Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Pasca Kasus Pencabulan Mencuat, Puluhan Anak Panti Dipulangkan

08 Oktober 2019, 19: 45: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pasca Kasus Pencabulan Mencuat, Puluhan Anak Panti Dipulangkan

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Panti asuhan yang menjadi saksi bisu perlakuan bejat Kadek Pilipus, 44 terhadap sejumlah penghuni panti kini sepi. Sebelumnya ada 33 anak panti yang tinggal disana. Namun kini seluruhnya sudah dikembalikan kepada keluarga. Ada pula yang dititipkan di panti asuhan lain di kawasan Kecamatan Seririt.

Kepala Dinas Sosial Buleleng, Gede Sandiyasa didampingi Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Perlindungan Anak, Alfons Kolimasang menjelaskan anak-anak panti itu sebagian besar berasal dari Buleleng.

Namun, ada juga empat anak diantaranya  berasal dari luar Bali. Sedangkan anak-anak yang berasal dari Buleleng, jumlahnya 29 orang dan sudah seluruhnya dikembalikan ke orangtuanya. Sementara untuk anak yang dari luar Bali, sudah dititipkan di salah satu panti kawasan Kecamatan Seririt.

Upaya penitipan ini dilakukan karena aktivitas di panti asuhan tersebut sudah ditutup oleh pihak yayasan. Pasca kasus pencabulan yang dilakukan Kadek Pilipus selaku Ketua LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) atau Ketua panti.

"Jadi yang perlu diluruskan, pelaku Kadek Pilipus ini bukan ketua yayasan. Dia adalah Ketua LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak). Jadi LKSA ini ada di bawah naungan yayasan selaku pemberi dana," ujar Sandhiyasa, Selasa (8/10). Kadek Pilipus sendiri adalah mantan caleg Hanura yang gagal.

Lanjutnya, 33 anak panti itu tidak seluruhnya tinggal di dalam asrama. Ada 18 anak diantaranya yang masih tetap tinggal bersama orangtuanya, seperti korban R (16) dan S (14). Dikatakan Sandiyasa, pihak panti hanya membantu mereka yang tergolong kurang mampu, untuk mendapatkan pendidikan di bangku sekolah, serta memberikan pelatihan keterampilan.

Hanya saja, saat hari-hari tertentu, ketika pelatihan musik berlangsung hingga larut malam, mereka pun memutuskan untuk bermalam di panti tersebut. Kesempatan yang kerap dimanfaatkan Kadek Pilipus untuk mencabuli R dan S.

"Sedangkan yang 15 anak mereka memang tinggal di panti asuhan tersebut, karena lokasi rumahnya yang cukup jauh, serta orangtuanya yang sama sekali memang tidak mampu untuk menghidupi anaknya. Nah korban N ini lah yang sempat tinggal di sana. Namun sekarang dia sudah keluar dari panti itu karena sudah tamat sekolah, dan saat ini sudah menikah," jelasnya. 

Pihaknya menyebut jika panti asuhan itu memiliki badan hukum yang sah dari kementerian. Izin operasionalnya tercatat berlaku hingga 2020 mendatang. Namun karena terjerat kasus ini, pihak yayasan sendiri lah yang menutup segala aktivitas yang ada di panti asuhan tersebut.

Belajar dari kasus kelam ini, Sandiyasa mengaku pihaknya sudah bekerjasama dengan Sakti Peksos, untuk melakukan pembinaan dan pengawasan di 17 panti asuhan yang ada di Buleleng.

"Kami  merekomendasi agar panti ini tetap lanjut, tapi dengan catatan agar susunan pengurusnya diperbaiki. Kasian anak-anak itu, secara manusiawi mereka juga harus dipelihara. Meski mereka sudah dikembalikan ke orangtuanya, untuk masalah sekolah sudah kami urus, dan sudah kami carikan sekolah yang jaraknya dekat dengan rumahnya," tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia