Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Ngaben Mantan Bupati Buleleng; Dikenal Sederhana, dan Sayang Keluarga

16 Oktober 2019, 16: 37: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngaben Mantan Bupati Buleleng; Dikenal Sederhana, dan Sayang Keluarga

NGABEN: Prosesi pengabenan mendiang Ketut Wirata Sindu, mantan Bupati Buleleng Periode 1993-2002 di Setra Banyuatis, Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Suasana haru menyelimuti proses kremasi Ketut Wirata Sindu, mantan Bupati Buleleng Periode 1993-2002. Ratusan kerabat, sahabat dan warga mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhir di Setra Banyuatis, Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng pada Rabu (16/10) siang.

I PUTU MARDIKA, Banjar

RATUSAN warga sudah berkumpul sejak pukul 08.00 Wita di depan rumah almarhum. Bahkan, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana bersama Wakil Bupati, dr. Nyoman Sutjidra, Sp.Og bersama sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Buleleng juga turut mengantarkan almarhum ke setra.

Setelah prosesi ritual pengabenan di rumah duka diselesaikan, jasad mendiang langsung dinaikkan ke Bade yang sudah berdiri di pinggir jalan. Selanjutnya tepat pukul 09.00 Wita, ratusan pelayat turut mengantarkan mantan Bupati yang terkenal kerap melontarkan jargon “Singaraja Sakti” ini ke setra Banyuatis.

Duka mendalam begitu dirasakan istri mendiang, Ni Luh Nyoman Masning, 70. Ditemui di setra Banyuatis, Nyoman Masning begitu merasa kehilangan sosok pengayom keluarga. Dikatakan Masning, sebelum meninggal pada Senin (7/10) lalu, kepada dirinya almarhum sempat meminta bekal berupa makanan.

“Sempat minta bekal (makanan, Red). minta pisang, minta sayur padahal sebelumnya hampir sebulan ga mau makan. Bolak-balik rumah sakit. Nah setelah datang dari rumah sakit, sebelum meninggal sempat minta rokok satu batang,” tutur Masning kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Beberapa jam sebelum meninggal mendiang juga meminta terus didampingi sang istri agar senantiasa dekat di sampingnya. “Semua cucu, anak, dipanggil. Memang beliau mennggalnya di Ubung, Denpasar,” imbuhnya.

Lanjutnya, Masning sempat membuka memorinya ketika almarhum menjabat sebagai Bupati Buleleng selama 9 tahun. Ia menuturkan jika suaminya merupakan sosok pemimpin yang sederhana dan dicintai rakyat.

“Beliau sangat sederhana. sering bantu warga. dulu pernah ada kejadian di Banjar, beliau ke sana (Banjar, Red) hanya menggunakan sandal saja, celana pendek. termasuk tidak sudak dilayani berlebihan. Kalau di rumah juga jarang pakai baju, sederhana sekali,” bebernya.

Pun demikian ketika purna tugas sebagai Bupati Buleleng, mendiang sebut Masning masih aktif sebagai Pembina Yaysan di Universitas Ngurah Rai Denpasar. Kecintaannya pada dunia pendidikan juga membuat dirinya sangat memperhatikan pendidikan putra putrinya.

Seperti diakui putri ketiga almarhum, Dr. Nyoman Diah Utari Dewi. Kendati sempat terjun di dunia politik, namun mendiang tidak pernah abai terhadap dunia pendidikan. Mendiang sebut Diah senantiasa mendorong putra-putrinya untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Bahkan, saat sakit pun mendiang sebut Diah rela datang ke Surabaya untuk menyaksikan Promosi Doktor pada April 2019 lalu. “Bapak sakit waktu itu tapi tetap datang ke acara promosi doctor saya di Surabaya. Itu kenangan yang sulit dilupakan. dan kini saya ingin meneruskan pesan Bapak untuk tetap berkarir di dunia pendidikan di Universitas Ngurah Rai,” jelasnya.

Almarhum kini meninggalkan empat orang anak masing-masing Putu Umbara Sugiantara, Made Dwi Ning Ratnasari, Nyoman Diah Utari Dewi dan Ketut Manggala Putra. serta meninggalkan tiga orang cucu tercintanya.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana juga memiliki kenangan yang sulit dilupakan dengan mendiang Wirata Sindu. Bupati Suradnyana menyebut, jika mendiang ahli dalam berkomunikasi, khususnya gaya berkomunikasi yang sangat dekat dengan masyarakat.

“Beliau sangat disiplin, humoris dan dicintai rakyat. beliau komunikasinya sangat luar biasa. padahal dulu di era belaiu Buleleng memang sangat konservatif, dan menjaga kondisi yang kondusif di Buleleng,” ujar Bupati Suradnyana.

Sebagai tokoh yang satu kampung dengan mendiang, Bupati Suradnyana juga sering berdiskusi dan mendapat nasihat dalam memimpin Buleleng dari Wirata Sindu. mulai tata cara berkomuniasi,melakukan lobi-lobi dan pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat.

“Sebagai adiknya, beliau sering memberikan masukan, teori komunikasi untuk membangun daerah. termasuk cara pendekatan dengan tokoh-tokoh. saya banyak belajar dari belaiu,” tutupnya.

Seperti diketahui, alamrhum mengawali karirnya sebagai Kakanwil Penerangan Kabupaten Badung sekitar tahun 1975 selama sembilan tahun. Lalu, karirnya meningkat menjadi Kakanwil Penerangan Provinsi Bali dan mengabdi selama sembilan tahun.

Tidak hanya sampai di situ, dia pun mengukir karir menjadi bupati di tanah kelahirannya, Buleleng, selama sembilan tahun pula. Bahkan, pejabat yang berasal dari Banjar Tengah, Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng itu juga mendirikan Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar sekitar tahun 1979.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia