Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

400 Penari Rejang Kesari Buka Festival Jatiluwih 2019

20 September 2019, 17: 39: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

400 Penari Rejang Kesari Buka Festival Jatiluwih 2019

DIBUKA: Festival Jatiluwih 2019 dibuka secara resmi Jumat (20/9). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Ratusan penari Rejang Kesari memeriahkan pembukaan Festival Jatiluwih 2019, Jumat (20/9) di kawasan D’Uma Jatiluwih. Festival tersebut dibuka secara resmi oleh Tenaga Ahli Kementerian Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama I Gede Pitana, yang ditandai dengan pemukulan gong.

Festival Jatiluwih 2019 mengusung tema Sri Pahngayu Jagat  yang artinya memuliakan Dewi Sri untuk dapat memberikan  manfaat dan kesejahteraan pada masyarakat di kawasan tersebut. Sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Tabanan dan di Bali, pengunjung yang berkunjung ke DTW Jatiluwih pun sangat antusias menyaksikan kemeriahan pembukaan Festival Jatiluwih 2019. Mereka berbaur dan tak lupa mengabadikan momen dengan kamera masing-masing.

400 Penari Rejang Kesari Buka Festival Jatiluwih 2019

DIBUKA: Festival Jatiluwih 2019 dibuka secara resmi Jumat (20/9). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Salah satu penampilan seni yang cukup menyita perhatian pengunjung adalah 400 orang penari Rejang Kesari. Bahkan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti turut ikut menari. Menurut salah seorang penari Rejang Kesari, Ni Putu Aristamini, 28, alamat Banjar Sigaran, Desa Jegu, Kecamatan Penebel, menarikan Tari Rejang Kesari merupakan pengalaman yang tidak bisa ia lupakan. Pasalnya ia baru pertama kali membawakan tarian tersebut. "Latihannya sekitar 1 bulan, 6 kali pertemuan, 4 kali di Lapangan Penebel dan 2 kali di Jatiluwih," ungkapnya.

Ia pun mengaku Tari Rejang Kesari tidaklah sulit sehingga ia membawakan tarian tersebut dengan enjoy. Uniknya Tari Rejang Kesari memiliki perbedaan dari segi hiasan rambut, dimana penari yang belum menikah tidak memakai sanggul. Disamping itu yang menarikan tidak boleh dalam keadaan datang bulan. "Kalau yang sudah menikah rambutnya memakai sanggul, kalau yang belum menikah rambutnya dipusung gonjer," imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mengungkapkan jika Tari Rejang Kesari merupakan suatu ungkapan untuk memanjatkan rasa syukur dan berterima kasih kepada Dewi Sri yang telah memberikan kesejahteraan di Tabanan khususnya dan di Bali pada umumnya.  "Jadi ini sebagai simbol rasa syukur yang ditampilkan dengan tarian sekaligus untuk menunjukan seni dan budaya," ujarnya.

Dan dengan keterlibatan semua pihak utamanya generasi muda ia mengatakan jika hal itu menunjukkan jika menciptakan kemakmuran tidak hanya dilakukan sendiri tapi semua harus ikut menjaga dan merawat. Terutama Jatiluwih sebagai simbol kemakmuran alam. "Kalau alam kita rusak kita tidak akan punya tempat, maka dari itu dengan tarian ini kita tanamkan rasa menghormati Dewi Sri," pungkasnya.

Ditambahkannya, keunikan alam Jatiluwih ini menjadikan Jatiluwih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia, dengan aktifitas budaya pertaniannya dalam wadah lembaga. Sehingga sangat tepat Festival Jatiluwih ke tiga ini mengusung tema Sri Pahngayu Jagat, dimana hakikat Dewi Sri dalam falsafah Hindu Bali adalah kuasa atas kelahiran dan kehidupan, representasi yang disimbolkan dengan padi.

“Kondisi alam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatan mancanegara, dimana wisatawan dapat langsung terlibat dalam aktifitas pertanian di DTW ini sehingga menjadi asset yang sangat berharga bagi para petani,” ujar Bupati Eka.

Disamping itu, pengembangan kepariwisataan di kawasan ini dibangun dengan konsep pariwisata untuk petani, sehingga petani adalah aktor dari kegiatan pariwisata dan mendapat manfaat dari pariwisata. Dengan digelarnya festival ini sangat memotivasi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk sepakat bersama masyarakat Jatiluwih untuk menjaga alam dan budaya untuk dilestarikan.

Bupati Eka menambahkan, Festival Jatiluwih ini akan berlangsung sampai tanggal 22 September 2019 dengan menampilkan berbagai potensi pertanian, mulai dari produk olahan pertanian, sajian kuliner, aktivitas panen tradisional dan pengolahan lahan pertanian secara tradisional. “Mari kita jadikan event ini sebagai wahana untuk upaya pelestarian, wahana peningkatan produktivitas berbagai sektor, wahana promosi memperkenalkan wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata menarik yang ada di Kabupaten Tabanan, wahana pemberdayaan dan mensejahterakan masyarakat,” jelasnya.

Tidak lupa juga Bupati Eka atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan beserta seluruh masyarakat Tabanan, memohon kepada Menteri Pariwisata RI atau yang mewakili saat itu agar mempromosikan festival Jatiluwih ini untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik ke Jatiluwih khususnya dan Tabanan pada umumnya. 

Ditambahkan oleh Plt Kepala Dinas Pariwisata Tabanan, I Made Yasa, Festival Jatiluwih memang direncanakan digelar setiap tahun sebagai bentuk promosi pariwisata, terutama agar masyarakat khususnya wisatawan bisa lebih mengenal warisan budaya dunia yang dimiliki. "Tema nantinya juga akan berubah setiap tahunnya," ungkapnya.

Disamping itu, digelarnya festival juga terbukti telah meningkatkan kunjungan rata-rata 10 hingga 12 persen. "Terutama tamu eropa ya kebanyakan menyukai objek wisata yang alami," imbuhnya.

Sayangnya ia tidak bisa menyebutkan secara pasti total anggaran yang digunakan dalam Festival tersebut. "Untuk detailnya bisa ke manajemen, tetapi ada dari Pemda sekitar Rp 140 juta dan dari Kementerian Rp 200 juta berupa sponsor," tandasnya.

Dan menurut Tenaga Ahli Kementerian Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama I Gede Pitana, dirinya melihat peningkatan yang luas biasa dalam Festival Jatiluwih 2019 ini, dimana keterlibatan masyarakat semakin kompak. "Mengapa? Itu karena masyarakat merasakan betapa pariwisata memberikan manfaat bagi mereka ," ungkapnya.

Dirinya juga menilai jika masyarakat, subak, petani telah mendapatkan manfaat langsung dari ekonomi pariwisata sehingga mereka mulai menganggap pariwisata adalah masa depan. "Disamping itu dari segi pengelolaan manajemen juga sudah semakin rapi, peserta festival semakin profesional, dan ini harus terus ditingkatkan," pungkasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia