Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Pameran Bali Megarupa Diikuti 103 Seniman Lintas Rupa

18 Oktober 2019, 22: 43: 53 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pameran Bali Megarupa Diikuti 103 Seniman Lintas Rupa

PAPARKAN PAMERAN: Kepala Dinas Kebudayaan Bali Wayan “Kun” Adnyana (dua dari kiri) memaparkan rencana pelaksanaan Pameran Seni Rupa Bali Megarupa, Jumat (18/10). (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebuah pameran seni rupa bertajuk Bali Megarupa akan digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Pameran ini diklaim sebagai event seni rupa terakbar.

Pameran yang akan dilaksanakan 22 Oktober 2018 hingga 9 November 2019 itu diikuti 103 seniman lintas rupa. Diselenggarakan di empat tempat yakni, Museum Puri Lukisan, Museum Neka, Museum ARMA, dan Bentara Budaya Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan Adnyana menyebutkan, pameran ini sebagai salah satu program Pemprov Bali dalam menerjemahkan pemajuan bidang kebudayaan, khususnya di bidang seni rupa dalam kerangka Pola Pembangunan Semesta Berencana Provinsi Bali.

“Event ini lahir dari aspirasi perupa Bali dalam berbagai kesempatan dan forum. Betapa seni rupa di Bali selama ini terabaikan. Tidak sepenuhnya diakomodasi dalam event-event yang dilaksanakan pemerintah,” sebut Adnyana dalam keterangan pers yang digelar di kantornya, Jumat (18/10).

Karena itu, sambung Kun (sapaan akrab Adnyana), Bali Megarupa digelar sebagai upaya perdana sekaligus terobosan untuk mengakomodasi aspirasi tersebut. Terlebih dunia seni rupa di Bali memiliki potensi yang cukup besar. Bahkan dalam perkembangan sejarahnya, dunia seni rupa di Bali telah ada pada masa-masa kerajaan.

“Kalau ditarik jauh ke belakang, dalam beberapa prasasti, seni rupa di Bali menunjang kemegahan dari kerajaan-kerajaan yang ada. Artinya, seni rupa di Bali ini sudah lebih awal berkontribusi jauh sebelum republik ini ada,” ujar pria yang berlatar belakang akademisi sekaligus perupa ini.

Dalam perkembangannya, dunia seni rupa di Bali bahkan sempat menjadi tolok ukur perjalanan kesenimanan dari beberapa perupa nasional bahkan internasional. Masa-masa itu mencapai puncaknya di era 80-an. Sejumlah tempat di Bali macam Ubud dan Batuan di Gianyar, serta Denpasar, menjadi lokasi dari pameran sejumlah perupa luar Bali.

“Banyak yang hebat, tapi tidak cukup puas diri kalau tidak menampilkan karya di Bali. Malah, Affandi dan Hendra Gunawan sampai bermukim di Bali. Tapi aura itu hilang sejak 90-an akhir. Salah satunya disebabkan tidak ada peran pemerintah dalam menyediakan ruang, sehingga Jogjakarta dan Bandung tampil melesat,” ujarnya.

Melihat sejarah panjang seni rupa Bali serta kontribusinya tersebut, Bali Megarupa yang digelar untuk pertama kalinya merupakan jawaban atas aspirasi serta ruang terhadap seni rupa yang selama ini terpinggirkan. “Ini rintisan. Setidaknya memberi jawaban atas aspirasi para perupa di Bali. Ini musim semi yang baru (bagi seni rupa di Bali). Ruang ekspresi baru,” tukasnya.

Dia menambahkan, harapan dari pelaksanaan pameran ini adalah lahirnya karya bermutu, original, unggul, dan berkarakter serta menjadi ajang edukasi dan apresiasi bagi publik. Pameran ini juga merupakan ruang dari perjalanan atau dinamika seni rupa Bali dari tradisi hingga kontemporer.

Agenda tahunan ini dirancang untuk menjadi etalase terhadap karya-karya seni rupa lintas batas, diterapkan secara multimedia, dengan ragam capaian ekspresi pribadi maupun komunal.

Rencananya, pameran dengan tema Tanah, Air, dan Ibu ini akan dibuka Gubernur Bali Wayan Koster. Dalam pembukaannya nanti akan ditampilkan Ritus Seni Tarirupabunyi ‘Kidung Megarupa’ karya Nyoman Erawan yang didukung sejumlah seniman lintas bidang.

Dalam perjalanannya, pameran ini juga melalui proses kurasi. Adapun kuratornya terdiri dari Wayan Sujana “Suklu”, Warih Wisatsana, Made Susanta Dwitanaya, dan Wayan “Jengki” Sunarta.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia