Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Beji Cempaka di Banjar Dinas Sangkungan

Pakai Celana Dalam Saja Saat Melukat, Airnya Berhenti Mengalir

22 September 2019, 08: 15: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pakai Celana Dalam Saja Saat Melukat, Airnya Berhenti Mengalir

I Nyoman Semadi (SURPA ADISASTRA/BALI EXRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS - Guna mendapat informasi yang lebih detail soal Beji Cempaka di Banjar Dinas Sangkungan, Desa Tangkup, Sidemen, Karangasem, Bali Express menemui salah satu tokoh desa, I Nyoman Semadi. Pria berusia 63 tahun (saat diwawancarai tahun 2016) tersebut menuturkan bahwa kebiasaan yang berlaku di Beji Cempaka (soal melukat telanjang) tersebut benar adanya.

Semenjak ia kecil, beji tersebut sudah ada dan dimanfaatkan oleh warga desa untuk berbagai keperluan, seperti mandi, sumber air minum, dan hal-hal yang berhubungan dengan upacara agama.

Meskipun demikian ia tidak mengetahui secara pasti asal-muasal aturan tidak diperkenankan mandi menggunakan pakaian di areal tersebut. Fenomena tersebut menurutnya memang belum pernah diteliti secara ilmiah.

“Yang jelas sudah terbukti berkali-kali. Kalau ada yang mandi menggunakan pakaian, walaupun hanya menggunakan pakaian dalam, airnya akan berhenti mengalir,” ujarnya.

Meski tidak berhenti seketika, namun air tersebut menurutnya benar-benar berhenti mengalir. “Misalnya ada yang mandi pakai baju sorenya, besok paginya airnya akan berhenti mengalir,” jelasnya.

Saat ditanyakan mengenai pengaruh musim atau cuaca, ia mengatakan tidak ada, karena meskipun musim kemarau panjang beji tersebut senantiasa mengalir.

 Jika sudah berhenti mengalir, ini yang membuat repot masyarakat, karena harus menunggu waktu sekitar dua atau tiga minggu agar air tersebut kembali mengalir. “Tidak perlu upacara, biasanya sekitar dua atau tiga minggu, airnya pasti mengalir lagi,” ungkapnya. Masalahnya pada zaman dahulu beji tersebut adalah sumber air minum warga. Sehingga jika mengering, maka masyarakat akan kesusahan. Sedangkan saat ini, jika berhenti mengalir masyarakat masih punya pilihan lain, seperti membeli air minum kemasan.

Di samping karena faktor tersebut, Semadi juga menuturkan bahwa air tersebut bisa “macet” jika orang yang mandi ditempat itu sedang dalam keadaan cuntaka atau kotor secara niskala (gaib). Bahkan jika cuntaka-nya tergolong besar seperti ada anggota keluarga yang meninggal, maka dibutuhkan fenomena alam untuk kembali mengalirkan air tersebut. “Itu perlu hujan yang sangat besar, sampai air sungai meluap ke beji. Nah, setelah itu barulah biasanya airnya kembali mengalir,” beber mantan kelihan dinas selama 28 tahun tersebut.

Menurutnya sedikit cerita dari leluhur yang ia ingat adalah bahwa air tersebut sebenarnya berasal dari Pura Dalem yang lokasinya dekat dengan beji tersebut. Oleh karena itu, beji tersebut sangat disakralkan. Meski ada aturan mandi tidak boleh berpakaian, tidak ada yang berani berbuat tidak senonoh. “Kami percaya tempat tersebut adalah tempat yang suci,” tegasnya. Dengan demikian, menurutnya warga yang mandi secara otomatis terkekang untuk berbuat hal negatif meski hanya dalam pikiran. Selain itu, keharusan bertelanjang hanya bagi yang mandi. “Kalau hanya mengambil air atau cuci muka, tidak masalah dengan pakaian,” tandasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia