Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Dikejar Belanda, Daratan “Disulap Jadi Lautan” di Pura Tumbal Segara

09 Oktober 2019, 16: 01: 52 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dikejar Belanda, Daratan “Disulap Jadi Lautan” di Pura Tumbal Segara

SATU: Hanya ada satu palinggih yang berdiri di Pura Tumbal Segara di Buduk, Kecamatan Mengwi, Badung. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BUDUK, BALI EXPRESS -  Pura Tumbal Segara di Desa Buduk, Mengwi, Badung, berada di pekarangan warga.  Terkesan seperti pura kecil, namun punya kisah yang sangat besar bagi pejuang di era penjajahan di Bali.

Banyak pura kuno ada di Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Badung. Bila menelusuri Jalan Taman Beji Buduk, akan terlihat deretan beberapa pura. Ada Pura Hyang Ibu Pasek Badak hingga Pura Dalem Kedaton. Masuk ke lingkup jalan lebih kecil, akan tampak juga  sebuah pura kuno.

Dikejar Belanda, Daratan “Disulap Jadi Lautan” di Pura Tumbal Segara

Pangarep Pura Tumbal Segara, I Made Mustika (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Pura dengan satu palinggih berdiri di atas area yang tidak terlalu luas. Jika sekilas meihat, tidak ada yang istimewa dari palinggih tersebut. Dengan lokasi yang di pekarangan warga, tentu akan mengira bahwa pura ini adalah pura keluarga milik yang empunya rumah di sebelahnya.

Namun, bagi yang mengerti sedikit tentang arsitektur pura, pasti akan terkejut bahwa masih ada pura dengan bentuk bebaturan berdiri tegak di tengah pemukiman warga ini. “Iya, ini pura kuno. Bahkan nenek saya yang saya tanya  juga tidak tahu pasti sejarah pura ini. Pokoknya sudah napetan (sudah ada) berdiri,” ujar I Made Mustika, 45, selaku pangarep pura saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Dari cerita panglingsirnya, diketahui bahwa daerah tempat tinggalnya di Banjar Gunung adalah tanah wayah (pemukiman kuno). Alasan yang ia temukan, karena adanya tiga pura kuno di wilayahnya, yakni Pura Tumbal Segara, Pura Gunung Sari, dan Pura Ratu Nyoman Pangenter Jagat yang berdiri di Banjar Gunung. Ketiga pura itu sudah berdiri sebelum adanya penduduk lain yang datang ke Buduk pada zaman dahulu. “Ketiga pura ini  diempon oleh warga Pasek Tohjiwa,” ungkap I Made Mustika.


Dijelaskannya, Pura Tumbal Segara namanya berasal ari kata 'Segara' karena dahulunya dianggap sebagai pura pemujaan terhadap Tuhan yang bermanifestasi sebagai Ida Ratu Tumbal Segara yang berstana di Segara (laut).

Didirikan pemujaan beliau di Buduk, lanjutnya,  sebab dahulu daerah Buduk menjadi daerah paling selatan yang dihuni sebelum adanya desa lain di sebelah selatannya. “Waktu itu kan masih hutan, jadi menuju segara sangat jauh. Maka didirikanlah pemujaan beliau di sini,” terangnya.


Mengenai nama  Tumbal, I Made Mustika menjelaskan bahwa ini sebagai bentuk pengorbanan Ida kepada umat, yakni menolak bala, memberi kemakmuran dan sebagai benteng pelindung. “Anggapan jika tumbal itu selalu konotasi terkesan negatif itu salah ya, Tumbal Segara bukan berarti ada tumbal seperti yang kita tahu,” tegas pria yang bekerja sebagai wiraswasta ini.


Pura yang piodalannya jatuh pada Purnama Sasih Kapat ini menjadi bukti simbol perlindungan bagi umat karena digunakan sebagai tempat persembunyian bagi pejuang dari kejaran tentara Belanda. Kala itu masa penaklukan kerajaan-kerajaan di Bali oleh Belanda. Belanda saat itu melakukan pengejaran pejuang sampai ke Desa Buduk.


Ketika tiba di sekitar Pura Tumbal Segara, tentara Belanda tidak mendapati tanah lagi di dekat pura. Para tentara Belanda berteriak histeris. “Kok sudah ada di tepi pantai, begitu saya dikasih tahu tetua dulu,” beber I Made Mustika tentang keheranan tentara Belanda yang mengejar pejuang di Bali.


Pasalnya, pejuang yang bersembunyi di Pura Tumbal Segara tidak kelihatan oleh para tentara penjajah. “Tentara Belanda katanya heran karena tiba-tiba melihat laut. Padahal, kita tahu laut sangat jauh jaraknya dari Pura Tumbal Segara,” papar I Made Mustika.

Berdasarkan cerita tetuanya,  hal itu bisa terjadi karena pejuang yang dikejar Belanda sempat nunas (memohon) kepada Ida Ratu Tumbal Segara agar tidak bisa ditemukan oleh pasukan Belanda. "Hasilnya ternyata bukan disembunyikan saja, namun membuat pasukan Belanda kebingungan. Lantaran kejadian aneh itu, pura ini dianggap sebagai benteng perlindungan,” terang pria dua anak ini.


Sebagai pura yang dianggap memberikan kemakmuran oleh para pangemponnya ini, maka warga setiap ada acara tiga bulanan dan mempunyai acara hajatan apapun,  akan nunas tirta (mohon air suci) di sini.
Dikatakannya, ada sejumlah warga yang bertugas di luar Bali menjadi TNI/POLRI juga memohon perlindungan dan sembahyang di Pura Tumbal Segara. Biasanya, setelah datangbdari tugas luar daerah atau tugasnya selesai, kembali nangkil (datang sembahyang) untuk menghaturkan terimaksih, puji syukur, dan juga ada yang membayar kaulnya.


I Made Mustika mengatakan, demi menjaga eksitensi Pura Tumbal Segara sebagai pura  kuno, sekitar tiga tahun lalu dilakukan restorasi. "Dengan restorasi ini maka akan tetap mempertahankan nilai sakral dari pura. Pura ini adalah cihna (tanda bukti) kami. Pura ini adalah sebagai pasimpangan Ida Ratu Tumbal Segara,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia