Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Akibat Pernikahan Sedarah, Sekujur Tubuh Anak Mengelupas

17 Oktober 2019, 21: 04: 21 WIB | editor : Nyoman Suarna

Akibat Pernikahan Sedarah, Sekujur Tubuh Anak Mengelupas

MINDER : Malu ketika bertemu dengan orang Anjani, tidak mau bergaul dengan temannya. (I MADE MARTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

SEMARAPURA, BALI EXPRESS -  Nasib Ni Komang Anjani,6 sungguh malang. Anak ketiga pasangan I Nengah Suteja, 50, dengan Ni Nyoman Tika, 49 ini tidak bisa bebas bermain seperti anak seusianya. Sebab, kulit di sekujur tubuhnya mengelupas dan luka.

Ditemui di rumahnya di Lingkungan Besang Kangin, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung, Kamis (17/10), Suteja menuturkan, anaknya sudah menderita kelainan kulit semacam ichthyosis sejak lahir. Beberapa hari setelah lahir di Rumah Sakit Permata Hati, Klungkung pada 17 Mei 2013, anak tersebut sempat menjalani rawat inap selama 3 bulan di RSUP Sanglah, Denpasar. Bukannya sembuh, Anjani yang lahir dengan berat 3,2 kilogram malah semakin kurus. Hal itu membuat Suteja memutuskan mengajak anaknya pulang paksa. “Daripada semakin kurus. Penyakitnya juga tidak ada perubahan. Saya memilih pulang saja,” tutur Suteja.

Suteja mengaku, anaknya berulang kali dibawa ke dokter spesialis kulit, tapi obatnya tetap sama, berupa salep. Pun dengan pengobatan nonmedis sudah ditempuh. Sejumlah balian mencoba mendiagnosis serta mengobati penyakit anaknya, tetapi tidak ada yang berhasil. Berdasarkan keterangan dokter, menurut Suteja, anaknya mengalami kelainan genetik akibat perkawinan orangtuanya. “Katanya kelainan genetic karena saya menikah dengan sepupu,” jelas PNS di Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Klungkung tersebut.

Seiring pertumbuhan anaknya, penyakit kulit itu semakin parah. Jari tangan anak tersebut melekat satu dengan yang lainnya. Begitu pula jari kakinya lengket akibat luka. Tak jarang pakaian yang dikenakan anaknya harus digunting karena menempel di kulit. “Rambutnya sering dicukur karena nempel di kulit kepala,” terangnya. Yang lebih membuat Suteja semakin kasihan sebagai orangtua ketika melihat anaknya sampai menahan buang air besar (BAB).  Bisa seminggu hanya BAB sekali. “Duburnya luka. Sakit saat BAB. Jadi ditahan-tahan,” terang Suteja.

Saat ini, lanjut Suteja, anaknya sudah mulai minder dengan kondisi tubuhnya. Anjani yang awalnya ingin sekolah, ujung-ujungnya batal. Padahal orangtuanya sudah membelikan pakaian dengan harapan anaknya terbiasa berinteraksi dengan teman sebayangnya maupun lingkungan lainnya. Meskipun Suteja menyadari jika anaknya sekolah, perlu pengawasan ekstra. Sebab sedikit saja ada gesekan, maka akan menimbulkan luka parah. “Sekarang dia mulai mengerti, malu kalau ketemu orang,” ungkapnya.  Hal tersebut terlihat saat wartawan menyambangi di rumahnya. Anjani yang digendong ibunya tidak mau menoleh. Anak tersebut memilih diam dalam rumah. Tidak mau diajak jalan-jalan.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia