Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Musim Panen dan Musim Kawin

Oleh: Made Adnyana Ole

12 Oktober 2019, 10: 38: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Musim Panen dan Musim Kawin

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

MUSIM panen dan musim kawin di Bali adalah masa-masa bergembira. Musim panen kita pesta, musim kawin kita pesta. Tapi, itu dulu. Dulu. 

Kini musim panen hanya rutinitas yang tak istimewa, biasa-biasa dogen, sama seperti pergantian hari-hari, dari hari Minggu ke hari Minggu berikutnya. Kini musim panen hanya jadwal untuk memanen padi, bukan  perayaan tentang makna, bukan perayaan anugerah dari Pemilik Kehidupan, bukan pula perayaan tentang hidup yang disyukuri. Tak ada pesta panen, tak ada  permainan anak-anak, tak ada lomba petak umpet di timbun jerami, tak ada balap sapi di areal lumpur sawah.

Pada musim kawin, atau musim pernikahan, atau hari-hari ayu untuk gelar upacara pawiwahan, pesta mungkin tetap ada, bahkan lebih heboh. Tapi apalah artinya sebuah pesta pernikahan, jika berbagi pesta lain bisa digelar kapan saja, tanpa perlu ada upacara pernikahan? Pesta pernikahan lengkap dengan lawar, komoh, sate dan kini bahkan ditambah capcay dan  udang tepung, bukan lagi simbol dari kegembiraan terhadap bersatunya sepasang teruna dalam cinta, tapi kadang ia hanya jadi semacam tradisi yang sekadar harus ada. 

Dulu, musim panen dan musim kawin punya hubungan dan kerjasama yang baik untuk menciptakan pesta gembira. Saat mengatur jadwal menikah, selain mencari dewasa ayu, juga harus melihat kapan musim panen bakal tiba. Setidaknya, dengan perhitungan yang cermat, musim kawin akan terasa lebih megah dan meriah jika dijadwalkan beberapa hari, atau setidaknya sebulan, setelah musim panen. 

Tentu saja. Usai musim panen, beras tersedia dan kerjaan di sawah belumlah begitu padat. Jika sudah ada beras,maka upacara dan acara akan terasa lebih ringan. Jika ada beras, soal kelapa, sayur mayur dan rempah-rempah bisa dipetik dan digali sesuka hari. Soal babi, jika tak punya bisa dibeli dengan uang hasil penjualan sedikit gabah atau beras di musim panen. Di sisi tetangga, jika musim nikah tergelar usai panen, maka tetangga dan keluarga lain juga dengan gampang menyumbang beras, atau barang lain yang dengan ringan bisa dibeli dari uang hasil jual beras  

Jadi, dulu, jangan coba-coba menikah di masa pacelik. Selain berat bagi si empunya upacara, berat juga bagi tetangga yang hendak turut menyumbang. Bahkan pada saat seperti itu, orang nikah yang harusnya didoakan untuk bahagia selama-lamanya justru bisa disesalkan sebagai upacara yang memberatkan tetangga dan warga desa. 

Kini,  musim kawin dan musim panen tak punya hubungan apa-apa. Padi di sawah sudah dijual ke tukang pajeg alias tukang ijon bahkan ketika buah padi masih hijau meski tak royo-royo. Uang hasil ijon bisa habis sebelum padi benar-benar dipanen si tukang ijon. Tak ada lagi beras sebagai simbol prasyarat sebuah upacaravdan pesta pernikahan. Beras jadi uang dan uang bisa digunakan untuk apa saja. Soal nikah tak ada urusan dengan hasil panen.

Soal musim nikah bisa ditentukan tanpa perlu menunggu kapan musim panen usai. Menikah bisa digelar kapan saja, dengan uang atau tanpa uang. Jika tak ada uang, segala perlengkapan bisa ngutang dulu, dan syukur-syukur bisa ditutupi oleh bantuan para tetangga dan para tamu yang terkumpul di kotak amplop. Jika tak tertutupi, toh bisa dicicil pelan-pelan sembari mengarungi hidup baru. Pelan-pelan, jika tak lunas juga, ya, bisa ngutang lagi untuk tutup utang. Percayalah, meski hidup agak stress, tak akan ada yang tahu. Jalankan hidup biasa saja sembari sesekali mengunggah foto mesra di media sosial.

Saya menulis ini sebenarnya karena pada satu hari saya terjebak macet di sejumlah persimpangan jalan di sejumlah jalan raya di wilayah Denpasar, Tabanan dan Badung. Macet karena lalu-lintas amat krodit pada hampir di setiap persimpangan yang vital.

Lho, apa hubungannya musim panen dan musim kawin dengan kemacetan lalu-lintas? Begini. Seorang teman menganalisa, kemacetan terjadi karena hari itu adalah baik untuk menikah. Mungkin hari itu memang hari paling baik untuk menikah sehingga banyak pasangan memilih hari itu untuk dijadikan hari penting demi sahnya hubungan cinta nereka. Sehingga, pada hari baik yang paling baik itu, mungkin terdapat tiga atau lebih pasangan yang menikah dalam satu desa adat. 

Nah, yang jadi ruwet adalah para undangan. Mereka mendapat undangan bukan hanya dari  teman-temannya yang memang menikah, melainkan juga dari teman-teman yang anaknya menikah, atau bahkan teman yang cucunya  menikah. Satu orang bisa dapat setengah lusin undangan pada hari yang sama. Satu di Tabanan, dua di Badung, satu di Gianyar dan dua di Denpasar. 

Jadi, bayangkan para undangan itu lalu lalang di jalan raya dengan pakaian adat penuh keringat dan perut yang amat kenyang. Betapa ramainya lalu-lintas. Belum lagi ada sejumlah jalan ditutup dan lalu lintas dialihkan oleh si empunya upacara. Belum lagi di areal upacara tak ada oarkir memadai, tapi undangannya mencapai seribu orang sehingga banyak mobil besar parkir di tepi jalan.

Analisa teman saya tentang sebab-musabab kemacetan itu mungkin salah. Namun pandangan kita tentang musim kawin tetap berubah. Mungkin upacara pernikahan memang tetap sebagai ajang pesta perayaan cinta, tapi pesta apa yang bisa dinikmati dengan cara terburu-buru, pantang-panting nginjek gas dan rem karena harus menghadiri setengah lusin pesta nikah di tempat yang saling berjauhan? (*)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia