Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Rusak Akibat Gempa, Renovasi MPRB Dianggarkan Rp 198 Juta

18 Oktober 2019, 21: 05: 31 WIB | editor : Nyoman Suarna

Rusak Akibat Gempa,  Renovasi MPRB Dianggarkan Rp 198 Juta

RENOVASI : Proses renovai MPRB yang dilakukan dengan memasang bambu, terlihat seperti instalasi bambu. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB) terlihat berbeda dalam beberapa hari terakhir ini. Di sekeliling monumen tersebut, terutama di bagian utamanya yang menyerupai bajra, terlihat penuh bambu. Hal ini menyusul kegiatan renovasi di bagian atas monumen tersebut.

Susunan bambu sedemikian rupa itu sengaja dibuat sebagai pijakan bagi para tukang yang akan melakukan perbaikan. Seperti dikatakan Kepala UPTD MPRB, Putu Suka Redaya saat dikonfirmasi Jumat (18/10), renovasi itu dilakukan untuk memperbaiki bagian cincin di bawah menur yang rusak akibat gempa tahun pada 2018.

“Kami memperbaiki bagian yang rusak akibat gempa pada 2018. Dari selatan, kerusakannya kelihatan. Masih nyangkut di atas. Tapi kalau terus-terusan gempa, kami khawatir tingkat kerusakannya tambah parah,” sebut Suka Redaya.

Dia menjelaskan, proses perbaikan tersebut akan berlangsung selama 60 hari kerja, dimulai sejak 8 Oktober 2019 lalu. Proses perbaikan ini akan dilakukan oleh CV Trijaya Utama dengan biaya perbaikan sekitar Rp 198 juta.

“Sejatinya (renovasi) sudah diusulkan dalam anggaran induk tahun ini. Tapi baru bisa direalisasikan pada anggaran perubahan sekarang. Lagipula, untuk melakukan perbaikan dengan tingkat kesulitan yang tinggi, juga perlu waktu dan proses,” imbuhnya.

Dengan adanya perbaikan yang sedang berlangsung saat ini, diakuinya, akan berpengaruh pada tingkat kunjungan ke MPRB. Untuk kenyamanan pengunjung, pihaknya melakukan permakluman. “Dalam sehari sekitar 500 sampai 600 kunjungan. Dominan pengunjung domestik. Khususnya pelajar dari Jawa yang melakukan karya wisata,” jelas Redaya.

Sedangkan khusus untuk mereka yang ingin melakukan pre wedding, dia menyebutkan bahwa kemungkinannya akan berkurang. Sebab selama ini MPRB kerap dipakai sebagai lokasi pengambilan foto pranikah. “Pastinya akan berpengaruh,” tukasnya.

Sekadar diketahui, MPRB dibangun di areal Niti Mandala, Renon, Denpasar, persisnya di tengah Lapangan Puputan Margarana. Luas bangunan monumen berbentuk bujur sangkar tersebut, 70 x 70 meter.

Sesuai namanya, monumen itu dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap sejumlah perjuangan di Bali. Salah satunya Puputan Margarana yang dipimpin Letkol I Gusti Ngurah Rai.

Di dalam monumen itu tersaji berbagai diorama perjuangan rakyat Bali dan sejarah pada masa lampau atau prasejarah.

Monumen itu mulai didesain awal 1981. Proses pembuatan desainnya dilakukan melalui sayembara. Pemenangnya adalah Ida Bagus Gede Yadnya. Dia seorang arsitek yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Pada 1988, proses pembangunan mulai ditandai dengan peletakan batu pertama. Sayangnya, jalannya pembangunan monumen ini tidak mulus. Pada 1997, proses pembangunannya terkendala depresiasi rupiah. Sehingga baru pada 2001, bangunan monumen itu bisa diselesaikan.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia