Rabu, 03 Jun 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Hujan Turun di Pura Tapang Tanda Permohonan Diberkati

17 Oktober 2019, 10: 49: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hujan Turun di Pura Tapang Tanda Permohonan Diberkati

BATU: Lingga Yoni dan sejumlah arca di Pura Tapang di Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Badung. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Menelusuri Kecamatan Mengwi di Kabupaten Badung rasanya tidak berhenti terkesima akan keunikan berbagai pura yang berdiri di berbagai desa. Jauh di utara, tepatnya di Desa Sembung, ada sebuah Pura Subak bernama Pura Tapang yang punya kisah unik.

Butuh sekitar satu jam perjalanan dari Kota Denpasar menuju lokasi. Aura asri dan naturalnya begitu terasa di Desa Sembung ini. Jalan yang lancar dan tidak macet membuat kondisi sangat bagus untuk melepas penat dari aktivitas perkotaan.  Desa Sembung memiliki bagian desa adat, yakni Desa Adat Sembung Sobangan. Di Desa Sembung Sobangan ini lah terdapat sebuah pura pangulun subak unik, tepatnya di Banjar Pempatan, bernama Pura Tapang. Dari jauh orang awam tidak akan menduga bahwa ini adalah Pura Subak. Namun, jika melihat khusus adanya jineng, maka barulah akan tersadar.

Menurut pemangku Pura Tapang, Jro Mangku I Ketut Nemer, 63, saat ditemui di kediamannya, Pura Pangulun Subak yang mempunyai nama Pura Tapang ini, berbeda dari Pura Subak lainnya. “Dahulu ada bapak-bapak dari purbakala yang mengecek ke pura ini,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) awal pekan ini.

Hujan Turun di Pura Tapang Tanda Permohonan Diberkati

Pemangku Pura Tapang, Jro Mangku I Ketut Nemer. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Dikatakannya, kedatangan tim purbakala untuk melihat arca-arca di Pura Tapang, yang kemudian  membuat kesimpulan bahwa Pura Tapang merupakan pura  bersejarah. “Bahkan katanya dibilang bisa jadi pura tertua di desa ini,” ujarnya lagi. 

Jro Mangku I Ketut Nemer, mengungkapkan, salah satu yang menarik di Pura Tapang adalah keberadaan Lingga Yoni dan beberapa buah arca batu yang terlihat ukirannya berbeda dari yang dikenal sekarang. Ukiran batunya  lebih polos dan tidak serumit ukiran arca sekarang. “Kesemua arca dan lingga yoni ditempatkan di atas palinggih khusus,” ucapnya, sambil menunjuk palingggih yang berisi papan prasasti itu.

Ditanyai mengenai kapan berdirinya Pura Tapang ini, Jro Mangku I Ketut Nemer mengaku kurang tahu. Dia pun sudah dari dahulu mendapati pura ini ada. Adapun hal yang ia bisa ceritakan tentang Pura Tapang adalah saat pembuatan palinggih. “Dahulu saat membuat palingih tidak ada batu paras di sini. Namun, saat mapikeling ingin membuat palinggih ada  keajaiban.
Tiba-tiba ada batu paras dekat pura, yang bisa dipotong dengan mudah dan dipakai membangun palinggih. Jadi, tidak memakai batu paras dari luar desa,” tambah pria yang berprofesi sebagai petani ini.

Kualitas batu paras yang ditemukan di dekat pura pun diakuinya sangat bagus. Jro Mangku I Ketut Nemer  membandingkan bahwa batu paras biasa mudah keropos,  sedangkan batu paras yang dari dekat pura kokoh dan bagus. “Beda sekali, coba lihat ini,” ucapnya sambil mengajak melihat palinggih dan tembok di Pura Tapang.
Pura Tapang diakuinya  sering kedatangan orang luar dari Banjar Pempatan. Mereka, mengaku datang untuk sembahyang karena ngiring (jadi pengusada). “Saya beri tirta panglukatan. Mereka biasanya membawa pajati, prayunan, dan prasdaksina,” terangnya.

Ketika mereka yang ngiring sedang bersembahyang, Jro Mangku I Ketut Nemer kerap melihat ada yang karauhan (trance). "Tidak hanya karauhan saja, ada fenomena aneh, dimana hujan akan turun hanya di area pura. Sedangkan di luar pura tidak ada hujan sama sekali," ujarnya. Bagi Jro Mangku I Ketut Nemer, turunnya hujan ini adalah tanda bahwa yang besembahyang mendapat restu. “Itu kan hujan dari langit, menurut saya secara niskala Bathara memberi restu,” jelasnya.
Orang yang datang bersembahyang pun bisa bersembahyang sampai jam 12 malam, sehingga Jro Mangku I Ketut Nemer pun melakukan mapikeling di Pura Tapang bahwa akan ada yang bersembahyang. “Yang datang dari luar desa biasanya, terakhir kali datang tiga bulan yang lalu. Usai sembahyang mereka membersihkan canang dan sarana sembahyang lainnya ,” paparnya.

Pura yang  piodalannya jatuh  pada Buda Cemeng Ukir ini memiliki sebuah pratima dengan bentuk lanang istri. Secara niskala, lanjut Jro Mangku I Ketut Nemer, rencang (sosol penjaga gaib) Ida di Pura Tapang adalah macan yang suaranya terdengar sayup-sayup berjalan di atas tembok pura. “Serasa mereka berjalan menyusuri tembok diikuti dengan suaranya, dan kemudian hilang,” tegasnya sambil menunjuk ke arah tembok pura.

Di utamaning Pura Tapang ada  banyak palinggih, mulai dari Palinggih Sasuhunan ring Beratan, Sasuhunan ring Pucak Dawa, Sasuhunan ring Tengah Segara, Sasuhunan ring Batu Nagus, Lingga Yoni, Ida Bathara Rambut Sedana, Ida Bathari Sri, Ida Batara Manik Galih, Ida Ratu Mas Lingsir, Ida Bathara Sankara, dan Palinggih Mpu Kuturan.

Kemudian di jaba tengah terdapat palinggih Ida Sasuhunan Ratu Mas Jogor Manik, Ida Ratu Sedahan Sawah, Ratu Mas Biang Giling, Linggih Ida Bathara Brahma, Jineng, Bale Kulkul, Bale Gong dan Sambyangan. Sedangkan  di jaba sisi terdapat Palinggih Ida Ratu Sedahan Sawah ring Pepatih Rare Angon.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news