Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Sawah Kekeringan, Petani di Gianyar Menjerit

25 Oktober 2019, 14: 21: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sawah Kekeringan, Petani di Gianyar Menjerit

KERING KERONTANG: Salah satu petak sawah milik petani di Subak Batuan, Kecamatan Sukawati yang mengalami kekeringan kemarin. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Musim kemarau panjang menyebabkan petani menjerit. Sawah di sejumlah daerah kekeringan parah. Karena tak ada lagi sumber air. Salah satunya seperti terjadi di areal persawahan Kelompok Tani Karang Suwung Desa Batuan, Kecamatan Sukawati dan Subak Sindu, Desa Sayan, Ubud yang mengalami kekeringan. 

Ketua Kelompok Tani Karang Suwung Desa Batuan, I Ketut Narta menjelaskan kekeringan yang dialaminya saat ini berdampak pada lahan pertaniannya. Penyebabnya pun karena musim kemarau berkepanjangan yang membuat debit air irigasi ikut berkurang juga. "Kami biasanya mengandalkan air rembesan atau buangan dari hulu. Kalau biasanya mengalir dan melimpah. Sedangkan sekarang sumber air memang kecil, bahkan tidak ada sama sekali," jelasnya Kamis (24/10).

Lanjut dia, lahan yang terlanjur digemburkan menggunakan traktor, katanya sudah berdasarkan kesepakatan kelompok tani. Karena para petani tidak pernah mengira akan mengalami musibah kekeringan seperti saat ini. Meskipun diakui beberapa saat ada pembagian air, namun jumlahnya tidak cukup untuk menanam padi. "Dari awal tanam air sudah minim, tapi petani sepakat menggarap lahan. Maka ditraktorlah semua, ternyata setelah itu air tidak ada. Ini tumben kami alami, kalau padi kan airnya harus tergenang. Kalau airnya sedikit kan susah,"  terangnya.

Para petani masih berharap ada aliran air, terlebih dua unit traktor dibiarkan parkir di tengah lahan. Karena selama sebulan tidak menggarap lahan, para petani pun mencari kesibukan lain. Seperti misalnya melukis, mengasuh cucu hingga menjaga toko furnitur.

"Kita masih nunggu air, seharusnya di bulan-bulan ini sudah hujan, kalau prediksi sasih rasanya bulan depan pas sasih kalima. Dalam setahun bisa dua sampai tiga kali panen. Ada jeda 1-2 bulan, kita bebaskan apakah mau ditanam jagung, cabe atau tumpang sari yang lain. Tapi dominan lahannya dikosongkan selama jeda itu. Sehingga di sini total cuma nanam padi," pungkasnya. 

Sekitar 7 hektare lahan yang digarap 17 petani  pada kelompok tani itu dipastikan gagal panen. Bahkan para petani rata-rata mengalami kerugian antara Rp 3-4 juta per lahan. Selain di Batuan, di Subak Sindu, Desa Sayan, Kecamatan Ubud juga mengalami kekeringan yang serupa.

Kepala Dinas Pertanian Gianyar, I Made Raka menyampaikan khusus di Subak Sindu pada sawah yang kering tengah tumbuh padi pada fase sekitar 12 hari. Terlebih wilayah itu mengalami kekeringan pada tanah sawah, namun belum sampai terjadi titik layu permanen pada tanaman padi. Ditambahkan ketika nanti hujan turun, atau mendapat pembagian air dikatakan dapat tumbuh normal kembali. 

"Penyebab kekeringan karena sedang musim tanam serentak. Pembagian pergiliran pemanfaatan air, musim kemarau panjang, dan posisi subak ini terletak paling ujung dari jaringan irigasi subak Sayan sehingga memperoleh air paling sedikit," imbuhnya.

Kekeringan lahan juga terjadi di sejumlah kecamatan di Karangasem. Debit air yang mengecil membuat lahan-lahan tidak teraliri air maksimal.   Pun jika suplai air mencukupi, air tetap tidak dapat mengaliri sawah lantaran saluran irigasi sebagian besar masih berupa tanah. Air terserap ke tanah sehingga aliran ke sawah tidak merata.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Karangasem tengah berupaya merabat beton irigasi pertanian yang masih berupa tanah. Bahkan usulan dari kelompok petani di beberapa subak akan ditindaklanjuti.

Kepala Bidang Sumber Daya Air PUPR Karangasem I Made Wiguna menyebut, ada 71 kilometer saluran irigasi sudah berupa beton. Semua tersebar di Kecamatan Sidemen, Abang, Bebandem, dan Manggis. Bahkan saluran irigasi di kawasan perkotaan seperti Kecamatan Karangasem juga masih berupa tanah.

Ini tentu akan berdampak baik bagi distribusi air dari sumber air menuju lahan pertanian. Sebab air tidak mudah terserap sehingga suplai air berjalan maksimal.

"Beberapa saluran irigasi masih berupa tanah ada di lahan yang jauh dari jangkauan. Misalnya beberapa kilometer dari jalan raya. Rekanan kami masih sulit melakukan perabatan," ujar Wiguna kemarin.

Berdasarkan data, saluran irigasi di Karangasem sepanjang 289 kilometer. Sedangkan 71 kilometer sudah berupa beton. Sisanya sedang dalam tahap pengerjaan berupa pemasangan batu kali dan rabat semen. "Ini akan membuat air dapat mengalir lancar sampai hilir. Kalau tanah tidak bagus untuk pengairan pertanian," imbuhnya.

Untuk memaksimalkan pengerjaan, Dinas PUPR akan mengusulkan pengerjaan ke Dinas PU Provinsi Bali. Sedangkan pemerintah kabupaten akan mengerjakannya bertahap. Estimasinya, dalam satu tahun perabatan irigasi dapat dikerjakan 7 kilometer. 

Wiguna menambahkan, jika semua saluran irigasi sudah dibeton, dia optimistis persoalan kekeringan tidak akan mengganggu pertanian. Sebab, sekalipun debit air mengecil, meski masih mampu mengalir, lahan pertanian akan mendapat air secara merata karena suplai air lancar. "Tidak ada lagi resapan air. Semua dapat teraliri," pungkas pejabat asal Sidemen, Karangasem ini.

(bx/ade/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia