Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pule di Pura Beten Bingin Diyakini sebagai Tempat Mohon Anak Laki-laki

15 Oktober 2019, 16: 58: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pule di Pura Beten Bingin Diyakini sebagai Tempat Mohon Anak Laki-laki

ANGKER: Pohon pule di Pura Luhur Beten Bingin Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Badung diyakini angker dan punya tuah magis. Pemamgku Pura Luhur Beten Bingin, Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja (foto kanan). (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Pohon pule yang terletak di jaba sisi Pura Luhur Beten Bingin di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Badung, diyakini sebagai tempat nunas tamba dan memohon anak laki-laki. Hal itu disampaikan pemangku Pura Luhur Beten Bingin, Jro  Mangku Nyoman Sura Atmaja, 55, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.

"Pohon Pule yang kebakaran beberapa bulan lalu, setelah mapinunas rupanya karena Ida memberi pertanda ingin diadakan upacara ngenteg linggih," urainya.


Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja, menerangkan, pura yang diempon 80 Kepala Keluarga (KK) ini,  terakhir melaksanakan ngenteg linggih 70 tahun lalu. Diakuinya, pohon yang berlokasi di Pura Luhur Beten Bingin kemagisannya kian terasa dengan banyaknya orang nunas  (memohon)  agar segera diberkati punya anak laki-laki dengan bersembahyang di depan pohon tersebut.

“Pohon ini bukan pohon biasa, stana Dewa Sangkara. Sama juga dengan yang di beringin itu,” ucap Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja. "Bukan mengada-ada, karena  kehendak Ida.  Dari empat yang datang, tiga  berhasil punya anak laki-laki. Kemudian mereka bayar kaul ke sini,” imbuh pria murah senyum ini.


Tidak hanya itu. Pohon pule ini juga menjadi tempat untuk nunas tamba (mohon obat). Orang yang nunas tamba biasanya karena dari hasil mapinunas (petunjuk dari orang pintar). Bagian babakan pohon dikerik sebagai boreh oleh pamedek (yang datang sembahyang). "Batangnya tidak dipotong. Dahulu  ada yang bawa pulang pakai kayu bakar, entah kenapa datang kembali dan membawa kayu bakar itu ke pura,” ceritanya.


Ditambahkannya, pura ini punya rencang berupa ular kobra dan macan. "Bisa dilihat di depan pohon beringin belakang pura. Kedua rencang tersebut biasa diihat oleh Jro Pundut,” ujarnya. Dikatakannya,  Jro Pundut itu yang menari pendet saat  piodalan, dan mengaku melihat sosok gaib (rencang) berupa ular dan macan.

"Saya tidak  tau apa-apa. Dia hanya cerita seperti itu, dan tidak ada persembahan khusus pada rencang karena tidak pernah melihat.  Patung itu dibuatkan secara simbolis saja," pungkasnya. 

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia