Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Paska Dipasupati, Sasuhunan Wajib Diuji Daya Magisnya

20 September 2019, 13: 57: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Paska Dipasupati, Sasuhunan Wajib Diuji Daya Magisnya

SETRA : Prosesi Ngereh Sasuhunan Pura Melanting, Banjar Pande di Setra Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, pekan lalu. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Setiap sasuhunan (benda atau sosok yang dikeramatkan), seperti  Barong maupun Rangda di setiap pura pasti pernah diodak (diperbaiki). Dan, sejumlah prosesi akan dilaksanakan guna membangkitkan kekuatan magis, sekaligus uji coba.

Ngodak atau memperbaiki sasuhunan dilaksanakan   bertahap dan menggunakan sarana banten yang dikerjakan undagi (tukang khusus) yang memang mumpuni di bidangnya. 
Setelah selesai dikerjakan, sasuhunan tersebut dipasupati (dibangkitkan kekuatannya) dalam prosesi Ngerehang dan wajib Napak Pertiwi paska Pasupati.

Seniman yang dikenal dengan doktor Calonarang, Dr. Komang Indra Wirawan, S.Sn, M.Fil.H menjelaskan, semua prosesi  dilakukan menggunakan hari baik atau dewasa ayu. “Setiap prosesinya ada waktu khusus, saat membuat dan memperbaiki sasuhunan. Baik itu barong maupun Rangda atau sejenisnya. Setelah selesai, juga ada yang disebut dengan pencalonarangan yang lebih sederhananya Napak Pertiwi," terangnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan lalu.

Paska Dipasupati, Sasuhunan Wajib Diuji Daya Magisnya

Dr Komang Indra Wirawan SSn, MFil.H (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Dikatakan Indra Wirawan, tujuan dari Napak Pertiwi tiada lain untuk ajang konstestasi jika disolahkan (ditarikan) pada sebuah panggung yang disebut dengan pencalonarangan. Selain itu, juga  sebagai bentuk pembuktian, apakah dalam proses Pangerehan dan Pasupati itu sudah sesuai dengan banten maupun upakaranya yang ada atau sebaliknya. Untuk itulah perlu dilakukannya Napak Pertiwi, Ngunya hingga pentas Calonarang tersebut.

“Ngereh itu merupakan sebuah prosesi mensakralkan benda yang disucikan, datangnya dari Rah,Reh, Ruh. Itupun dilakukan oleh pemangku, undagi, dan sulinggih,” paparnya.
Pria yang juga dosen seni di  IKIP PGRI Bali inl menyampaikan, aksara Rah, Reh, Ruh itu dijabarkan layaknya saat Barong dan Rangda masolah (menari). "Rambutnya yang magambahan (terurai) dan perwujudannya seram sampai mata nelik (melotot). Dengan demikian  pakemnya pasti sebuah pangerehan atau   disebut dengan padestian," urainya. 

Ditambahkannya, Pangerehan maupun Pasupati dilakukan di tanah pamuunan (di atas tempat pembakaran jenazah) atau setra (kuburan), karena wilayah itu sebagai tempat bertemunya purusa pradana, sekala dan niskala yang mencirikan kehidupan. Begitu juga setra, yang tepatnya di tanah pamuunan sebagai langkah nunas (memohon) ilmu dari Bhatari Durga. "Sidi sakti, atau yang disebut dengan kewisesan itu sendiri. Setelah itu, yang dilakukan berikutnya adalah pertunjukan Calonarang. Jika disederhanakan disebut dengan Ngunya, Malancaran. Dan, jika disederhanakan lagi disebut dengan Napak Pertiwi," tandasnya. 


Pementasan Calonarang atau Napak Pertiwi, lanjutnya,  merupakan sebagai media pembuktian, apakah benar Ida yang malinggih di pelayatan atau sasuhunan paska diperbaiki. Semua itu disebut dengan uji coba, mulai dari baik buruk, hitam, dan putih dengan konsep Tuhan dibuat atau diumpamakan dalam palawatan (sosok) yang diumpamakan sebagai simbol.  "Napak Pertiwi bisa dimaksudkan sebagai ajang uji coba. Konsepnya Tuhan dibuat dalam media simbol. Maka, di sana kita tidak tahu benar atau salahnya. Wajib melakukan pembuktian dalam pencalonarangan,Ngunya atupun Napak Pertiwi. Terlepas dari Ngerehan sudah benar sesui bantennya atau soal lainnya," imbuhnya.


Indra Wirawan mengatakan,  ketika terjadinya insiden atau peristiwa yang tidak diinginkan selama Napak Pertiwi, berarti ada sesuatu hal yang belum terlaksana dengan baik dan benar. "Dalam kesempatan tersebut, ketika tidak ada kejadian yang tidak terduga, berarti 99 persen prosesi ngerehang sesuai upakara. Jika tidak dilakukan ada kontestasi diri, kepentingan diri di sana, pasti tidak akan terjadi halangan," paparnya. 


 Semua itu, lanjutnya, perlu dikaji dan telaah. "Karena terdapat juga, jika upakara tidak sesuai saat Pangerehan bisa saja saat Napak Pertiwi ada rasa tidak memuaskan. Terjadinya keributan, saat pentas Calonarang Rangda tembus tertusuk keris. Itu tandanya salah satu prosesnya tidak sesuai," pungkasnya. 


Indra Wirawan menyampikan, sasuhunan berupa Barong dan Rangda tidak jauh beda  seperti kendaraan. Karena yang membuat perjalanan nyaman atau tabrakan itu bukan karena mobilnya, namun sebagian besar pengaruh dari sang sopir itu sendiri. Begitu juga Rangda dan Barong, tidak ada kesempurnaan. "Kalau sudah lengkap sesuai upakara, kepentingan untuk diri sendiri tidak ada, niscaya akan aman-aman saja," imbuhnya. 


Langkah yang seharusnya dilkukan sebagai introspeksi diri, jika ditugaskan dalam Pangerehan atau saat Ngodak sasuhunan, tukang Rangda seharusnya dipelajari layaknya undagi Rangda. Begitu juga dengan masyarakat yang menjadi panitia karya, harus belajar tentang berjalannya upacara Ngodak dan Ngerehan tersebut.  "Introspeksi diri, mulat sarira, jadi undagi pelajari jadi undagi, jadi penari Rangda harus dalami itu. Jadi tukang undang, sebaiknya fokuskan tugas itu, agar tidak mengambil  pekerjaan yang bukan tugas semestinya diambil, " tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia