Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Upacara Aci Usaba Goreng

Usir Hama Pertanian, Warga Geriana Kangin Masiat dengan Sampian

15 Oktober 2019, 20: 50: 56 WIB | editor : Nyoman Suarna

Usir Hama Pertanian, Warga Geriana Kangin Masiat dengan Sampian

SIAT SAMPIAN: Prosesi upacara Aci Usaba Goreng di Geriana Kangin, Selat, Karangasem ditutup ritual siat sampian, diikuti 28 orang Jero Desa Sangkepan. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS -  Rasa suka-cita warga Desa Geriana Kangin, Duda Utara, Selat, Karangasem, diungkapkan melalui tradisi Matigtig. Tradisi ini merupakan rangkaian upacara Aci Usaba Goreng yang dilaksanakan selama dua pekan. Mereka saling lempar, saling serang, menggunakan sampian janur sebagai sarana upacaranya.

Sejak siang, warga Desa Adat Geriana Kangin sudah memadati pelataran Pura Puseh desa setempat. Mereka menyiapkan segala kebutuhan upacara Parejangan Sipungkur, yaitu prosesi terakhir dalam rangkaian upacara Aci Usaba Goreng di Geriana Kangin, Senin (14/10).

Aci Usaba Goreng telah berlangsung sejak 6 Oktober lalu. Ada beberapa ritual yang dilangsungkan. Selain prosesi Naruna yang melibatkan para pemuda laki-laki desa, salah satu yang unik adalah ritual Siat Sampian atau Matigtig. Ritual tersebut melibatkan 28 Jero Desa Sangkepan atau orang-orang yang mewakili para tokoh pendiri desa pada masa lampau.

Konon, ritual ini merupakan ungkapan syukur warga Geriana Kangin atas kelimpahan rejeki dan alam yang telah dinikmati. Terutama dari sektor pertanian. Di samping itu, Matigtig juga menjadi cara warga desa untuk membersihkan alam dari hal negatif. Maka, dalam prosesinya, seluruh isi alam pun disertakan dalam semua rangkaian upacara.

Sebelum Matigtig berlangsung, sekitar pukul 17.00, peserta siat sampian yang terdiri atas 28 orang tersebut mengikuti upacara mendet atau matabuh. Ini merupakan rangkaian awal dengan tujuan membersihkan area pertarungan dari para bhuta. Filosofinya, kekuatan bhuta yang ada di lingkungan sekitar, termasuk dalam diri peserta, dapat dibersihkan menjadi unsur dewa sehingga pelaksanaan siat sampian diharapkan berjalan aman.

Mendet berlangsung dua sesi dengan jumlah tiga kali dalam satu sesinya. Sesi pertama diikuti semua peserta siat. Sesi kedua, peserta dibagi dua. Tugasnya sebagai penerima air suci atau petabuhan sementara kelompok lainnya bertugas untuk mengambil petabuhan itu sambil menari sebelum akhirnya air suci ditumpahkan. Petabuhan terdiri atas air, tuak, dan arak.

Saat pemangku menuangkan air, tuak, dan arak ke dalam wadah kecil berbahan daun pisang. Warga yang membawa petabuhan langsung menyerahkannya ke kelompok selanjutnya. Begitu seterusnya sampai satu sesi berlangsung tiga kali. Saat sesi terakhir, peserta siat sampian langsung berlari menuju area utama mandala pura sambil mengambil janur yang akan dipakai berperang.

Warga yang menyaksikan turut bersorak. Para pria berjumlah 28 orang tersebut sudah membawa sampian-nya masing-masing. Ketika sampai di madya mandala pura, para pria ini langsung saling serang menggunakan sampian. Keriuhan mereka disaksikan krama atau warga di area pura. Meski saling serang, peserta tetap tertawa lepas saat prosesi berakhir.

Menurut Jro Bendesa Geriana Kangin, Jero Ketut Yasa, ritual matigtig atau siat sampian hanya melibatkan 28 orang. Ini merupakan simbol bahwa 28 orang tersebut merupakan perwakilan dari para tokoh pendiri desa yang saat ini bertugas sebagai Jero Desa Sangkepan. Kata Yasa, matigtig belum bisa diikuti oleh warga luar desa. 

"Siat sampian atau matigtig ini adalah ritual upacara. Tidak sembarang orang bisa ikut. Kami khawatirkan semacam penyusup yang hendak membuat keonaran dan kekacauan saat upacara. Ini juga ada kaitannya dengan upaya kami menjaga kesucian prosesi," ungkap Yasa.

Dijelaskan, siat sampian merupakan penutup upacara. Yang mana ritual ini adalah simbol pelengkap apabila ada hal-hal atau sarana yang dirasa kurang selama prosesi Aci Usaba Goreng berlangsung. Dengan diadakannya siat sampian, maka kekurangan yang sempat terjadi dapat dimaklumi. 

"Ini bertujuan menetralisir hal negatif. Warga yang tinggal di Desa Geriana Kangin agar diberikan kemakmuran, terutama hasil pertanian di desa tersebut selalu baik dan berlimpah. Kita lakukan ini juga sebagai ritual membersihkan pertanian dari hama. Makanya bentuk syukur kita wujudkan dengan menyertakan seluruh isi alam," jelas Yasa.

Selain itu, matigtig juga wujud terima kasih karena seluruh rangkaian Aci Usaba Goreng berjalan lancar. "Ritual siat sampian ini juga menjadi hiburan warga," kata Yasa diamini Jero Mangku Gede Nuragia dan Jero Mangku Diatmika.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia