Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Memaknai Pawintenan (2-habis)

Sia-sia Sekadar Ikut Tren Mawinten Pemangku

10 Oktober 2019, 21: 38: 19 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Sia-sia Sekadar Ikut Tren Mawinten Pemangku

BELAJAR : Bila sudah mawinten, apalagi jadi pemangku harus terus belajar karena umat kini makin jeli. (AGUS SUECA MERTA / BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Seorang yang berkeinginan menjadi pemangku, haruslah mempunyai niat mengabdi kepada umat dan Ida Sang Hyang Widhi. Selain itu, juga harus punya bekal ilmu pengetahuan dalam yadnya dan dasar-dasar pelayanan kepada umat.  Lalu bagaimana menyikapi jika seseorang sudah mawinten pemangku walau belum punya dasar pengetahuannya?

Ida Pandita Mpu Yogiswara mengatakan, menjadi seorang pemangku adalah sebuah perubahan status seseorang dari welaka. Dalam perubahan status ini, sering diikuti penggunaan kata Jro di depan kata Mangku. Jro sendiri tidak hanya sering dipakai oleh Jro Mangku, namun juga akrab dipakai untuk seorang perempuan yang menikah dengan kasta yang dinilai lebih tinggi, yang familiar di telinga dengan sapaan Bu Jro.

Ida Pandita Mpu Yogiswara menjelaskan, kata Jro adalah sebuah bentuk penyucian diri ke dalam hati. Dengan menyandang nama Jro, seorang seharusnya sudah mulai bisa mengendalikan diri. “Pengunaan Jro pada Mangku dan untuk yang menikah kemudian naik kasta itu beda, karena yang menikah itu penggunaan Jro lebih ke status trah baru yang disandangnya,” ujarnya.

Ditegaskannya, sejatinya manusia sama, mau dari kasta apa saja. Namun, seorang perempuan menyandang nama Jro setelah menikah sebaiknya memang lebih harus mengendalikan diri, sehingga menghasilkan vibrasi positif ke orang di sekitarnya. "Jangan sampai menyandang nama Jro itu hanya sebuah simbol belaka,” paparnya.

Mengenai adanya kesan tren ikut pawintenan pemangku. menurutnya seorang harus minimal sebaiknya sudah mengikuti pawintenan Saraswati, jika ingin jadi pemangku. Ida Pandita Mpu Yogiswara berpendapat bahwa tingkatan pawintenan ini seperti halnya masuk sekolah. Dari kelas TK, kemudian kelas 1 SD, dan seterusnya, sehingga dasar-dasar kepemangkuan sudah diketahui. “Sebaiknya kan seperti itu, seorang mau pemangku setelah ikut pawintenan saraswati dia belajar melayani umat, sehingga saat hendak ikut pawintenan kepemangkuan dia sudah mengerti,” paparnya.

Lebih lanjut, hal itu juga sama dengan yang ikut pawintenan Dasa Guna. Seperti mangku dalang, mangku pamong-mong, mangku pinandita, mangku balian atau usadha, dan lainnya harus sudah punya dasar tentang ilmu kepemangkuannya. “Bagaimana jika seseorang yang belum tahu, apa ingin ikut pawintenan pemangku atau dasa guna juga. Kalau bagi nak lingsir sendiri, jika ada yang datang seperti itu, maka nak lingsir tanya dulu alasannya,” ucap Ida Pandita Mpu Yogiswara.

Hal ini dilakukan, lanjutnya, agar nak lingsir tidak langung menjegal langkah mereka, karena menolak keinginannya untuk ikut pawintenan.

Mengikuti pawintenan kepemangkuan ataupun Dasa Guna bagi Ida Pandita Mpu Yogiswara, seperti mendirikan palinggih pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Seorang mendirikan palinggih akan menempatkan daksina lingga di palinggihnya. “Apa setelah itu kita yakin Sang Hyang Widhi berstana di sana? Kita akan tahu jika kita rajin sembahyang karena dari sana ada vibrasi dari palinggih. Coba palinggih yang tidak pernah ada persembahan dan sembahyang, pasti tidak akan merasakan vibrasi dari palinggih tersebut,” bebernya.

Begitu juga dengan yang ikut pawintenan kepemangkuan ataupun Dasa Guna. Jika setelah mawinten mereka tidak mengisi waktu belajar ataupun sembahyang untuk mendapat pawisik (wahyu), maka tidak aka mengahasilkan sebuah vibrasi. “Tentu tidak akan ada vibrasi positif ke sekitarnya dan membuat kecewa umat,” tutur pemilik nama welaka Wayan Mariadana ini.

Ida Pandita Mpu Yogiswara mengaku, setiap pelaksanaan pawintenan kepemangkuan ataupun Dasa Guna memberi wejangan kepada yang ikut pawintenan. Dia pun mengajak yang mengikuti pawintenan tersebut belajar bersama seminggu sekali. Dimana nantinya bisa mengutarakan keluh kesah setelah pawintenan dan sekaligus rembug bersama. “Belajar itu tidak salah, menjadi pintar itu tidak menyebabkan sengsara, kecuali menjadi pintar untuk membodohi orang,” tegasnya.

Selain itu ia pun juga bicara di depan penyaksi saat pawintenan untuk yang akan jadi pemangku. Dirinya selalu menekankan jangan sampai status mangku hanya sebuah dekorasi. “Konsekuensi memang tidak ada, namun seperti nak lingsir bilang tadi layaknya palinggih yang jarang disembahyangi, maka pemangku yang tidak belajar juga tidak akan memberikan vibrasi ke umat. Ingat umat sekarang sudah sangat jeli,” terang bungsu dari 13 bersaudara.

Mengenai pantangan sebelum mengikuti pawintenan, baik saraswati, kepemangkuan maupun Dasa Guna tidak ada. Namun, jika bisa ia pun menganjurkan agar sebelum ikut pawintenan melakukan puasa sebagai bentuk pengendalian diri. Puasa ini bagi Ida Pandita Mpu Yogiswara bisa memberikan kemudahan bagi orang yang ikut mawinten untuk belajar. “Tidak dipaksa ya, jika memang tidak kuat puasa. Misalnya karena punya maag, kan takutnya malah jatuh sakit,” sarannya.

Berkaitan dengan pawintenan ini, Koperasi Mas Amerta bersama Griya Gede Manik Uma Jati Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, melaksanakan pawintenan massal Saraswati, Kepemangkuan, dan Dasa Guna, untuk meringankan biaya umat yang akan dilaksanakan di Pura Griya Perak, Desa Pemogan, Denpasar Selatan saat  Purnama Kapat, Redite Umanis Menail, 13 Oktober 2019,  Pukul 17.00 Wita.  Bagi yang berminat bisa koordinasi dengan pigak Koperasi Mas Amerta dan  Griya Gede Manik Uma Jati Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan.

Setelah seseorang mawinten, Ida Pandita Mpu Yogiswara mengibaratkan sama seperti macaru, dimana untuk menetralisasi hal negatif di pekarangan harus ada unsur Bhuana Agung dan Alit yang terlibat. Selain itu, pekarangan sudah memenuhi asta kosala kosalinya. Jika tidak lengkap, maka macaru tidak bisa sukses hasilnya.

“Begitu juga dengan yang ikut mawinten, setelahnya harus belajar dan memperbaiki diri. Jika tidak, mau 100 ribu kali pun ikut mawinten akan sia-sia saja,” pungkas Ida Pandita Mpu Yogiswara. 

(bx/sue/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia