Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Target Habisi Selingkuhan Istri Siri, Rudianto Beli Pisau di Surabaya

18 Oktober 2019, 21: 59: 34 WIB | editor : Nyoman Suarna

Target Habisi Selingkuhan Istri Siri, Rudianto Beli Pisau di Surabaya

TARGET PIL: Rudianto saat ditunjukkan kepada awak media di Mapolresta Denpasar Jumat (18/10). Dia mengaku menyesal membunuh istri sirinya, karena yang menjadi target adalah PIL istrinya. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS  - Misteri motif pembunuhan oleh Rudianto, 38, terhadap istri sirinya, Halimah, 27, mulai terkuak. Dia nekat menikam Halimah hingga tewas lantaran sakit hati diselingkuhi. Tersangka yang berasal dari Sampang, Madura ini sendiri sudah menjalani pemeriksaan intensif hampir seminggu oleh penyidik Polresta Denpasar. Satu fakta baru terungkap, tersangka rupanya membidik selingkuhan Halimah sebagai target utama.

Keberadaan pria idaman lain (PIL) dalam hubungan Rudianto dan Halimah itu diungkapkan oleh Wakapolresta Denpasar AKBP Benny Purnomo. ”Motif pembunuhan yang mendasari tersangka karena korban memiliki PIL (Pria Idaman Lain)  yang membuat tersangka cemburu,” ungkap AKBP Benny dalam gelar kasus di Mapolresta Denpasar, Jumat (18/10).

Kecemburuan korban bertambah dengan sakit hati karena secara terang-terangan korban mengaku selingkuh. “Saya tahu dari dia (Halimah) langsung, dia bilang transfer saja uangnya. Ya terserah, saya mau nikah atau tidak,” jelas tersangka.

Rudianto juga mengaku selalu ditipu oleh tersangka perihal tempat tinggalnya di Denpasar. “Saya selalu dibohongi. Saya tanya alamatnya, dia selalu menyebut alamat yang bukan tempat tinggalnya. Dia bilang di Jimbaran, saya ke sana cari tidak ada. Dia juga bilang di Jalan Sedap Malam Nomor 18, saya cari alamat itu, ternyata Sedap Malam Nomor 18 tersebut bukan tempat kos,” beber Ruddi.

Saat dikonfirmasi kapan pertama kali bertemu dengan korban, tersangka mengaku awalnya bertemu di tempat proyek bangunan, saat mengerjakan proyek. ”Pertama kali bertemu di proyek, kemudian kami menikah siri,“ jawab tersangka.

Menariknya, menurut Rudianto, Halimah dan selingkuhannya yang bernama Wawan sudah menikah secara siri. Sekadar diketahui, menikah siri merupakan terminologi yang kerap digunakan untuk menyebut pernikahan secara agama dan tidak tercatat di Kantor Urusan Agama. Namun, menikah kali kedua tanpa memutuskan hubungan dengan suami sebelumnya, tentu pernikahan menjadi tidak sah. “Dia selingkuh dengan laki-laki bernama Wawan, yang sering ke kos dia, dan mereka sudah menikah siri,” beber tersangka.

Tersangka sebenarnya sejak awal menarget Wawan untuk dihabisi, bukan istrinya. “Sebenarnya tidak ada maksud. Yang saya target itu Wawan,” ungkap tersangka. Bahkan dia sengaja menyiapkan pisau khusus.

Hal tersebut dibenarkan AKBP Benny. “Dia sebenarnya menarget Wawan yang merupakan PIL istrinya. Pada 14 Oktober tersangka berangkat dari Probolinggo ke Denpasar untuk mencari korban. Setelah sampai di Denpasar, tersangka menghubungi korban dan mengajak bertemu di Pasar Kreneng. Ketika bertemu, keduanya ribut di TKP (Pasar Kreneng).  Tersangka emosi lalu menusuk korban berkali-kali dengan pisau yang dibeli di Surabaya,” rinci Benny.

Sementara itu, jumlah tikaman ternyata jauh lebih banyak dari dugaan awal. Berdasar hasil forensik, jumlah tikaman sebanyak 14 tusukan. Tiga luka tusukan di punggung, satu tusukan di dada kanan, satu tusukan di dada kiri, enam luka tusukan di bagian perut, dua tusukan di paha kiri, dan satu tusukan di paha kiri belakang. “Penyebab kematian korban karena luka tusukan di perut kiri yang mengenai hati korban dan menimbulkan pendarahan,” terang Benny lagi.

Ketika dikonfirmasi apakah Wawan sebagai PIL dari korban juga akan diperiksa, Benny menjawab masih dikembangkan. “Masih kami cari,” jawab Benny.

Namun demikian, tersangka tidak dijerat dengan pasal pembunuhan berencana. Dia dikenakan pasal pembunuhan dan penganiayaan yang menyebabkan kematian. “Kita kenakan Pasal 338 KUHP, merampas nyawa orang lain dengan ancaman paling lama 15 tahun, dan Pasal 351 Ayat (3) KUHP penganiyaaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman paling lama 7 tahun,” tutup Benny

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia