Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Bule Denmark Rusak Panunggun Karang, AWK Sebut Cederai Umat Hindu

18 Oktober 2019, 19: 37: 11 WIB | editor : Nyoman Suarna

Bule Denmark Rusak Panunggun Karang,  AWK Sebut Cederai Umat Hindu

RUSAK PALINGGIH : Potongan video pelaku Lars merusak palinggih. (ISTIMEWA)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lars Christensen, warga  negara asing (WNA) asal Denmark yang berdomisili di Desa Kalibukbuk dilaporkan ke Mapolres Buleleng. Usut punya usut, Lars dilaporkan oleh mantan istrinya bernama Ni Luh Sukerasih, 44 yang merupakan warga Desa Kalibukbuk, atas tuduhan perusakan palinggih panunggun karang dan Ganesha di rumahnya.

Perusakan itu dilakukan Lars pada Selasa (15/10) lalu. Rupanya aksi perusakan itu direkam oleh tetangga Sukerasih. Dalam video berdurasi 36 detik itu, Lars terlihat merusak palinggih dengan menendang menggunakan kaki kanannya hingga roboh. Ironisnya, aksi perusakan itu juga disaksikan oleh istri baru Lars berisinial R.

Bule Denmark Rusak Panunggun Karang,  AWK Sebut Cederai Umat Hindu

DIPERBAIKI - Palinggih yang telah diperbaiki oleh pelaku. (ISTIMEWA)

Seusai merusak palinggih, Lars bersama istrinya yang baru bergegas meninggalkan rumah tersebut dengan mengendarai mobil berwarna putih. "Dia merusak pelinggih. Daksina dan wastra yang ada di palinggih penunggun karang dilempar ke kolam. Saat kejadian, rumah dalam keadaan sepi," ujar Sukerasih.

Informasi yang dihimpun menyebutkan,  palinggih yang dirusak tersebut justru didirikan oleh Lars selaku terlapor. Kabarnya, lahan tersebut adalah milik Lars sesuai Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 83 dan No. 676 di Desa Kalibukbuk, yang saat pembelian menggunakan nama Luh Sukerasih selaku pelapor sekaligus mantan istri Lars.

Sukerasih mengaku, ia bersama Lars sudah bercerai lima tahun lalu. Sejak itu Lars memilih tinggal bersama istri barunya di Banyuwangi, Jawa Timur. Namun, ketika perusakan palinggih terjadi, Sukerasih mengaku sedang tidak berada di rumah. Pasalnya, dia sedang menginap di rumah kakaknya di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Alangkah kagetnya, pada pada Selasa (15/10) lalu, ia mendapatkan kabar dari tetangganya, bahwa mantan suaminya merusak palinggih yang ada di rumah tersebut. Mengingat posisi Sukerasih saat itu cukup jauh dari rumahnya, ia pun meminta kepada tetangganya untuk merekam seluruh tindakan yang dilakukan oleh Lars. Tak terima dengan kejadian ini, Sukerasih langsung melaporkan kasus ini ke Mapolres Buleleng, pada Selasa (15/10) sekira pukul 17.00 wita.

Namun saat dilakukan olah TKP, didapati palinggih yang sebelumnya rusak, sudah berdiri dengan bagus. Dari informasi didapatkan, perbuatan yang dilakukan terlapor adalah untuk memperbaiki atau mengganti palinggih tersebut agar lebih bagus pada Rabu (16/10) lalu.

Kendati palinggih itu sudah diperbaiki, Sukerasih tetap melanjutkan kasus ini ke polisi. Terlebih dirinya harus menanggung kerugian karena masih ada prosesi upacara lagi.  Walaupun pelaku, sebut Sukerasih, akan menanggung biaya upacaranya, pihaknya akan tetap melanjutkan kasus ini ke polisi.

"Saya sebagai umat Hindu tidak terima tempat ibadah saya dirusak. Saya ada rencana, kasus ini akan saya diskusikan dengan tokoh desa," kata Sukerasih.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Buleleng, Iptu. Gede Sumarjaya membenarkan adanya pengaduan dugaan kasus perusakan palinggih yang dilakukan oleh seorang WNA asal Denmark. Saat ini, sebut Sumarjaya, kasus tersebut masih dalam penyelidikan dengan pemeriksaan saksi-saksi. "Kami masih mengumpulkan keterangan dari pihak saksi-saksi dan pihak yang diadukan," pungkas Sumarjaya.

Perusakan palinggih itu pun lantas mendapat sorotan dari Anggota DPD RI I Gusti Arya Wedakarna. Dari rekaman video berdurasi 36 detik itu, aksi yang dilakukan Lars telah memenuhi unsur-unsur pelecehan simbol agama. Pihaknya pun berharap kasus tersebut segera diproses secara hukum. 

Ulah Lars, sebut pria yang akrab disapa AWK, tidak hanya menyakiti perasaan umat di Bali, melainkan seluruh umat Hindu di Indonesia."Tiyang selaku komite I bidang hukum DPD RI, akan berkoordinasi dengan institusi Polri. Semoga Polri bisa memproses kasus ini dengan seadil-adilnya," kata Arya Wedakarna dihubungi melalui telepon seluler, Jumat (18/10).

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak Imigrasi, memastikan status dokumen keimigrasian. Jika terbukti bersalah, ia pun mendorong pihak Imigrasi melakukan tindakan tegas sesuai dengan undang-undang keimigrasian.

 Menurutnya, sangat tidak patut merobohkan palinggih menggunakan kaki, meskipun bermaksud untuk memperbaiki palinggih yang merupakan palinggihan Ida Bhatara.

"Dalam ajaran agama Hindu itu ada namanya pralina (penghancuran). Namun, proses pralina itu harus mengunakan tata-titi yang baik. Apalagi kita kan orang timur, kita orang beradab. Jadi, sangat tidak pantas, dan saya sangat tidak setuju atas perilaku bule menendang palinggih. Kalaupun mau diperbaiki, ya harus dengan cara yang baik juga," tutupnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia