Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Pedagang Es Keliling, Sekolahkan Anak hingga Jadi TNI

03 Oktober 2019, 18: 01: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pedagang Es Keliling, Sekolahkan Anak hingga Jadi TNI

ES: Salah satu pedagang es roti keliling, I Made Mardika yang berjualan di sekitar kantor Pemkab Gianyar, Kamis (3/10). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Pedagang es roti selai, I Made Mardika berhasil menyekolahkan dua anaknya. Bahkan satu diantaranya sekarang sudah menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Saat ditemui, Kamis (3/10) pria asli Kelurahan Bitera, Kecamatan Gianyar tersebut mengaku selain berjualan es ia juga menjadi tenaga harian lepas (THL) petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gianyar.

Pagi harinya ia bekerja membersihkan sampah yang ada di sepanjang jalan wilayah Kota Gianyar. Sedangkan siangnya ia bekerja sebagai pedagang es keliling menggunakan pakaian adat dan membawa sepeda motor menyusuri kantor dinas di lingkungan Pemkab Gianyar. “Biasanya dihubungi oleh pembeli, kalau sudah ditelepon langsung menuju kantor bersangkutan. Kalau tidak ada yang menelpon, ya keliling-keliling seperti ini saja dari kantor satu ke kantor lainnya,” terangnya. 

Mardika atau yang kerap dipanggil Pak Made Saye karena dulunya Kelihan Tajen, ia merupakan seorang ayah dari dua anak. Kedua anaknya pun sudah pada bekerja. Ia menjelaskan satu anaknya sudah menjadi anggota TNI yang tugas di daerah Lombok, dan satunya lagi masih menjadi pegawai THL di salah satu instansi pemerintahan di Gianyar.

Sedangkan disinggung terkait penampilannya yang selalu menggunakan busana adat madya saat berjualan, Saye mengaku sebagai ciri khasnya. Karena selaku orang Bali, ia berkeinginan menjadi pedagang es yang mengadopsi kearifan lokal. Sehingga pada gerobak es miliknya berisi tulisan es ajeg Bali.

“Menjual es sudah sejak kelas 1 SMA dulu saya tekuni, tapi sempat berhenti karena malu setelah naik kelas waktu itu masih menggunakan seragam sudah berjualan. Sehingga sempat berhenti, dan sekitar tiga tahun lalu kembali saya berjualan es,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia pun mengaku berjulan es keliling mulai pukul 11.00 sampai pukul 15.00. Jika masih sisa banyak, dan tidak laku kadang ia pulang pukul 16.00. Untuk mencari perhatian pembeli, tak jarang ia mengeluarkan suara keras di tempat berkumpulnya pegawai yang beristirahat dengan kata-kata, “Es,es,es, sampunen len-len. Niki udeng tiyang cingakin, tumbasin semetone,” ucapnya dengan keras.

Made Saye mengatakan hal tersebut selain memberitahukan bahwa dirinya orang Bali berjualan es, supaya tidak hanya dilihat saja oleh para pegawai. Maka tidak jarang, beberapa pegawai maupun masyarakat umum datang untuk membeli esnya.

Salah satu pembeli, Ni Wayan Noviantari mengaku es yang dibelinya dari Bapak Made Saye rasanya berbeda. Karena tekstur es dan rasanya tersebut dikatakan tidak kasar bahkan tidak membuat kerongkongan kering. Meski dengan seharga Rp 5 ribu, ia pun mengaku sering kali nambah es roti selain tersebut saat membelinya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia