Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Ice Breaking Meningkatkan Fokus Belajar Siswa di Sekolah

Oleh: Ni Putu Candra Prastya Dewi, M.Pd.*

16 Oktober 2019, 11: 44: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ice Breaking Meningkatkan Fokus Belajar Siswa di Sekolah

Ni Putu Candra Prastya Dewi, M.Pd. (ISTIMEWA)

Share this      

ANAK merupakan generasi penerus yang sangat penting untuk kemajuan bangsa. Seorang guru sebagai tenaga pendidik perlu berinovasi dalam mengajar, sehingga memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

Seorang guru dalam mengajarkan siswa di sekolah tentunya pernah menemui kendala-kendala atau tantangan tersendiri dalam mengajar. Salah satu tantangan yang harus dihadapi seorang guru adalah membuat siswa terfokus dalam pembelajaran, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Akan tetapi pada kenyataannya masih banyak ditemui permasalahan kurangnya fokus belajar peserta didik selama pembelajaran. Situasi ini menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang kondusif.

Kurangnya fokus belajar peserta didik salah satunya disebabkan pembelajaran yang terlalu monoton, sehingga siswa cenderung melakukan hal lain seperti mengganggu teman, tidak memperhatikan pelajaran, menggambar meskipun bukan pelajaran SBdP, atau pun hal lain untuk menghilangkan kejenuhan dalam belajar. Kemampuan menyimak dan fokus peserta didik memiliki ketahanan yang terbatas. Artinya jika ambang batas kekuatan peserta didik dalam menyimak sudah selesai, maka materi yang diberikan pun akan terbuang sia-sia dan siswa cenderung untuk tidak mampu menerima pelajaran lebih lanjut (berubah menjadi jenuh).

Ketika pikiran tidak terfokus lagi, maka segera dibutuhkan upaya pemusatan kembali. Upaya yang bisa dilakukan oleh guru konvensional adalah dengan meningkatkan intonasi suara yang lebih keras, mengancam atau bahkan memukul-mukul meja untuk meminta perhatian kembali. Upaya demikian sebenarnya justru semakin memperparah situasi pembelajaran, karena sebenarnya proses pembelajaran sangat dibutuhkan keterlibatan emosional siswa. Salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah dengan memberikan selingan yang berupa ice breaking.

Ice breaking berasal dari dua kata asing, yaitu ice yang artinya es yang memiliki sifat kaku, dingin, dan keras, sedangkan breaking berarti memecahkan. Arti harfiahnya ice-breaking adalah ‘pemecah es’. Jadi, ice breaking bisa diartikan sebagai usaha untuk memecahkan atau mencairkan suasana yang kaku seperti es agar menjadi materi-materi yang disampaikan dapat diterima. Ice breaking merupakan peralihan situasi yang membosankan, membuat mengantuk, menjenuhkan dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan kelas atau ruangan pertemuan. Ice breaking atau kegiatan hiburan memiliki jenis yang bermacam-macam dan dapat dilakukan dengan kondisi yang berbeda-beda pula. Secara umum, kegiatan ice breaking dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain: permainan, yel-yel, bernyanyi, senam, bercerita, tepuk tangan, maupun tebak-tebakan.

          Alasan yang mendasari perlunya ice breaking dalam pembelajaran, yaitu karena sifat dasar manusia yang cenderung tidak mampu berkonsentrasi dalam waktu yang sangat lama. Berdasarkan penelitian kekuatan rata-rata manusia untuk terus berkonsentrasi dalam situasi yang monoton hanyalah sekitar 15 menit. Selebihnya pikiran akan segera beralih kepada hal-hal lain yang mungkin sangat jauh dari tempat dimana dia duduk mengikuti suatu kegiatan tertentu. Otak manusia tidak dapat dipaksakan untuk melakukan fokus dalam waktu yang lama. Untuk mudahnya bisa menggunakan patokan usia. Untuk anak usia 5 tahun, rentang waktu fokus optimal yang bisa dilakukan hanyalah 5 menit, untuk anak usia 15 tahun, rentang waktu fokus hanyalah 15 menit. Bila seorang berusia 35 tahun atau 60 tahun, maka fokus optimalnya 30 menit. Jadi 30 menit adalah rentang waktu fokus maksimal agar tidak terjadi kelelahan otak yang berlebihan.

          Ice breaking sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena ice breaking berperan sebagai pemberi energi tambahan. Memanfaatkan ice breaking sebagai selingan akan meningkatkan fokus pembelajaran dari siswa. Siswa yang jenuh memikirkan pelajaran akan merasa diberi sebuah ruang untuk sejenak berfikir ringan (melupakan sebentar pelajaran yang sedang diajarkan). Pemberian ice breaking paling tepat diberikan pada waktu yang kritis, yaitu saat kondisi siswa mengalami kelelahan dan kejenuhan sangat tinggi. Kondisi ini terjadi biasanya saat mereka menerima pembelajaran yang sangat berat atau materi yang sulit atau pun pelajaran pada waktu siang hari (mendekati pulang sekolah) dan kondisi lainnya. Pemberian ice breaking juga membuat siswa lebih tertarik dengan suatu pembelajaran. Siswa akan lebih dapat menerima materi pelajaran jika suasana tidak tegang, santai, nyaman, dan lebih bersahabat.

          Contoh ice breaking yang dapat diberikan oleh guru yaitu sebagai berikut.

Jika guru pegang hidung, siswa tepuk 1x

Jika guru pegang bibir, siswa tepuk 2x

Jika guru pegang telinga, siswa tepuk 3x

Jika guru bersedekap, siswa tepuk 4x

          Dengan pemberian ice breaking di sela-sela pembelajaran diharapkan membuat siswa lebih terfokus dalam belajar. Sehingga pembelajaran yang diberikan oleh guru dapat diterima dengan baik oleh siswa. Selain itu siswa merasa termotivasi dalam belajar. Dengan begitu, tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. (*)

*) Penulis adalah Dosen PGSD STAHN Mpu Kuturan Singaraja

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia