Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Harga Tomat Anjlok, Petani di Baturiti Gigit Jari

08 Oktober 2019, 18: 41: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Harga Tomat Anjlok, Petani di Baturiti Gigit Jari

ANJLOK: Petani tomat saat menunjukkan tomat yang harganya anjlok, Selasa (8/10). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Petani tomat di kawasan Baturiti, Tabanan hanya bisa gigit jari setelah harga tomat belakangan ini anjlok. Bahkan harganya kini hanya Rp 1.000 per kilogramnya ditingkat petani.

Salah seorang petani tomat asal Banjar Pacung, Desa Baturiti, Tabanan, I Made Adi Suryaningrat, mengatakan jika kondisi tersebut sudah lama terjadi. Dimana kini harga tomat berukurang tanggung di tingkat petani hanya seharga Rp 1.000 perkilogramnya, dan kisaran Rp 1.200 perkilogramnya dipasaran. Jika normal harga tomat mencapai Rp 3.000 per kilogramnya, bahkan pernah mencapai Rp 12.000 per kilogramnya.

Menurutnya hal itu terjadi karena memang sedang sepi, termasuk pariwisata yang sepi dan perekonomian yang lesu. Padahal stoknya tidak begitu banyak, sehingga semestinya harga cenderung bagus. "Malahan sekarang pedagang yang menghabiskan 12 keranjang tomat perhari sekarang paling hanya 4 keranjang, itu pun sudah maksimal," ujarnya Selasa (8/10).

Atas kondisi tersebut, tak sedikit petani yang tidak memetik tomatnya dan dibiarkan busuk karena hasil panen tidak menutupi biaya tanam hingga perawatan. "Kalau harganya Rp 3.000 saja, itu dapat untungnya bagi petani walaupun sedikit," lanjutnya.

Parahnya, Selasa (8/10) harga tomat semakin anjlok di Pasar Baturiti. Bahkan ada yang sampai dijual borongan per keranjang Rp 30.000 saja yang artinya dibawah Rp 1.000 perkilogramnya.

Dirinya sendiri menanam kurang lebih 3.000 pohon tomat di lahan seluas 13 are dan melakukan panen setiap tiga hari sekali. Saat puncak panen, ia bisa memperoleh hingga 750 kilogram tomat. "Jadi hasil panennya berjenjang, awalnya dapat 100 kilogram, kemudian meningkatkan jadi 150 kilogram, lalu 250 kilogram, lalu 400 kilogram hingga saat puncak panen mencapai 750 kilogram," imbuhnya.

Selanjutnya tomat hasil panennya ia bawa ke pengepul. Ia pun berharap harga tomat bisa normal sehingga dirinya dan petani lainnya bisa bernafas lega. "Mudah-mudahan ekonomi mulai pulih lagi sehingga daya beli masyarakat kembali normal dan perputaran ekonomi lancar, pariwisata lancar karena itu sangat berdampak kepada petani," harapnya.

Namun dirinya tak mau berlama-lama terpuruk sehingga ia mencoba menanam timun karena harganya sedang bagus, cuaca yang mendukung dan tidak begitu banyak petani yang menanam. "Sekarang saya baru menanam timun usianya baru 26 hari, dan baru mulai berbunga, semoga hasilnya maksimal," tandasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia