Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Kisah Tari Sakral dari Warga Desa yang Jujur

Oleh: Made Adnyana Ole

21 September 2019, 08: 31: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Tari Sakral dari Warga Desa yang Jujur

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

KETIKA merebak wacana di ruang resmi dan ruang tak resmi, di media massa dan media sosial, tentang tari sakral yang dilarang dipentaskan di sembarang tempat dan tak boleh dipentaskan untuk tujuan mendapatkan rekor MURI, saya teringat sebuah pemukiman terpencil di pedalaman Kecamatan Baturiti, Tabanan. Warga di tempat itu memiliki satu tarian yang sangat disakralkan oleh warganya.

Waktu itu akhir tahun 1990-an. Warga di wilayah bukit itu sedang menggelar upacara besar di sebuah pura. Saya tertarik meliput upacaranya. Seperti biasa, sebagai wartawan malas, saya tak tertarik menulis beritanya. Saya hanya tertarik menonton untuk kesenangan dan keingintahuan personal yang tak punya kaitan dengan naluri jurnalistik.

Lalu ada kabar dari Pemkab Tabanan bahwa sejumlah pejabat penting akan hadir dalam upacara itu. Dan itu kabar baik. Karena saya bisa berangkat bersamaan dengan para pejabat. Berangkat bersama pejabat adalah strategi saya sebagai wartawan jika meliput sebuah upacara adat atau upacara agama, apalagi upacara besar yang tak sembarang orang bisa masuk ke areal-areal penting dan sakral. Jika ikut rombongan pejabat, saya dipermudah bisa masuk, tentu karena dianggap satu rombongan dengan pejabat. Sungguh, untuk urusan masuk ke tempat sakral, kartu pers tak akan banyak menolong.

Jika bersama pejabat penting, apalagi sekelas Bupati atau Gubernur, saya tak akan ketinggalan momentum untuk meliput hal-hal yang saya inginkan. Berdasar pengalaman di lapangan, sejumlah agenda upacara kadang bisa diundur beberapa jam, hanya karena pejabat penting belum datang ke tempat upacara, atau dalam bahasa sekarang pejabatnya masih on the way alias OTW.

Saya pikir, di desa terpencil itu, saya akan bisa menyaksikan tarian sakral dalam waktu yang tepat. Tentu, karena berdasar dugaan, pementasan tarian sakral itu akan disesuaikan dengan kedatangan para pejabat. Atau sebaliknya, keberangkatan para pejabat sudah disesuaikan dengan jadwal pementasan tari sakral itu. Begitu tiba di pura di wilayah terpencil yang diapit hutan-hutan asri itu, saya bayangkan saya akan langsung bisa bertemu barisan penari sakral. Atau, tebak-tebakan saya saat itu, mungkin tari sakral itu dibuat semeriah mungkin dengan jumlah yang banyak, agar para pejabat bisa mengetahui dengan benar bahwa tempat terpencil itu punya potensi seni dan budaya yang amat tinggi dan adiluhung.

Namun, strategi saya salah. Saya keliru besar. Begitu sampai pada sore hari, suasana di pura biasa-biasa saja. Jumlah warga memang melimpah, tapi tak ada tanda-tanda akan dipentaskan tarian sakral, apalagi kolosal. Suasananya memang sakral, apalagi saat itu angin bertiup dingin dan pohon-pohon rindang di sekeliling pura seperti makhluk gaib yang mengawasi setiap manusia di bawahnya.

Betapa bodoh pikiran saya. Saya pikir pejabat penting yang saya kuntit dari belakang akan disambut dengan meriah di depan pura, atau bahkan di ujung desa. Saya pikir pejabat akan dikalungi rangkaian bunga warna-warni, lalu gamelan bertalu-talu dan mungkin puluhan atau ratusan penari dari gadis suci akan menari sepanjang jalan. Saya benar-benar bodoh. Rombongan pejabat hanya disambut dengan senyum ramah para pemuka warga, lalu disilakan duduk sebentar, lalu disilakan sembahyang di pura. Tak ada sambutan istimewa. Tak ada gamelan yang sengaja dibuat heboh, dan tari-tarian dengan penari yang sengaja dilipat-lipatkan jumlahnya.

 “Bukankah ada tarian sakral yang harus dipentaskan di pura ini?” Saya akhirnya bertanya bisik-bisik kepada seorang pemangku untuk konfirmasi. Pemangku itu mengangguk, mengiyakan. “Ya, Gus. Ada. Tapi harus dipentaskan tengah malam,” katanya. Saya merasa tertipu oleh pikiran sendiri.

Saking inginnya saya menonton tarian itu, saya merayu seorang pejabat kecil di bagian kehumasan Pemkab untuk saya ajak makemit alias menginap di pura itu. Pejabat itu mau. Saya akhirnya menonton tarian sakral pada tengah malam yang dingin. Saya kemudian tahu itu sejenis tari rejang. Saya menggigil, bukan hanya sebab dingin, tapi juga karena kesakralan tarian itu seakan masuk ke jiwa saya. Saya tak berani membantah perasaan saya.

Di desa kecil yang dingin itu, warga memelihara tari sakral dengan ketat. Penarinya harus belum menikah. Itu mungkin aturan yang sudah biasa. Yang unik, tari itu tak boleh diajarkan dan dipelajari. Jadi pada setiap upacara, anak-anak yang belum cukup umur untuk menari, harus menonton tarian itu dengan penuh seksama dan mengingat-ingat gerakan tariannya. Jika tiba gilirannya mereka menari pada upacara-upacara berikutnya, mereka  harus langsung menarikannya meski tanpa pernah mempelajarinya sebagaimana mereka belajar tari Trunajaya atau Oleg Tamulilingan.

Komposisi tariannya seperti ini: Penari yang paling sering menari dan diyakini paling hapal gerakan tariannya akan memilih menari paling depan, lalu diikuti oleh penari yang jam terbangnya lebih sedikit. Yang paling belakang tentu saja penari yang baru pertama kali menari dalam sebuah upacara. Jadi, regenerasinya jelas dan alami. Penari paling depan satu per satu akan menikah, sehingga penari di belakangnya menggantikan posisinya ke depan. Begitu seterusnya.       

Kini, ketika tari sakral jadi wacana penting setelah Gubernur Wayan Koster menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB), saya berpikir betapa tenget tari sakral itu. Kesakralannya tak hanya tertumpu tempat, pada upacara, pada usia penarinya, atau pada kostum, pada topeng, pada tombol atau gelungan penarinya. Kesakralan itu ada pada sikap warga yang punya keyakinan dan dengan jujur dan teguh mengikuti aturan-aturan yang diyakininya, meski tak tertulis sekalipun dalam pergub atau undang-undang.

Tunggu, tunggu, kok sepertinya serius sekali tulisan ini. Padahal saya hanya ingin mengatakan, pikiran keliru saya tentang pejabat penting yang disambut dengan tari kolosal pada sebuah upacara di desa kecil di pedalaman Baturiti itu tampaknya menjadi benar pada tahun-tahun belakangan ini. Tari kolosal makin banyak saja dipentaskan untuk menyambut pejabat. Apakah tari kolosal itu sakral atau tidak hanya sikap dan kejujuran yang bisa menjawabnya. Sikap dan kejujuran itulah kesakralan bagi kita dalam menjaga adat dan budaya Bali, baik jujur dalam berkarya maupun jujur dalam mencari uang dan kekuasaan. Nah, serius lagi, kan?  

Sikap dan Kejujuran Itulah Kesakralan

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia