Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Sayan, Tempat Berkumpulnya Pemegang Mandat Kerajaan

08 Oktober 2019, 10: 41: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sayan, Tempat Berkumpulnya Pemegang Mandat Kerajaan

SAYAN : Suasana Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, yang kental dengan aktivitas budaya, seni, dan ritual. Aktivitas kian beragam karena warga yang tinggal di Sayan adalah rarudan (perpindahan) warga dari berbagai daerah di Gianyar. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Desa Sayan di Kecamatan Ubud, Gianyar, merupakan kawasan perbatasan dari kekuasaan antarkerajaan di masa lalu. Di kawasan inilah tempat berkumpulnya orang-orang yang mendapatkan tugas untuk mempertahankan benteng kekerajaan zaman dahulu.

Ahli lontar dan perancang purana sebuah desa adat, Ida Bagus Bajra mengatakan,
wilayah Sayan sudah ada sejak zaman Bali kuno pada 1985 masehi. Sayan berada di tengah-tengah, tidak berlokasi di utara dan selatan Pura Gunung Lebah, Campuhan Ubud. Pria asli Payangan itu menambahkan, sesuai lontar yang ada, Sayan sudah ada sejak Kerajaan Majapahit sampai Dalem Waturenggong, massa kolonial, penjajahan Jepang, massa revolusi, kemerdekaan, hingga sampai saat ini. “Sayan melewati semua peradaban zaman itu. Tepat pada abad ke-13 masehi, Sayan  bagian dari Bali tengah merupakan wilayah yang paling maju  dari wilayah yang lainnya waktu itu,” ungkapnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin di Payangan.


Pria yang akrab dipanggil Gus Bajra ini mengatakan, Sayan sebagai wilayah paling timur dari wilayah Kerajaan Mengwi.

Dari Kerajaan Mengwi mengutus  salah satu wakilnya untuk di Sayan, begitu juga dari wilayah Kerajaan Ubud di sisi utara dan timur mengutus wakilnya agar menempati wilayah Sayan. “Semua itu didukung dengan penemuan-penemuan aerkolog yang ada di Pura Masceti, Sayan dan Pura Puseh Desa Sayan," terangnya.

Dikatakannya,  Sayan merupakan wilayah bauran budaya dari beberapa kerajaan yang pernah menempati di sana. Makanya kehidupannya sangat heterogen, karena ada yang masuk dari Kintamani, Badung, Mas, sampai Klungkung. "Karena sibuk mengurus kewilayahan sehingga Sayan dulunya sempat dianggap wilayah yang kurang mengurus percintaan,” terang Gus Bajra.
Bahkan ia pun mengatakan, sampai saat ini tanda kehidupan yang heterogen tersebut sangatlah melekat di masyarakat Sayan.

“Sampai saat ini kehidupan setiap banjar yang ada sangat memiliki perbedaan masing-masing. Bahkan, pola pikirnya berbeda-beda juga sampai saat ini. Makanya, untuk membuat sesuatu di Sayan dalam menyamakan persepsi sangatlah sulit, karena memang begitu adanya sejak dahulu masih terbawa,” ungkapnya.


Gus Bajra menyampaikan daerah Sayan juga ditempati oleh masing-masing perwakilan kerajaan yang berpengaruh di sana. “Makanya golongan Satria di Sayan tidak satu trah ada di Sayan. Berbagai trah ada, dari Cokorda, I Dewa, Gusti, Ngakan, dan Anak Agung. Selain dari Satria mereka juga membawa beberapa trah lainnya yang dahulunya sebagai pengiringnya,” tuturnya.
Sehingga arti Sayan, lanjutnya,   terdiri atas dua kata, yakni Saya dan An, Saya yang berarti orang yang diberikan tugas. Sedangkan An berarti kumpulan.

“Berarti Sayan itu sebagai perkumpulan orang yang memiliki tugasnya masing-masing. Orang-orang terpilih di Sayan, mereka memiliki ciri khas tersendiri. Tidak ada satu bentuk usaha apapun yang berhasil menyatukan persepsi di sana. Untuk menyatukan itu selalu menjadi pertentangan,” bebernya.


Ditambahkannya, hal tersebut merupakan hal yang wajar, karena kehidupan di sana sangat heterogen. Perbedaan bisa dilihat dari bahasa, pelaksanaan upacara masing-masing banjar berbeda. Dipastikan untuk menyeragamkan semua warga sangat susah dilakukan.
Sedangkan disinggung masalah sumber mata air yang sulit di Sayan, Gus Bajra mengatakan  disebabkan tidak ada terowongan air khusus ke Sayan. Karena dari zaman kerajaan tersebut Sayan hanya dialiri air dari Dam Kedewatan.

“Sayan dianggap wilayah yang abu-abu, mengingat wilayahnya ada di perbatasan dan yang menempati juga dari beberapa perwakilan kerajaan. Sehingga pemimpin waktu itu tidak mau ambil risiko lebih," terangnya.


Dicontohkannya kalau wilayah Sayan nantinya milik Kerjaan Mengwi kan rugi jadinya kalau yang membuat terowongan di sana dari kerajaan lainnya. "Apalagi membuat terowongan biayanya sangat besar, selain tenaga juga upakaranya. Konon harus menyediakan persembahan anak yang belum menikah sebagai tumbal,” tandasnya.


Sampai saat ini, saluran irigasi air yang ada di Sayan mengambil dari Dam Kedewatan. Meski di sebelah barat desa terdapat Sungai Ayung, lanjutnya, tidak memungkinkan mengambil air di sana karena lokasinya sangat jauh di bawah. Sehingga hanya memanfaatkan air yang mengalir dari Kedewatan di sebelah timur desa setempat.


Ditemui terpisah, salah satu tokoh Desa Sayan, I Made Tragia mengatakan, sejarah Desa Sayan secara tertulis saat ini memang tidak ada. Namun, secara gugon tuwon (cerita masyarakat) dari mulut ke mulut yang diketahui melalui lelingsir masih ada. Meski pun kian semakin menghilang pada generasi sekarang. 


Desa Sayan lokasinya juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Badung yang dibatasi Sungai Ayung di sebelah barat desa. Di Barat Desa Sayan merupakan Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Desa Sayan tergolong desa yang cukup besar, karena terdiri atas dua desa adat. 


Dua desa adat, yakni Desa Adat Penestanan dengan dua banjar, terdiri atas Banjar Penestanan Kelod dan Penestanan Kaja. Sedangkan Desa Adat Sayan terdiri atas enam banjar, yakni Banjar Kutuh, Pande, Baung, Mas, Sindu, dan Banjar Ambengan.


Ditambahkannya, dapat dipastikan sesuai yang ia dapatkan terkait sejarah nama Desa Sayan merupakan sebagai perjalanan Rsi Markandya zaman kerajaan terdahulu.


Dijekaskannya, Sayan bermakna Sayuh atau lemah lesu, karena saat Rsi Markandya ke selatan dari Desa Kedewatan (Utara Desa Sayan) merasa kondisinya lemah dan lesu. Maka beliau balik lagi ke payogan menuju utara di daerah Taro. "Selanjutnya ada yang menyebutkan Sayah, yang berarti kondisi wilayahnya tidak karuan dan abu-abu, akibat dari banyaknya ditempati oleh perwakilan kerajaan yang ada,” terangnya. Pria yang juga Jero Dalang tersebut mengetahuinya dari cerita lelingsir terdahulu. Ia mengaku sesuai data yang ditemukannya pada Lontar Manawa Dharma Sastra dan Bhuana Kosa, terdapat juga yang menggambarkan sekitar Desa Sayan. Lantara kondisi wilayah yang Sayah dan Sayuh, lanjutnya,  maka ditugaskanlah seorang raja dari Puri Mengwi Badung bernama Banyu Ning dan adiknya Banyu Anyar menempati wilayah yang Sayah tersebut. Singkat cerita selanjutnya diberikan nama Sayan. Karena dikuasi oleh Kerajaan Ubud, maka diajaklah empat orang warga untuk tinggal juga di Sayan. Yakni rarudan (perpindahan) warga dari Desa Kutuh Ubud, sehingga terdapat Banjar Kutuh. Selanjutnya untuk membuat peralatan pertanian dan dapur, maka diajak juga seorang Pande dari Desa Peliatan, sehingga terdapat juga Banjar Pande di Desa Sayan.


Begitu juga dengan warga yang datang untuk tinggal di Sayan terdapat dari Desa Taro yang sampai saat ini terdapat di Banjar Baung. Sedangkan Banjar Mas, dikatakan rarudan dari Desa Mas dengan jumlah orang 28 warga lengkap sampai membuat gambelan angklung, dan sampai saat ini angklung tersebut tetap dimiliki oleh 28 krama (sekaa). 


Selanjutnya untuk kebaradaan Banjar Sindu dan Ambengan, Made Tragia mengatakan berasal dari daerah Batubulan. “Kalau warga Sayan asli memang tidak ada, karena semua yang tinggal di sini merupakan rarudan semua dari beberapa daerah. Makanya, kehidupan sampai saat ini sangat beragam dan menyatu meski berbeda trah dan asal –usul awalnya,” tuturnya. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia