Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Suardana dan Juniarta; Dua Bersaudara yang Hidup Diasuh Bibinya

25 September 2019, 10: 26: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Suardana dan Juniarta; Dua Bersaudara yang Hidup Diasuh Bibinya

KERJA KERAS: Suardana (kiri) dan Juniarta (tengah) diharapkan terus bekerja keras oleh Wakil Bupati Made Kasta. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

I Kadek Suardana,15, dan I Komang Juniarta,13, dua bersaudara yang diasuh bibinya, Ni Wayan Sadiari adalah warga kurang mampu di Dusun Payungan, Desa Selat, Klungkung. Selain kurang mampu dari sisi harta, Suardana dan Juniarta juga tak mendapat kasih sayang kedua orang tuanya.

I MADE MERTAWAN, Semarapura

 

 

AYAHNYA meninggal dunia saat Juniarta berusia 6 bulan. Ayahnya meninggal akibat jatuh dari pohon nangka. Tak lama setelahnya, sang ibu juga pulang ke rumah aslinya di wilayah Sidemen, Karangasem. Hingga saat ini, kedua anak tersebut diasuh oleh Sadiari. Selasa (24/9) rombongan PMI Kabupaten Klungkung yang dipimpin Ketua PMI I Made Kasta mendatangi rumah dua bersaudara itu. Mereka terlihat begitu sopan menyambut tamu dengan mengucapkan om swastiastu, lanjut cium tangan Kasta dan beberapa orang lainnya.

Hal itu pun membuat Kasta yang notabene Wakil Bupati (wabup) Klungkung terharu. Kedatangan Kasta untuk memberikan bantuan sembako dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) PMI. “Kita senasib dik,” ujar Kasta. Kasta mengatakan demikian karena sejak kecil juga tidak mendapat kasih sayang orang tuanya. Sehingga dia tahu betul perasaan kedua anak tersebut.

Kasta mengingatkan agar kedua anak tersebut tidak patah semangat. Tetap bekerja keras, dan tidak membiasakan diri mabuk-mabukan, apalagi sampai terjerumus dalam peredaran gelap narkoba. “Jangan malu untuk bekerja keras,” pesan Kasta. Politikus Partai Gerindra asal Desa Akah, Klungkung itu juga berpesan kepada Sadiari agar tidak pernah bosan mengasuh kedua anak tersebut.

Hidup di keluarga kurang mampu mengharuskan Suardana dan adiknya harus berkerja keras membantu bibinya agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk agar ada bekal sekolah, maupun persiapan melanjutkan sekolah setelah lulus SMP nanti. “Selain agar bisa lanjut sekolah SMA, saya juga ingin punya motor,” ungkap Suardana, siswa kelas IX SMP Negeri 4 Semarapura itu. Sedangkan adiknya kelas VII di sekolah yang sama.

Hampir setiap pagi mereka bangun tidur sekitar pukul 06.00. Lanjut menyusuri tepi sungai memetik sayur yang tumbuh liar. Seperti paku (pakis), kangkung dan dapat ketela pohon. Tak hanya untuk dikonsumsi, sayuran itu juga dijual oleh bibinya di Pasar Cucukan, Desa Selat. “Kami sekolah siang, jadi sebelum sekolah bisa cari sayur-sayuran dulu di sungai,” terangnya.

Saat sayur yang biasa dipetiknya belum tumbuh, keduanya harus keliling kebun orang lain, memungut buah kelapa untuk dijual. “Kadang-kadang bantu bibi panjat pohon nangka, petik buahnya. Kan bibi jual beli nangka. Nangka dijual di pasar sama sayur,” jelas Suardana. Mereka juga memelihara seekor kucit (anak babi) yang pakannya dicarikan di kebun tetangga.

Sadiari mengungkapkan, keponakannya memang tidak punya warisan tanah untuk perkebunan. Mereka hanya punya warisan pekarangan rumah saja. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-haris harus berusaha bersama.  Sadiari biasa membeli nangka dan buah lain warga sekitar yang dijual kembali di pasar.

Perbekel Selat I Gusti Ngurah Putu Adnyana mengatakan, pemerintah telah membantu keluarga tersebut dengan bantuan bedah rumah, Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). “Kami juga masih mengusulkan bantuan perbaikan bangunan dapurnya,” ujarnya. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia