Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Turun ke Masyarakat, Gubernur Tak Ingin Penyambutan Berlebihan

09 Oktober 2019, 15: 37: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Turun ke Masyarakat, Gubernur Tak Ingin Penyambutan Berlebihan

Gubernur Bali, Wayan Koster (HUMAS PEMPROV BALI FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Gubernur Bali Wayan Koster tak ingin penyambutan berlebihan saat dirinya atau pejabat yang mewakili gubernur hadir dalam sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikannya Selasa (8/10) di Jayasabha.

“Saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih karena banyak masyarakat yang telah mengundang saya untuk meghadiri berbagai kegiatan. Saya juga sangat menghargai bahwa masyarakat telah mencurahkan banyak waktu dan tenaga untuk menyiapkan acara penyambutan saya. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat atas keramahtamahan dan niat baik masyarakat, saya berharap agar penyambutan kehadiran gubernur atau pejabat yang mewakili dilaksanakan secara sederhana,” papar pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Bali.

Gubernur Koster mengungkapkan bahwa ia telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 5199 Tahun 2019 tentang Penyederhanaan Penyambutan Pejabat Daerah Provinsi Bali yang ditujukan kepada para bupati dan walikota se-Bali serta masyarakat Bali.

Dalam Surat Edaran tertanggal 8 Oktober 2019 itu diuraikan tentang penyambutan secara sederhana itu, yakni tidak menggelar kegiatan protokoler secara berlebihan, seperti adanya barisan pagar ayu, gamelan bleganjur, tarian dan sejenisnya.

Penyambutan sebaiknya hanya dilaksanakan di tempat acara dengan format yang sederhana. Masyarakat diharapkan lebih mengutamakan substansi atau pokok yang menjadi maksud dan tujuan dari dilaksanakannya suatu acara.

Selain menelan waktu dan biaya yang besar, kegiatan seremoni penyambutan yang berlebihan juga berpeluang besar menciptakan jarak antara masyarakat dan pemimpinnya. Padahal Gubernur Koster ingin agar dirinya selalu dekat dengan masyarakat.

“Jadi acara penyambutan pejabat daerah itu seyogianya didasari sikap keramahtamahan, kesantunan, dan kepantasan, serta, yang sangat penting, tidak mengurangi suasana keakraban dan kedekatan antara pejabat daerah dengan masyarakat yang dikunjunginya,” ujar pria kelahiran Sembiran ini.

Gubernur Koster mengingatkan bahwa visi pembangunan daerah Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali" melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru dilandasi dengan semangat kepemimpinan yang parasparos, sarpana ya, gilik-saguluk, serta salunglung sabayantaka.

“Semangat kepemimpinan yang sederhana, bersahaja, dekat dan bersama rakyat baik dalam suka maupun duka. Pemimpin yang tidak membebani rakyat tetapi selalu ada untuk masyarakat. Sehingga diharapkan para Pejabat Daerah mampu mewujudkan semangat ini,” tandasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia