Kamis, 27 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Angin Gusty Obok-obok Pura dan Rumah di Besakih

20 Oktober 2019, 17: 24: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Angin Gusty Obok-obok Pura dan Rumah di Besakih

ROBOH: BPBD Karangasem bersama tokoh adat setempat meninjau bangunan di pura-pura kawasan Besakih yang roboh akibat angin gusty, Minggu (20/10). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Belum usai kemarau panjang yang membuat warga sampai menjerit, angin kencang kali ini kembali membuat masyarakat risau. Tiupan angin ikut memporak-poranda sebagian wilayah Karangasem. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem dibuat kelimpungan.

Berdasarkan data pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, fenomena yang melanda Karangasem dan sebagian wilayah Bali lainnya diakibatkan adanya peningkatan kecepatan angin secara tiba-tiba akibat pemanasan permukaan bumi yang tidak merata. Angin itu disebut gusty.

Sabtu (19/10), angin gusty bertiup di dataran tinggi Karangasem. Endapan abu vulkanik sisa letusan Gunung Agung turut ditiup angin. Menyebabkan debu beterbangan di sekitar lereng gunung. Sebagian wilayah juga mendapatkan dampak dari tiupan angin tersebut.

Terhitung sudah dua jenis bencana yang terjadi pada Sabtu (19/10) sore. Yakni angin kencang dan kebakaran lahan. Beberapa bangunan di Pura Pengubengan dan Pura Catur Lawa Ida Ratu Dukuh di kawasan suci Pura Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, serta sejumlah rumah warga rusak. Kerugian ditaksir ratusan juta rupiah.

Kemudian kebakaran lahan sempat terjadi di wilayah hutan Dusun Belong bagian atas, Desa Ban, Kecamatan Kubu. Namun titik api masih jauh dari pemukiman masyarakat. Berdasarkan koordinasi bersama Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Daya, titk api semakin mengecil, Minggu (20/10).

BPBD Karangasem sudah menginventarisir jumlah kerugian yang diakibatkan tiupan angin gusty. "Bangunan yang rusak di Pura Pengubengan Besakih berupa Bale Pesandekan. Itu roboh total dan Bale Panggungan mereng 10 sampai 15 centimeter. Kerugiannya Rp 500 juta," jelas Sekretaris BPBD Karangasem Eka Tirtana, Minggu (20/10) sore.

Sementara itu, angin gusty juga merusak Bale Pesayuban berukuran 8x4 meter di Pura Catur Lawa Ida Ratu Dukuh Besakih. Akibatnya kerugian mencapai Rp 50 juta. Selain merusak pura, sebuah warung dan dapur warga diobok-obok angin kencang. Pos pecalang di Objek Wisata Bunga Edelweis, Banjar Temukus, Besakih, juga rusak. Bahkan salah satu rumah di banjar tersebut tertimpa pohon cengkih setinggi 15 meter. 

"Perbaikan sudah kami bantu. Ada pula yang memperbaiki sendiri. Untuk meringankan beban warga, BPBD Karangasem memberi sumbangan kebutuhan pokok, makanan gizi, dan alat tidur kepada warga," ungkap Eka.

Di lokasi terpisah, kebakaran lahan sempat terjadi di hutan RPH Daya Dusun Belong, Desa Ban, Kubu, Karangasem, Sabtu (19/10). Meski demikian, upaya pemadaman berhasil dilakukan. Titik api sudah mulai berkurang. 

Sementara itu, Kepala Bidang Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman menyebut, fenomena angin kencang itu disebut angin gusty. Berdasar data, kecepatan angin berkisar 15 knots atau 28 km/jam. 

Kata Iman, angin kencang disebabkan adanya pemanasan yang tidak merata di permukaan bumi, menyebabkan terbentuknya daerah yang bertekanan udara lebih rendah daripada sekitarnya. "Adanya daerah tekanan rendah ini akan mengakibatkan massa udara disekitarnya bergerak lebih cepat, sehingga dirasakan seperti angin kencang (gusty)," jelas Iman. 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia