Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

PD Pasar Berharap Pasar Badung Pakai Sistem Kerjasama Pemanfaatan

06 Oktober 2019, 18: 46: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

PD Pasar Berharap Pasar Badung Pakai Sistem Kerjasama Pemanfaatan

PASAR BADUNG: Suasana pedagang di pasar badung. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Meskipun sampai saat ini hibah Pasar Badung dari pusat belum turun, PD Pasar sudah membuat rancangan atau kajian jika nantinya Pasar Badung resmi dikelola Pemkot Denpasar.

Direktur Utama PD Pasar, IB Kompyang Wiranata mengatakan ada dua opsi dari PD Pasar untuk pengelolaan Pasar Badung yaitu penyertaan modal atau bisa dengan kerjasama pemanfaatan.

PD Pasar Berharap Pasar Badung Pakai Sistem Kerjasama Pemanfaatan

PASAR BADUNG: Suasana pedagang di pasar badung. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Namun dikatakan pihaknya lebih condong kepada kerjasama pemanfaatan dikarenakan jika menggunakan opsi penyertaan modal otomatis akan kena beban penyusutan. Pihaknya berharap Pemkot maupun dewan menyetujui hal ini.

"Kajian internal kami dari sisi keungan dan kelangsungan manajemen PD Pasar adalah kerjasama pemanafaatan, karena ketika diserahkan dengan penyertaan modal artiya akan dibebani penyusutan. Dan ketika nanti sudah dihitung rugi laba perusahaan, efeknya pasti tidak bisa menyetor ke PAD karena perusahaan akan merugi dalam bebrapa periode karena penyusutannya 5 persen," ujarnya..

Kompyang mencontohkan jika pendapatan kotor Rp 150 miliar dengan penyusutan 5 persen, maka nilainya hampir Rp 7.5 miliar. Sehingga agar bisa pakpok, pihaknya harus mengejar keuntungan bersih sebesar Rp 7.5 miliar.

"Kami harus kejar keuntungan Rp 7.5 miliar agar bisa pakpok, karena rugi laba perusahaan dihitung setelah dipotong beban penyusutan," katanya.

Sementara itu, jika menggunakan pola kerjasama pemanfaatan pengelolaan artinya aset tetap milik Pemkot Denpasar tetapi dikerjasamakan pengelolaannya kepada PD Pasar.

Artinya setiap pungutan yang dilakukan di Pasar Badung otomatis akan disetorkan langsung dengan persentase tertentu setelah ada kesepakatan.

"Contoh kami melihat potensi yang ada di Pasar Badung Rp 7.5 miliar sampai Rp 8 miliar saat ini, nantinya bisa Rp 9 miliar hingga Rp 10 miliar, artinya kalau 30 persen disetorkan, berarti Rp 3 miliar sudah masuk ke PAD atau ke khas daerah, sisanya kami akan jadikan pendapatan PD Pasar untuk manajemen pengelolaan," ujarnya.

Selain itu setelah ada perhitungan rugi laba, jika ada laba bersih tentunya akan ada pemasukan lagi untuk PAD. Kompyang kembali mencontohkan pengelolaan Pasar Badung setelah kebakaran pada tahun 2016 diserahkan dengan pola penyertaan modal senilai Rp 62 miliar.

Karena adanya temuan BPK terkait pencatatan ganda aset yang ada di PD Pasar dengan di Pemkot dan dari hasil audit disalahkan karena aset ganda.

"Akhirnya kembali dihitung ulang, diserahkanlah berupa penyertaan modal, aset-aset yang selama ini dobel pencatatan, menjadi tercatat di PD Pasar dan ini kena beban penyusutan 5 persen atau hampir Rp 3.5 miliar sehingga kami tidak bisa memberikan kontribusi ke PAD," tuturnya.

Padahal sebelum kebakaran, pihaknya selalu bisa memberikan kontribusi ke PAD. Selain itu, dampak dari penyertaan modal dengan penyusutan ini hingga tahun 2018 dan 2019 ini, pihaknya belum bisa berkontribusi untuk PAD Kota Denpasar.

"Walaupun perhitungan rugi laba kami di RKAP Perubahan 2019 ini kami sudah memperoleh keuntungan Rp 1.5 miliar. Kalau tida ada beban penyusutan, tidak diserahkan penyerahan modal, kami kira sudah bisa memberikan keuntungan waluapun dalam kondisi Pasar Badung kebakaran," ungkapnya.

(bx/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia