Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Musiman, Seekor pun Tak Ada Kokokan, Wisatawan Kecewa, Garap Tracking

09 Oktober 2019, 15: 30: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

Musiman, Seekor pun Tak Ada Kokokan, Wisatawan Kecewa, Garap Tracking

SEPI: Ketika tidak musimnya datang, suasana Desa Wisata Petulu benar – benar sepi dari burung kokokan. Namun jika musimnya, jumlahnya mencapai 10 ribu ekor yang datang. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Obyek Desa Wisata Kokokan di Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar saat tampak sepi pengunjung, Selasa (8/10). Hal itu disebabkan burung kokokan (bangau) datang ke sana tergantung musim.

PUTU ADE GRANTIKA, GIANYAR

MENGATASI permasalahan tersebut, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Petulu akan mengembangkan spot foto hingga jalur tracking dalam Desa Wisata (DEWI)  setempat.

Hal itu terungkap saat ditemui Ketua BUMDes Petulu  I Wayan Sudira. Ia mengaku burung kokokan memang datangnya dengan musiman. “Datangnya musiman, kebetulan bulan-bulan ini belum musimnya. Yang pas itu pada akhir Oktober sampai Maret biasanya mereka datang. Saat ini palingan mereka datang waktu sore hari saja dan pagi sudah terbang,” paparnya.

Sedangkan untuk Bulan April sampai awal Oktober dijelaskan memang sepi. Selain hanya menentukan musim, gerombolan burung kokokan itu pun datangnya pada setiap Bulan Purnama. Sudirma menyampaikan ketika tidak musim, gerombolan burung itu hanya datang kurang dari lima ribu. Namun ketika sudah musimnya, bisa mencapai 10 ribuan lebih yang memenuhi ranting pohon di sepanjang Desa Petulu.

“Makanya kalau tidak musim, lalu ada travel yang membawa turis ke sini mereka kadang kecewa. Kedepan kita akan bekerjasama dengan pihak travel agar mereka datang saat musim burung kokokan bersarang di sini,” kata dia.

“Selain itu kita di BUMDes akan mengembangkan desa wisata degan cara membuat jalur tracking, spot foto, sampai mendukung warung atau sejenis restaurant agar tamu yang datang bisa menikmati suasana Desa Kokokan ini sambil menunggu burungnya datang,” sambungnya.

Disinggung ketika tidak musim, kemana gerombolan burung itu bersarang?, Sudira mengatakan sampai saat ini masih menjadi misteri. Karena memang ada beberapa tempat mereka untuk bersarang secara terpisah, di tumbuhan belakang rumah warga maupun di desa lainnya. Namun ketika sudah memasuki akhir tahun ribuan burung akan datang  sendirinya dan bersarang di desa tersebut.

“Awal mereka datang sekitar tahun 1965 lalu, sampai di Pura Desa dan Puseh Petulu dibuatkan upacaranya setiap hari suci Kuningan. Tujuannya untuk menghormati mereka. Sampai-sampai ada perencanaan akan dibuatkan monument patung burung kokokan di Jaba Pura Desa dan Puseh Petulu. Itu juga nantinya akan menjadi spot foto yang bagus selain membuat sebuah sejarah, bahwa di sini adanya Desa Kokokan,” imbuh Sudira.

Diwawancarai terpisah, Kelian Dinas Desa Petulu, I Made Rawa selaku pengelola membenarkan saat ini sepinya pengunjung di sana. Sepinya kunjungan wisatawan akibat saat bulan ini burung kokokan di Desa Petulu sudah pergi dari sarangnya sejak pukul 06.00.

“Pada saat wisatawan berkunjung, tidak didapati seekor burung kokokan, wisatawan sepertinya kecewa.Berbeda saat musimnya, kunjungan wisatawan dengan musim kokokan bertelur waktunya berbeda, sehingga jarang mendapat kunjungan wisatawan,” imbuhnya.

Persoalan lain yang dihadapi adalah kesulitannya memindahkan burung kokokan ke hutan desa. Burung-burung itu lebih memilih tinggal pada pohon di sepanjang jalan dan rumah-rumah warga. “Kami sudah berusaha memindahkan burung-burung itu ke hutan desa, namun tetap saja kembali ke pohon di pinggir jalan atau rumah warga,” tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia