Minggu, 20 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Lahan Eks Pasar Banjar Diusulkan Jadi Monumen Perang Banjar

10 Oktober 2019, 12: 12: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lahan Eks Pasar Banjar Diusulkan Jadi Monumen Perang Banjar

AUDIENSI: Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat menerima audiensi Desa Adat Banjar dan Perwakilan Geria Gede Banjar, Rabu (9/10) kemarin. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lahan bekas Pasar Banjar yang merupakan tanah desa adat diusulkan untuk dimanfaatkan menjadi kantor kepala desa dan Monumen Perang Banjar. Hal itu terungkap saat perwakilan Bendesa Adat dan Griya Gede Banjar bertemu dengan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, Rabu (9/10) kemarin di Lobi Kantor Bupati Buleleng.

Kelian Desa Adat Banjar Ida Bagus Kosala menjelaskan, usulan pemanfaatan lahan bekas pasar menjadi kantor perbekel dilakukan, mengingat kondisi kantor yang sekarang sangat sempit. Selain itu, dari sisi pelayanan disebut Kosala, juga kurang memadai. Terlebih, jumlah penduduk Desa Banjar semakin bertambah.

Dikatakan Kosala, selain untuk membangun kantor perbekel di sisi timur, lahan itu juga diusulkan untuk membangun Monumen Perang Banjar di sisi bagian barat.  Pembangunan monument dinilai penting dibangun untuk mengenang peristiwa heroik perjuangan Laskar Banjar dalam mengusir kolonial yang dipimpin Ida Made Rai tahun 1868 silam.

“Pembangunan kantor desa sebenarnya sangat diperlukan. Serta pembangunan monumen untuk mengenang perjuangan Perang Banjar. Kami berharap lahan itu bisa dimanfaatkan,” ujarnya kepada awak media di sela audiensi.

Kosala menambahkan, secara historis lahan itu dimiliki Griya Gede Banjar. Pasalnya, lahan itu merupakan bencingah Griya Gede Banjar. Namun, di era kepemimpinan Bupati Ginantra, sekitar 30 tahun silam, Griya Gede Banjar memberikan lahan bencingah griya untuk dimanfaatkan sebagai pasar umum. “Itu sebenarnya bencingah dari Griya Gede, dan diberikan kepada pemerintah untuk membuat pasar,” ungkapnya.

Atas usulan tersebut, Bupati Suradnyana mengatakan, pihaknya tak bisa menentukan status kepemilikan tanah yang kini sedang diusulkan untuk dimanfaakan. Sebab, status kepemilikan tanah merupakan ranah Badan Pertanahan Nasional (BPN). Pihaknya mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan musyawarah dalam pemanfaatan lahan ini.

“Status dari lahan ini sendiri harus jelas. Apabila nantinya lahan ini akan dimanfaatkan pihak Griya Gede, Pemkab Buleleng akan memberikan lahan untuk dijadikan kantor kepala desa,” jelasnya.
Bupati Suradnyana pun berencana turun langsung meninjau tanah bekas Pasar Banjar. Sehingga kedepan pemanfaatan lahan ini tidak menjadi sengketa antara desa adat dan pihak Griya Gede Banjar. “Nanti saya akan turun langsung ke lapangan untuk menentukan hasil yang tepat,” tutupnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia