Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Nyepi Segara di Pantai Lebih, Nelayan Melaut Terancam Sengsara

14 Oktober 2019, 21: 46: 16 WIB | editor : Nyoman Suarna

Nyepi Segara di Pantai Lebih, Nelayan Melaut Terancam Sengsara

PERAHU : Tampak perahu milik nelayan di Pantai Lebih, Gianyar terparkir dengan rapi saat Nyepi Segara, Senin (14/10). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Suara ombak seakan terdengar lepas begitu saja, tanpa ada yang menghalangi arus dan gerakannya. Perahu para nelayan berjejer rapi di bibir pantai lengkap dengan sesajen yang ada di atasnya. Namun tak satu pun terdapat nelayan atau orang yang melaut di Pantai Lebih, Gianyar.

Senin (14/10), suasana Pantai Lebih memang beda dari biasanya. Hari itu tak ada nelayan melaut lantaran sedang dilaksanakan perayaan ritual nyepi segara. Salah seorang nelayan setempat, I Nyoman Wanta menjelaskan, di kawasan Pantai Lebih sedang menggelar Nyepi Segara. Senin ini merupakan hari ketiga bagi dirinya tidak melakukan aktivitas di laut. Tradisi itu pun diyakini sebagai tetamian (peninggalan leluhur) yang sudah ada secara turun-temurun.

“Dari bapak saya, bahkan dari kakek-nenek saya memang sudah seperti ini adanya. Setiap Purnama Sasih Kapat di Pura Segara dilakukan upacara agung. Nyepi segara ini berlangsung selama tiga hari, sebelum Purnama, saat Purnama dan sehari setelah Purnama,” jelasnya.

Wanta menambahkan, saat Nyepi Segara, para nelayan, pemancing sampai masyarakat umum tidak diperkenankan melakukan aktivitas di pantai hingga ke  laut. Batasannya dari timur, mulai pada aliran Tukad Sangsang, sedangkan pada bagian barat sampai aliran Tukad Udang-udang.  Lewat dari batas sungai itu, nelayan lain bisa beraktivitas seperti biasa.

Hal itu terjadi karena prosesi upacara berlangsung di Desa Lebih. Di Pura Segara  berlangsung rangkaian upacara, sedangkan di pantai rangkaian tradisinya. Mulai menghaturkan banten dan penjor di perahu. Banten yang dihaturkan terdiri atas sarana bayuan, sambutan, sampai penjor seperti penjor biyu kukung di sawah.

“Hampir sama dengan upacara mabiyu kukung di sawah, cuma beda lokasi saja. Tujuannya tidak lain sebagai ungkapan terimakasih kami selaku nelayan yang setiap hari menggunakan perahu dan lautan untuk mencari ikan sebagai nafkah kami. Maka dari itu, 200 anggota nelayan yang tergabung ke dalam kelompok Putra Samudra Lebih menghaturkan sesajen,” jelasnya.

Disinggung ketika ada yang melanggar, Wanta menyampaikan, akan kena denda berupa membayar dengan uang kepeng sebanyak 200 biji. Selain itu, diyakini perjalannnya di laut akan menemukan marabahaya dan sengsara. “Kalau ada yang mau memancing, kita juga kasi tahu bahwa sedang melakukan Nyepi Segara. Mereka pun akan pindah ke pantai lain,” imbuh Wanta.

Bendesa Adat Lebih I Wayan Wisma menjelaskan, Nyepi Segara merupakan tradisi khusus di desa adat setempat, khususnya bagi mereka yang berprofesi sebagai nelayan. Upacara di Pura Segara ini berlangsung setiap tiga tahun sekali yang disebut dengan Ngusaba Purnama Sasih Kapat.

“Ini karya tiga tahun sekali. Untuk dua tahun berturut-turut, disebut dengan wali ngungsung atau sepeng. Namun untuk Nyepi Segara dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Penyungsung pura berasal dari Desa Adat Lebih dan para nelayan,” imbuhnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia