Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pohon Pule; Angker Berkhasiat Super, Seluruhnya Berfungsi Obat

22 September 2019, 17: 57: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pohon Pule; Angker Berkhasiat Super, Seluruhnya Berfungsi Obat

TERUKIR:Saking banyaknya orang nunas babakan Pule. Pohon Pule di Jalan Gatot Subroto ini terlihat seperti diukir setelah tumbuh besar. Pule menjadi pohon yang begitu banyak khasiat, bahkan seluruh bagian dari pohonya berkhasiat obat. (SURPA ADISASTRA/BALI EXRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Penggunaan pohon Pulai (Alstonia scholaris) atau yang dalam Bahasa Bali dinamakan Pohon Pule dalam sistem pengobatan tradisonal di Bali bukanlah hal yang baru. Pule diyakini sebagai obat yang mujarab dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit, baik medis maupun magis.

Dalam Lontar Taru Premana disebutkan bahwa Pule memang memiliki beberapa khasiat, terutama obat panas. Lebih jelasnya sebagai berikut :“Titiang taru pule, daging dumelada, engket panes, akah tis, muncuk titiange dados anggen tamba ngebus, rawuhing gula, nyuh tunu” (saya pohon Pule, daging sedang, getah panas, akar sejuk, pucuk saya bisa digunakan obat panas, tambahkan gula, kelapa bakar).

Sebelum membahas lebih mendalam tentang Pule, Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, I Nyoman Prastika yang ditemui di kantornya pada Sabtu (3/7/2016) mengungkapkan bahwa dalam Ayurveda digolongkan tiga jenis makanan, yakni Sattvik, Rajasik, dan Tamasik. Makanan Satvik adalah makanan yang memberikan ketenangan, Rajasik makanan yang membuat agresif, sedangkan Tamasik adalah makanan yang membuat pasif atau malas. Semuanya bisa dikonsumsi, namun dianjurkan untuk mengutamakan makanan Satvik.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa banyak tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk obat. Menurut Ayurveda, tanaman-tanaman yang bisa dimanfaatkan dibagi menjadi empat jenis, yakni Vanaspati atau tanaman yang menghasilkan buah, Vanaspatya yaitu tanaman yang menghasilkan bunga dan buah, Virut yaitu tanaman menjalar dan Osadhi yaitu tanaman sekali berbuah kemudian mati.

“Jika berbicara Pule, di Bali dianggap tenget (sakral) karena besar dan tinggi, sehingga cocoknya hidup di tempat luas,” ungkapnya. Menurutnya di Bali tanaman ini secara umum tumbuh dengan baik di jaba (pekarangan) pura atau kuburan. Oleh karena bentuk fisiknya yang besar dan tingginya yang bisa mencapai 30 meter, masyarakat Bali meyakini tanaman itu ada penunggunya sehingga dianggap tenget.

Mengenai pemanfaatan Pule untuk bahan dasar obat, ia mengatakan bahwa Pule termasuk ke dalam kelompok Vanaspatya. Sebenarnya Pule ada dua jenis, yakni yang Pule putih dan Pule hitam, namun di Bali biasanya disebut Pule saja. Perbedaannya berdasarkan warna kulit batang. Mengenai pemanfaatan tidak ada perbedaan.

Ia lanjut menjelaskan bahwa menurut ayurveda semua bagian Pule dapat dimanfaatkan. Mulai dari akar, batang, kulit dalam dan luar, daun, sampai getahnya. “Makanya di Bali dikenal istilah cara punyan Pule (seperti pohon Pule), batangnya jelek namun semua bagiannya dapat dimanfaatkan untuk obat,” ujarnya. Beberapa di antaranya bisa dimanfaatkan untuk mengobati demam, bisul, mencuci luka, lambung, diabetes, sakit gigi dan sebagainya.

Pemanfaatan Pule sebagai obat berupa obat dalam dan luar. Obat dalam biasanya untuk diminum, misalnya loloh dan rebusan, sedangkan obat luar boreh. “Loloh dan air rebusan berbeda,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa loloh tidak direbus. Biasanya yang dipakai loloh adalah kulit dalam dengan cara diremas dan dicampur dengan air. Setelah disaring, air remasan yang disebut loloh tersebut langsung bisa diminum. Manfaatnya bisa mengobati penyakit lambung dan meningkatkan nafsu makan. Agar tidak terlalu pahit, bisa dicampur dengan bahan lain agar tidak terlalu pahit seperti madu, asam, atau garam.

Tetapi menurutnya secara akademik ia biasanya berdiri sendiri atau tidak dicampur apapun. “Nah, kalau tahu kandungan bahan campurannya dan bisa memperkuat kandungan Pule, maka dapat ditambahkan,” lanjutnya. Dengan demikian maka, menurutnya otomatis dapat memperkuat khasiat Pule tersebut.

Sedangkan mengenai air rebusan, menurut pria asal Bumi Serombotan tersebut, biasanya berdiri sendiri. Segenggam kulitnya yang telah dibersihkan direbus dengan air satu liter hingga menjadi setengah liter. “Kalau sudah menjadi setengahnya, dianggap zatnya maksimal tercampur dalam air rebusan itu,” paparnya. Air rebusan tersebut kemudian dapat dijadikan obat untuk mengatasi diabetes, diare, atau bisa untuk mencuci luka.

Untuk mengobati penyakit bisul, ia menyarankan agar yang digunakan adalah daunnya. Bisa diambil beberapa daun segar, kemudian diulek. Setelah itu, ulekan yang disebut boreh tersebut bisa ditempel pada bisul sehingga cepat keluar nanahnya. Bisa pula dengan memanfaatkan daun kering yang dijadikan bubuk dengan campuran air secukupnya dan ditaburkan pada bisul. “Walaupun sudah kering, tidak mengurangi khasiat,” tegasnya. Sedangkan getahnya khusus untuk mengobati penyakit kulit seperti bintik-bintik merah.

Ia kembali menambahkan jika penggunaan untuk boreh, sebaiknya saat pasien mendapat paparan sinar matahari pagi. “Babakan Pule ditambah sindrong jangkep, pamor bubuk (kapur sirih), jeruk nipis, air cuka, itu bagus sekali manfaatnya” ungkapnya.

Ketika ditanya ada bahan yang kontraindikasi dengan zat yang terdapat dalam Pule, ia pun mengatakan bahwa harus ada keahlian khusus dan pengujuan dalam laboratorium. “Jika ingin menjadi pengobat yang profesional, harus kuliah di Ayurveda karena ada mata kuliah Vitofarmaka untuk mengetahui kandungan pada tanaman,” jelasnya sembari tersenyum.

Secara tegas ia mengungkapkan bahwa terkadang ada kesalahan dalam membuat obat. Hal yang dianggap sepele misalnya merebus dengan panci yang bahannya logam, seperti aluminium. “Nahh itu banyak berkurang khasiat obatnya, karena Al bereaksi dengan zat asam di Pule sehingga ada zat yang hilang atau menambah residu,” ujarnya. Ia pun menekankan agar pengolahan obat tradisional lebih baik menggunakan payuk (wajan berbahan tanah) atau jika lebih modern minimal menggunakan alat berbahan teflon agar tidak mengkontaminasi obat.

Menurutnya payuk pada zaman dahulu berisi simbol khusus. “Dulu payuk-payuk yang belum dipakai melalap obat diisi simbol tapak dara (mirip tanda tambah). Itu simbol Tuhan, svastika,” ungkapnya. Bahkan ia mengatakan bahwa di UNHI dalam merebus obat menggunakan payuk yang dibeli khusus di Jogja, karena kualitasnya bagus.

Selanjutnya ia mengungkapkan bahwa meski Ayurveda sudah modern tetap menggunakan mantra dalam pengobatan. Menurutnya tetap ada lafalan khusus agar obat yang akan diberikan kepada pasien berkhasiat maksimal.

“Ada itu, yoga mantra,” ujarnya.

Namun bagi yang tidak bisa atau tidak tahu dapat menggunakan ucapan sederhana dalam bahasa yang dipahami. Misalnya dengan bahasa Indonesia, cukup didoakan kepada Tuhan, semoga obat yang diberikan tersebut bermanfaat bagi pasien.

Bagi yang lebih ekstrem, ada cara yang dipercaya dapat memaksimalkan fungsi obat tersebut, yakni disebut dengan pasupati (pembangkitan kekuatan magis). “Bisa di-pasupati dengan tujuan mengkonstruksi manfaat obat tersebut,” imbuhnya.

Dari sekian banyak manfaat Pule tersebut, menurutnya secara umum semua bagian Pule atau dalam istilah Bali disebut sakemulan atau sawit dapat dimanfaatkan untuk pengobatan. Pihaknya pun telah memproduksi untuk pengobatan berbagai macam penyakit, seperti yang asam urat dan gangguan otot.  Mengenai pelestarian Pule sebagai Tanaman Obat Keluarga (Toga) di Bali menurutnya belum ada yang secara khusus, tapi biasanya di desa-desa distek dan digunakan sebagai pagar. Pule adalah pohon yang tergolong mudah untuk tumbuh.

“Bijinya jatuh juga cepat tumbuh,” ujarnya.

Oleh karena itu, jika dikaitkan antara sisi Pule sebagai tanaman obat dan sisi lainnya yang dianggap angker, menurutnya tergantung erkembangan persepsi masyarakat.

“Sepanjang itu untuk obat, tidak berdimensi magis. Bahkan di Jawa biasa ditanam di depan rumah,” jelasnya.

Namun, karena di Bali tumbuhnya di tempat suci seperti pura atau kuburan, masyarakat masih menabukan untuk menanam di pekarangan rumah. Bahkan jika mencari bagian pohonnya di suatu tempat, tidak bisa sembarang. “Biasanya membawa canang atau banten, bahkan bersama jro mangku, baru berani noreh,” ungkapnya.

Ia pun menambahkan bahwa dalam ayurveda ada istilah Ahara, yakni tanaman sebagai makanan yang sekaligus sebagai obat. “Itulah makanan sehat. Jadi lebih baik mengkonsumsi makanan yang alami tanpa dicampur pewarna dan bahan berbahaya,” tutupnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia