa ke lokasi banjir, sampai disana banjir surut, kejadiannya belum lama ini,” ungkapnya.

Rencananya, Jumat (20/9) malam bertepatan dengan peringatan 151 tahun Perang Banjar, sejumlah senjata pusaka yang digunakan Ida Made Rai bersama rekan seperjuangan  saat melawan penjajah akan dikeluarkan.

Pusaka tersebut diantaranya Keris Ki Lebah Pangkung, Ki Baru Kuping, Tombak Ki Jambe Anom, Pakaian Perang Sidatapa, Keris Ki Palu Cempeng. “Biasanya keris pusaka itu setiap Tumpek Landep dibuatkan sesajen. Tujuaannya biar senantiasa mengingatkan kita tentang spirit perjuangan,” jelasnya.

Lanjut Gus Wika, Desa Banjar secara historis memang menjadi pemasok senjata pusaka seperti keris dan tombak bagi para raja-raja di Bali. Hal itu dimulai dari kisah Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep, putra dari pendiri Desa Banjar bernama Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade dari Griya Gede Banjar, Buleleng.

Beliau bukan saja seorang dwijati yang memimpin keagamaan. Dalam beberapa kisah, beliau masur dalam membuat senjata bertuah. Ida Pedanda Sakti Ngurah Lelandep mempelajari seluruh ajaran dari ayahnya termasuk ajaran pasupati Widhyastra, sehingga mencapai kasidhiyan.

Suatu saat ada orang dari pelabuhan Padang (Padangbay) datang ke Geria Gede Banjar untuk nuhur Padanda Sakti Ngurah Lelandep untuk muput upacara Pitra yadnya. Kemudian beliau berangkat dengan kapal menuju padang, di tengah malam ketika beliau melakukan yoga samadhi, besi-besi yang ada di kapal tersebut bergetar.

Kemudian besi-besi tersebut meminta agar di pakai senjata. Padanda Sakti Ngurah Lelandep pun akhirnya menandai besi tersebut dengan pamor. Seusai muput yadnya di padang dan kembali ke Geria Gede Banjar maka beliau meminta besi yang telah ditandai tersebut kepada Paman Subandhar.

Besi-Besi tersebut kemudian dijadikan senjata keris yang bernama Ki Lebah Pangkung yang Tersimpan di Griya Gede Banjar, Ki Baru Kuping tersimpan di Griya Dauh Margi, Banjar dan senjata tombak yang sangat utama, dalam babad, senjata keris dan tombak tersebut kekuatannya diceritakan sama keutamaannya dengan hasil karya ayahnya yang tersimpan di Kayuputih. Tombak tersebut, konon disimpan oleh Umat Hindu yang ada di Desa Sidatapa, banjar, Buleleng.

“Selain membuat keris dan tombak, Ida Padanda Sakti Ngurah Lelandep yang menguasai ajaran pasupati widhyastra banyak membuat senjata-senjata utama yang membuat namanya semakin masyur, senjata beliau banyak tersebar di pelosok bumi Buleleng,” tutupnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia